Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Hutang Budi


__ADS_3

Sudah sekian tahun lamanya, tidak ada yang berani memprovokasi keluarga Setyawan. Masih ingat orang-orang yang terakhir kali memprovokasi mereka telah dimusnahkan! Tidak ada tulang yang tersisa!


Nama baik lima keluarga terkemuka tidak boleh dinodai. Jika dendam ini tidak dibalas, Keluarga Setyawan akan kehilangan kehormatan untuk berpijak di tanah Pulau Jawa!


Ayah Djani, Sambara Setyawan, melihat hasil penyelidikan dengan ekspresi pucat.


"Handoko adalah putra angkat dari keluarga Tanujaya. Empat tahun lalu, keluarga Tanujaya dipojokkan dan ditekan, dia melarikan diri dari keluarga Tanujaya atas alasan masuk militer. Dia baru kembali beberapa hari yang lalu dan membuat keributan besar pada perayaan ulang tahun ke sepuluh Grup Tjandrawinata dan membuat Keluarga Ramadhani merasa frustasi."


Anak cucu laki-laki Keluarga Setyawan sedikit, mulai dari generasinya, keluarganya hanya memiliki dua anak laki-laki. Sambara menduda sejak usia muda dan hanya memiliki dua putra, Djani adalah putra bungsunya.


“Huhuhu… Kakek, kamu harus membalas dendam Djani, Handoko si binatang kecil itu terlalu kejam!” teriak istri Djani, Candrawati Indriani.


Djani baru saja menyelesaikan operasi, dan anestesi belum berlalu, dia terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.


Tisna dibawa pergi oleh Max, kepala keluarga dari keluarga Setyawan bukan orang bodoh, dia hanya perlu menyelidiki dengan cermat sudah pasti mengetahui peran apa yang dimainkan Tisna dalam konflik ini.


“Djani mengalami cedera di Hotel Rose, apa yang dikatakan keluarga Ramadhani?” Wajah Tirta Setyawan, kepala keluarga dari keluarga Setyawan tampak berat, dia selalu merasa bahwa masalah ini tidak sesederhana itu.


Sambara tampak bingung, dan dengan sedikit waswas, dia berkata: "Penjaga keamanan yang dibawa Pradipta, semuanya ditahan oleh Lingga dan meminta penjelasan kepada kita!"


Meskipun lima keluarga terkemuka tidak harmonis, tetapi mereka semua selalu bekerja sama untuk menghadapi musuh luar. Keluarga Ramadhani dan Handoko jelas memiliki konflik, tetapi mereka berdiri di pihak yang sama, dan tidak ada yang mengerti apa yang mereka lakukan.


Tirta penuh keraguan, dan tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata yang menelepon adalah Hideki. Pasti demi kejadiaan malam ini!


“Hideki, sudah larut malam, apakah kamu belum istirahat?” Tirta segera menjawab telepon, menyapanya seperti teman lama.


“Huft, tadi aku sudah tertidur, tetapi anak-anak muda di rumah selalu membuatku khawatir, apakah kamu masih belum tidur?” Hideki tersenyum.


Di antara lima keluarga terkemuka, keluarga Ramadhani dan keluarga Setyawan memiliki hubungan paling dekat. Karena kemiskinan masa kecil Hideki, dia menerima bantuan dari Keluarga Setyawan.


Walaupun sekarang dia telah bangkit dan memimpin keluarga Ramadhani menjadi kepala dari lima keluarga terkemuka, dia tidak melupakan kebaikan waktu dulu.


“Hideki, apakah kamu tahu apa latar belakang Handoko?” Tirta langsung bertanya pada inti percakapan.


Dengan hubungan baik antara dua keluarga kita, kamu tidak perlu menyembunyikan rahasia!


“Teman lama, dengarkan pesanku, jangan memprovokasi Tuan Handoko.” kata Hideki dengan tulus.


“Kamu harus memberi tahu aku apa latar belakangnya.” Tirta menjadi tidak sabar, bagaimana boleh takut hanya karena satu ucapan sederhana.

__ADS_1


"Yang pasti adalah kamu tidak bisa memprovokasinya, dan terserah kamu mau mendengar pesanku atau tidak. Orang-orang-mu sudah aku bebaskan, ini sudah merupakan hal terbaik yang bisa aku lakukan." Hideki selesai berbicara langsung menutup telepon.


Ekspresi Tirta pucat, demi apa! Bocah yang tidak tahu berterima kasih, bisa sekuat apa latar belakangnya?!


"Ayah, Yoda Setyawan mendapatkan beberapa info dari Permata Residence bahwa Handoko dan Lina sedang berpacaran, dan keduanya sering berlatih ilmu bela diri bersama di pagi hari." kata Sambara dengan marah.


Keterlaluan! Ternyata Handoko mengandalkan keluarga Ramadhani!” Tirta sangat marah, ternyata semua kejadian pada perayaan ulang tahun Grup Tjandrawinata adalah palsu!


“Ternyata mereka berdua adalah satu tipe yang sama, Hideki juga tidak tahu berterima kasih. Jika bukan karena kakeknya yang memberinya sesuap makanan, dia sudah mati kelaparan sejak dulu!” emosi Sambara hampir meledak.


