
Hideki tahu keunikkan batu giok itu, tetapi sayangnya tidak berguna bagi orang biasa. Hanya dengan mendengar cerita tentang pengalaman legendaris dari Dewa Perang dari Barat Laut, ia pun menduga bahwa batu giok ini mungkin berguna bagi Handoko, dan ternyata, yang ia tebak benar!
"Lina, ayo segera berterima kasih pada Tuan Handoko," teriak Hideki.
Lina telah melihat kekuatan Handoko, dan tentu saja dia bersedia. Ketika hendak membungkukkan badan dan berterima kasih padanya, tiba-tiba ia memikirkan sesuatu, dan bertanya: "Apa Anda ingin mengajariku senam rejimen?"
Handoko menahan senyum dan mengangguk, "Ya benar."
Lina tercengang. Sebelumnya, dia mengolok-olok senam rejimen dengan mengatakan bahwa ayam pun tidak mati oleh pukulan yang lembut itu, senam ini hanya digunakan untuk mendekati dan menipu gadis, tetapi sekarang ia harus mempelajarinya. Bukankah ini sama dengan menampar wajah sendiri? Sungguh memalukan!
“Sudah bagus Tuan Handoko ingin mengajarimu, apa kamu masih mau pilih-pilih? Kata Hideki dengan marah.
Gadis bodoh ini, meremehkan senam rejimen yang diciptakan sendiri oleh Kepala Instruktur!
“Terima kasih, Tuan Handoko, aku akan datang tepat waktu besok pagi.” Lina berkata dengan mimik muka serius.
Kakek tidak akan menipunya, senam rejimen pasti memiliki keunikkannya sendiri! Perjalanan Hideki kali ini telah melampaui harapannya, dia pergi bersama putra dan cucunya.
Sasha sangat menyukai liontin itu, sebagai ayahnya pun Handoko sedikit iri dengan keberuntungan putrinya. Dapat dilihat bahwa jalan pelatihan spiritual Sasha sungguh tak terbatas!
"Apakah tadi ada tamu? Mengapa sudah pergi?" Lidya dan Susan berjalan keluar dari dapur.
"Seorang kakek tua, dia sepertinya tinggal di Permata Residence, dan memberikan hadiah kepada Sasha," jawab Sarah dengan suara keras.
Lidya menggendong Sasha dan melihat liontin giok cucunya, "Bagaimana kamu bisa menerima hadiah tanpa alasan? Ini jelas tidak murah."
Handoko berkata dalam hati: “Bukan hanya tidak murah, liontin giok ini hanya ada satu di dunia!”
“Handoko, apakah mereka memohon sesuatu padamu?” Lidya bertanya.
“Kakak akan mengajarinya senam rejimen saat latihan pagi!” Sarah bergegas menjawab.
Lidya barulah menghela nafas lega, takut putra angkatnya akan mendapat masalah, dan menasihati: "Karena kamu telah berjanji kepada orang lain, jadi jangan asal-asalan, mengerti?"
“Jangan khawatir, Bu, aku tahu harus bagaimana.” Handoko senang mendengar omelan ibu angkatnya.
Banyak sekali hal yang baru ia sadari dan hargai setelah kehilangannya. Handoko yang tidak memiliki ayah dan ibu sejak masa kanak-kanak, sangat menghargai rasa kekeluargaan ini.
"Kamu sudah dewasa, ibu tidak akan mencampuri kehidupanmu, ibu hanya ingin tahu rencana masa depanmu, apakah kamu akan mencari pekerjaan lain atau mengurus bisnis keluarga kita?" Lidya bertanya.
Handoko dan Susan saling memandang dan tersenyum: "Aku telah memutuskan, aku akan menjadi sopirnya Susan."
"Begitu juga bagus.....eh..tunggu, Susan sudah bisa naik mobil?!" Lidya tiba-tiba bereaksi!
"Ya, aku tidak takut kalau kakak yang mengemudi." Susan memberikan jawaban yang pasti.
__ADS_1
“Syukurlah, sekarang kamu bisa pergi kemanapun kamu mau.” Lidya meneteskan air mata kegembiraan.
Dua anak ini sungguh tidak mudah, akan lebih baik lagi jika Susan dapat memulihkan ingatannya!
“Ibu sudah berjanji untuk tidak menangis, kehidupan di masa depan akan semakin baik.” Handoko menyeka air mata ibu angkatnya.
Lidya mengangguk, memeluk Sasha, dan menatap anak-anaknya, ini baru seperti sebuah keluarga. Setelah istirahat sejenak, Handoko mengantar Susan untuk bekerja, dan Sarah juga akan pergi ke sekolah. Dengan adanya Handoko yang menjaga Sasha, Chandra dan Lidya sepenuhnya bebas untuk menikmati kehidupan yang seharusnya dinikmati orang tua yang telah pensiun.
Mobil Bentley memasuki Grup Tanujaya dengan stabil, dan Handoko untuk pertama kalinya tampil di grup. Setelah gejolak empat tahun lalu, Keluarga Tanujaya yang bangkrut memulai transformasi bisnis dan berhenti menjual bahan bangunan. Oleh karena itu, semua karyawan grup adalah wajah baru, dan tidak ada satu pun yang Handoko kenal. Demikian pula, tidak ada yang mengenalnya.
"Kakak, jika kamu bosan, bawa Sasha ke Sekretaris Clarinta untuk dijaga....." kata Susan.
“Tidak, Sasha begitu imut, aku sangat menyukainya, mana mungkin aku bosan?” Handoko menggelengkan kepalanya berulang kali.
