
Standar profesi profesor dari Institut Logistik Umum tidak perlu diragukan, dan kesimpulan diagnosis Ozawa hampir mewakili hasil akhir pemeriksaan.
Handoko tidak bisa menahan keresahan di dalam hatinya, bahkan menghadapi pengepungan dari dua dewa perang dari negara musuh pun dia tidak pernah merasa segugup ini.
“Pasien sudah sadar, tetapi hasil diagnosisnya tidak terlalu bagus.” Ozawa menggelengkan kepalanya.
Ekspresi wajah Chandra dan Lidya berubah!
“Profesor Ozawa, tolong jelaskan dengan detail.” pinta Handoko.
Definisi "tidak begitu bagus" tidak mutlak.
"Aku telah melihat catatan medis sebelum aku datang ke sini, dikombinasikan dengan kondisi pembentukan gangguan stres dan reaksi terhadap timbulnya penyakit, pada dasarnya dapat ditentukan, itu bukan masalah di bidang medis." Ozawa menyimpulkan.
“Jadi apa masalahnya, bisakah disembuhkan?” Lidya menangis dengan cemas.
“Bu, jangan khawatir, mari dengarkan kata-kata Profesor Ozawa dulu.” Handoko menghibur.
Ozawa sedikit terdiam, seolah sedang mengatur bahasanya.
"Selain pengobatan barat, ada bidang dan metode turun temurun unik lainnya. Mungkin kalian bisa memikirkan cara dalam hal ini." saran Ozawa.
“Apakah maksud Anda adalah pengobatan Tiongkok?” Chandra bertanya dengan buru-buru.
Ozawa menggelengkan kepalanya dan menyangkalnya.
"Tidak, ini metode lain. Aku hanya pernah mendengarnya, tapi aku tidak tahu namanya."
Handoko menghela nafas dan berkata, "Aku tahu, itu disebut Pengobatan Gaib."
Tidak terpikir bahwa firasat berubah menjadi kenyataan, penyakit Susan benar-benar bermasalah!
“Iya benar, namanya pengobatan gaib. Kalian pikirkan solusi dalam hal ini.” Ozawa melihat arlojinya dan berkata, “Maaf, karena tidak dapat membantu. Aku masih ada rapat, pamit dulu.”
“Baiklah, terima kasih Profesor Ozawa. Silahkan mencari aku jika Anda memerlukan bantuan.” kata Handoko dengan ramah.
Ozawa mengangguk dengan sopan, dan tidak menganggap serius perkataan Handoko.
Dia sama sekali tidak tahu apa arti janji ini! Walaupun dia tidak berdaya dengan penyakit Susan, tapi bantuan yang diberikan tidak akan dilupakan.
Setelah mengantar Ozawa, Chandra bertanya dengan cemas: "Handoko, apakah kamu tahu di mana menemukan Pengobatan Gaib?"
Handoko menggelengkan kepalanya.
"Masih ingat Pendeta tua yang pernah kalian ceritakan? Kata 'pengobatan gaib' aku dengar tanpa sengaja dari mulutnya."
"Tapi aku tidak tahu harus mencari ke mana, aku khawatir harus menunggu sampai dia muncul baru dapat mengetahuinya."
Wajah Chandra dan Lidya penuh rasa kecewa.
Handoko menghibur dan berkata: "Jangan khawatir, setidaknya masih ada harapan, bukan?"
__ADS_1
Pasangan itu mengangguk.
Ketika semua orang memasuki kamar, mereka melihat Susan duduk di tempat tidur dengan tatapan kebingungan.
“Susan, bagaimana keadaanmu?” Handoko bertanya dengan tergesa-gesa.
“Mengapa aku berada di rumah sakit?” Susan bertanya dengan aneh.
"Kamu dan Handoko pergi makan, dan terjadi konflik dengan Tuan Besar keluarga Setyawan." Chandra berkata.
Handoko sangat khawatir Susan mendapat tekanan dari luar lagi.
“Ah...? Kenapa aku tidak ingat apa-apa?” Susan terkejut.
Dia melupakan semuanya! Inilah sebabnya mengapa Ozawa tidak berdaya. Dalam keadaan normal, gangguan stres hanya untuk hal-hal tertentu dan hampir tidak ada perubahan, tetapi yang terjadi pada Susan adalah memori yang tidak disebabkan oleh penyakit juga terhapus kapan saja!
“Jika kamu lupa, lupakan saja, yang penting kamu baik-baik saja.” Lidya memaksa dirinya untuk tersenyum.
“Maaf, telah membuat kalian khawatir.” Susan tampak sedih.
Menurut diagnosis Ozawa, tidak ada gunanya tinggal di rumah sakit, dan dia segera memilih untuk dipulangkan.
Saat kembali, dia masih naik mobil Handoko. Handoko melihat bahwa dia baik-baik saja, dan bertanya dengan lembut: "Susan, apa hal terakhir yang kamu ingat?"
Susan sangat melankolis, "Aku sedang melihat file di kantor."
Handoko menghela nafas dalam hati, sekarang dia kira-kira sudah dapat mengetahui pikiran bawah sadarnya akan menghapus ingatan yang mana saja. Tapi apa sebenarnya yang terjadi, semua ini hanya bisa diketahui ketika bertemu dengan guru.