“Hideki sengaja membuat kita bingung, dan bertekad untuk melindungi Handoko. Kita tidak bisa bertindak gegabah untuk saat ini.” Mata Tirta penuh amarah.


Pertempuran antara dua keluarga terkemuka pasti menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak, dan akan membiarkan orang lain mengambil keuntungan darinya.


“Kakek, dendam Djani harus dibalas, jika tidak, keluarga Setyawan akan kehilangan kehormatannya!” Candrawati berteriak dengan getir.


“Untuk apa berteriak, ini rumah sakit!” Sambara menegur. “Kita tidak akan pernah melepaskan Handoko si binatang kecil itu.”


Keluarga Setyawan tidak pernah menderita kerugian seperti ini!


"Kita membuat dua persiapan, biarkan Yoda yang menangani keluarga Tanujaya terlebih dahulu, dan kemudian memberi tahu Jarot jika dia gagal." kata Tirta mengatur.


“Baik, aku akan memberitahu Jarot, dan aku pasti akan membuat keluarga Ramadhani menderita!” Sambara berkata dengan dingin.


“Ayah, Tisna si wanita jalang itu, kalau bukan dia yang membuat masalah, bagaimana mungkin Djani menjadi seperti ini.” Candrawati menangis.


Sambara tidak mengatakan apa-apa, biarkan kakek yang memutuskan hukuman apa yang akan diberikan kepada Tisna.


Tirta berkata dengan acuh tak acuh: "Karena dia telah melahirkan seorang putra untuk keluarga Setyawan, maka tidak akan aku permasalahkan, cukup bawa Ardana kembali.”


Tisna gagal menabur perselisihan, membuat diri sendiri seperti hantu, dan kehilangan hak asuh putranya.


Tapi bagi Handoko, hukuman ini masih belum cukup!


    ……


    ……


Permata Residence, Keluarga Ramadhani.

__ADS_1


Lingga merasa bingung dan bertanya, "Kakek, mengapa Anda melepaskan keluarga Setyawan? Bagaimana jika Tuan Handoko mempermasalahkannya?"


Hideki tersenyum dan berkata: "Tuan Handoko tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, bagaimana mungkin menyalahkan kita atas kejadian ini? Dan kita diberi kesempatan untuk membalas budi keluarga Setyawan."


Budi sesuap nasi yang diberikan Keluarga Setyawan pada waktu itu tidak pernah dilunasi. Peringatan yang diberikan kepada keluarga Setyawan kali ini dapat dianggap sebagai melunasi budi, dan mulai sekarang kita sudah tidak memiliki kaitan dengan mereka!


Lingga bertanya dengan perasaan aneh: "Tidak mungkin bagi keluarga Setyawan untuk menerima nasib mereka begitu saja, apakah mereka akan membenci kita karena kejadian ini?"


Hideki berkata dengan ekspresi tegas: "Itu tidak mungkin. Peringatan yang aku berikan sangat serius, dan keluarga Setyawan mengetahuinya dengan baik. Melawan Tuan Handoko, sepuluh keluarga Setyawan pun tidak cukup untuk dilenyapkan, mereka seharusnya berterima kasih kepadaku!"


Lingga menghela nafas lega dan berkata, "Baguslah kalau begitu, aku rasa Tuan Handoko sangat mudah untuk diajak bicara dan tidak sombong."


Hideki mengangguk, "Tentu saja, tetapi syaratnya adalah jangan memprovokasi Tuan Handoko. Jika tidak, lima keluarga terkemuka di Pulau Jawa ini pun tidak akan cukup untuk dilenyapkan Tuan Handoko!"


Lingga terkejut, "Sebegitu hebat? Tapi mengapa dia melepaskan keluarga Tjandrawinata dan orang-orang yang mengepung dan menindas keluarga Tanujaya saat itu."


Hideki menggelengkan kepalanya, "Tuan Handoko memiliki motifnya sendiri, siapa yang tahu?"


    ……


    ……


Dini hari berikutnya, Handoko terbangun dari tidurnya, merasakan sesuatu membebani dirinya. Begitu membuka mata dan melihat ternyata itu adalah sebuah kaki putih yang indah, tentunya milik Susan.


Sasha masih berada di tengah, tapi diia sudah didesak sampai tidak ada ruang untuk beraktivitas. Sepasang mata besar berkedip-kedip, tidak tahu kapan dia bangun.


"Selamat pagi, Ayah." Sasha sangat imut dan menyapa dengan suara kecil.


“Selamat pagi, Sasha.” Handoko mencium wajah putrinya.


Dilema saat ini adalah apakah mau menurunkan kaki Susan atau tidak, dan bagaimana caranya?


Handoko melihat-lihat, sudah mendekati waktu yang disepakati untuk latihan pagi, jadi dia hanya bisa mengangkat kaki indahnya dan ketika baru dipegang... Susan terbangun.


Ini sungguh terasa canggung.


“Selamat pagi, istriku.” Ekspresi Handoko tidak wajar.


“Selamat pagi, suamiku.” Wajah Susan memerah dan menarik kembali kakinya.

__ADS_1


Aku masih ingat ketika aku dan kakak masih muda juga tidur seperti ini, tetapi waktu itu masih sangat polos, sekarang malu sekali rasanya!


__ADS_2