Kehidupan dulu diisi dengan pertempuran di medan perang, dan ini adalah kehidupan yang aku dambakan sekarang! Susan merasa tidak baik mengambil waktu kebersamaan Handoko dengan Sasha, melihat begitu bahagiannya mereka, ia tidak berkata apa-apa lagi.
Grup Tanujaya baru saja melakukan transformasi bisnis dan sekarang sangatlah sibuk, Susan sangat fokus dalam pekerjaannya.
Handoko menggendong Sasha meninggalkan kantor.
"Sekretaris Clarinta, bisakah Anda mencari ruangan yang lebih tenang untukku?"
Saatnya mengajari putrinya untuk berlatih auranya.
Clarinta Ramaniya mengangguk dan berkata, "Baik, silahkan ikut denganku."
“Terima kasih, kamu boleh pergi.” Handoko berterima kasih padanya.
“Sama-sama.” Clarinta Ramaniya berbalik dan pergi.
Handoko membawa putrinya duduk di sofa dan mendengar seseorang berbicara dengan Sekretaris Clarinta di luar.
"Clarinta, siapa Si Toy boy tadi?"
"Jangan bertanya, lakukan pekerjaanmu dengan baik."
"Kenapa kamu begitu serius? Bukankah dia cuma orang yang tahunya mengandalkan wanita? Pria yang tidak tahu melakukan hal yang berguna, hanya bisa menjaga anak."
"Naila, tutup mulutmu yang bau itu, jangan pikir aku tidak tahu hal menjijikkan antara kamu dan Prathama Tjandrawinata."
"Jika kamu tidak ingin mengatakannya, ya sudah, buat apa meneriaki aku..."
Handoko sedikit menggerakkan alisnya, demi Susan, memang perlu rasanya untuk menyelidiki detail latar belakang semua karyawan di Grup Tanujaya ini. Dia mengeluarkan liontin dan berkata dengan lembut,
"Paman akan mengajarimu mengendalikan serangga, oke?"
__ADS_1
"Baik!" Sasha kegirangan.
Latihan Rahasia Langit sangat istimewa, dan tidak ada bahasa atau ekspresi tertulis. Handoko dengan hati-hati memegang tangan putrinya, menggunakan energinya sebagai panduan.
"Sasha hati-hati dan ingat ke mana serangga pergi."
Handoko hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium ekspresi seriusnya yang imut. Karena afinitas darah dan bakat dasar yang sama, Sasha dengan cepat memasuki kondisinya.
Berfokus pada pelatihan, waktu berlalu dengan cepat. Beberapa jam kemudian, Handoko berhenti membimbing, dan Sasha sudah bisa mengatur auranya sendiri.
Tahap kedua dimulai dengan sangat lancar, tidak akan lama lagi, putriku dapat melatih energi pertamanya!
Tiba-tiba ada pertengkaran di luar!
"Susan, kau wanita jalang, keluar kau!"
Ekspresi Handoko menjadi suram.
Sasha fokus pada latihan dan tidak boleh diganggu, Handoko diam-diam keluar dari ruangan, ia ingin melihat siapa yang ingin mencari mati di sini.
"Oh, aku kira kenapa tidak keluar, ternyata sedang berselingkuh, kapan kau memelihara Toy boy?"
Seorang wanita yang memakai pakaian dan aksesoris bermerek dengan nada suara yang aneh menggandeng seorang bocah laki-laki yang berumur kira-kira empat tahun di sampingnya.
Mata Handoko semakin dingin, dan Susan bergegas keluar dari kantor untuk menghentikannya.
"Kakak, jangan gegabah, dia adalah saudara perempuan Prathama Tjandrawinata, dan suaminya adalah keluarga Setyawan!"
Tidak heran Susan begitu khawatir, ternyata adalah keluarga Setyawan, salah satu dari lima keluarga paling terkemuka di Pulau Jawa. Handoko tidak menyangka keluarga Tjandrawinata memiliki relasi seperti ini. Namun, keluarga Setyawan tidak hadir untuk memberi ucapan selamat kepada keluarga Tjandrawinata pada perayaan hari jadi waktu itu, ternyata menantu keluarga Setyawan hanya begitu-begitu saja.
“Hei Pelacur, panggilanmu cukup mesra ya, apakah dia kakak selingkuhanmu?” ucapan Tisna Tjandrawinata sangat kejam.
Ketika dia mendengar bahwa dua saudara laki-lakinya ditangkap satu demi satu, dan Prathama Tjandrawinata mungkin dihukum berat karena perbuatannya, makanya dia datang ke Grup Tanujaya untuk menghina Susan.
Mengandalkan statusnya sebagai menantu Keluarga Setyawan, mana mungkin ia menempatkan Handoko yang membuat keributan di perayaan itu di matanya.
Keluarga Ramadhani sudah turun tangan, dan jika keluarga Setyawan juga turun tangan, keluarga Tanujaya pasti akan berakhir!
“Paman, apakah kamu tidak ingin Sasha lagi?” Sasha dengan mata redup, bangun melihat Handoko menghilang, segera berlari keluar dari kamar dengan cemas. Handoko segera menggendongnya dan ketika ia bersiap-siap menenangkan emosi Sasha, bocah laki-laki berusia empat tahun itu berteriak.
"Anak liar, tidak punya ayah, dasar cengeng, malu lho!"
Wajah Handoko tiba-tiba penuh niat membunuh!
Apakah tidak cukup menghina Susan, sekarang anak kecil pun tidak dilepaskan?! Perkataan semacam ini pasti diajarkan oleh orang dewasa!
__ADS_1