Insiden hari ini menjadi suatu peringatan dalam hati Handoko, kesalah pahaman ini tidak boleh terjadi lagi.
Chandra dan Lidya mengendarai mobil lain.
Ketika hendak pergi, mereka melihat Profesor Ozawa berdiri di pinggir jalan, melihat jam tangannya dengan ekspresi cemas.
Chandra segera mengendarai mobil dan bertanya, "Profesor Ozawa, apa Anda membutuhkan bantuan?"
Ozawa tersenyum dan berkata, "Aku mau pergi ke aula akademik di Sky Tower untuk rapat, tetapi sopir yang semula aku pesan tidak datang..."
Karena ada yang menjemput, makanya dia tidak membiarkan Ganedra untuk mengantarnya, siapa tahu sopir yang dipesan tidak datang.
Sekarang adalah waktu pulang kerja, sangat sulit mendapatkan taksi di waktu ini.
“Masuklah ke mobil, aku akan mengantarmu ke sana.” Ajak Chandra dengan segera.
“Terima kasih.”Ozawa duduk di barisan belakang.
“Kamu terlalu segan, seharusnya kami yang harus mengucapkan terima kasih.” Ucap Chandra dengan serius.
“Sayangnya, aku tidak banyak membantu.” Ozawa meminta maaf.
“Huh......, aku hanya bisa mengatakan bahwa nasib putriku tidak baik.” Chandra menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.
__ADS_1
Terjadi keheningan singkat di dalam mobil.
Lidya tiba-tiba bertanya, "Profesor Ozawa, sebenarnya siapa yang mengundang Anda untuk mendiagnosis putriku?"
Sebelumnya Ariani mengatakan bahwa Handoko yang mengundangnya, tetapi Ozawa jelas tidak mengenalnya!
“Aku mendapat perintah dari Dekan, Beliau mengatakan itu adalah teman putrinya, jadi itu pasti Handoko.” Ozawa berkata dengan santai.
Dia tidak tahu perkataannya menyebabkan hati kedua orang itu penuh rasa terkejut. Putri Dekan Institut Logistik Umum memiliki posisi kekuasaan yang lebih tinggi daripada keluarga Ramadhani!
Keduanya mengira keluarga Ramadhani yang perlu diwaspadai, tetapi mereka tidak menyangka ternyata ada orang lain yang lebih perlu diwaspadai!
"Apakah kepercayaan diri Handoko datang dari Dekan Institut Logistik Umum?"
"Apa hubungan antara Handoko dan Putri Dekan?"
Setelah mengantar Ozawa ke tempat tujuan, pasangan itu terus memikirkan dua masalah ini dalam perjalanan pulang. Setelah sampai di depan pintu rumah, tidak ada yang berencana untuk turun dari mobil.
“Apa yang harus dilakukan, apakah aku harus bertanya pada Handoko?” Lidya ragu-ragu.
“Jangan tanya, sudah terlalu banyak kesalah pahaman kita terhadap Handoko, kita harus percaya padanya!” Chandra memutuskan.
Meski begitu, masalah tersebut telah menjadi simpul di hati mereka berdua.
.........
.........
Tidak ada yang terjadi di hari-hari berikutnya, Handoko mengantar dan menjemput Susan dan putrinya seperti biasanya.
Ariani juga dengan setia melakukan tugasnya sebagai pengawal, dia selalu menjaga Susan dari kejauhan. Chandra dan Lidya sangat khawatir Keluarga Setyawan membalas dendam, tapi setelah menunggu beberapa hari, tidak terjadi apa-apa, itu tidak seperti sikap keluarga Setyawan pada biasanya.
Itu menunjukkan bahwa mereka takut!
Selain Dekan Institut Logistik Umum, siapa lagi yang bisa membuat keluarga Setyawan berhenti untuk membalas dendam? Semakin pasangan tua itu memikirkannya, semakin tidak nyaman perasaan mereka, dan beberapa kali ingin sekali mereka bertanya. Melihat Handoko begitu memanjakan Susan, mereka hanya bisa berhenti untuk bertanya.
Pada hari keempat setelah konflik di restoran barat, ketika Handoko sedang mengajari Ganendra senam rejimen di Grup Tanujaya, tiba-tiba dia menerima telepon dari Yovita.
"Kepala Instruktur, Yoda telah meninggal!"
Handoko tidak terkejut, benih-benih kejahatan telah berakar di hati Djani, dan itu merupakan sesuatu hal yang normal.
"Bagaimana cara Djani melakukannya?"
“Dia mencari pembunuh di Dark Net, dan dia sengaja meminta pembunuh untuk meninggalkan sebaris kata di tempat kejadian.” Yovita ingin tertawa tetapi tidak berani tertawa.
"Apakah yang ditulis adalah 'Handoko si pembunuh'?" Handoko bertanya.
“Ah, ternyata Anda telah mengatahuinya?” Yovita terkejut.
“Aku menebaknya, dengan otak bodohnya, ide apa yang bisa dia dapatkan untuk melempar kesalahan kepadaku.” Handoko menggerakkan otot dan persendiannya.
__ADS_1
Saatnya menyajikan makanan pembuka untuk keluarga Setyawan, dan biarkan mereka tahu apa yang namanya keputusasaan!