
Bagaimanapun sekarang sudah dewasa, perilaku sembunyi-sembunyi seperti ini membuat Susan merasa malu untuk menghadapi orang lain.
“Wajah ibu sangat merah, apakah ibu sakit?” Sasha mengulurkan tangan kecilnya dan menyentuh dahi Susan. Dia hanya ingat pada saat sakit dan demam, ibunya selalu melakukannya.
“Ibu baik-baik saja, ini masih pagi untuk pergi ke sekolah, mengapa kamu sudah bangun?” Susan semakin merasa malu.
Sasha kelihatan sedih dan tidak berbicara. Handoko tidak tahu harus berkata apa.
Baru saat itulah Susan menyadari bahwa dia telah menempati sebagian besar ranjang, dan Handoko hampir saja jatuh dari ranjang karena sudah tidak ada tempat untuknya lagi!
Wajah Susah semakin memerah, dan mulai merasa panas.
“Oh, panas sekali, ibu sakit!” Sasha menyentuh dengan tangan kecilnya dan berteriak keras.
“Emm....emm.... Sasha-ku yang baik, ayo tidur sebentar lagi dengan ibu, dengan begitu penyakit ibu akan sembuh.” Handoko mengeluarkan suaru batuk dua kali.
“Benarkah, tidak perlu disuntik?” Sasha penasaran.
Handoko tanpa sadar melirikkan matanya ke arah bokong Susan. Susan dengan malu-malu menarik selimut dan menutupi kepalanya.
“Sasha, ayah mau pergi melakukan latihan pagi.” Handoko hanya bisa segara lari dengan malu.
Kontak dekat seperti itu tidak memicu penyakit Susan. Suasana hati Handoko sedang baik sekali dan tampaknya dia melihat harapan reuni keluarga akan segera menjadi kenyataan.
Yovita masih menunggu di tempat biasanya.
"Kepala Instruktur, aku akan melaporkan kepada Anda hasil penyelidikan keluarga Setyawan."
Handoko sedikit mengerutkan dahinya, dan berkata, "Mengenai keluarga Setyawan, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya, tidak masalah jika kamu menyelidikinya nanti, kamu harus memperhatikan kesehatanmu."
Minum begitu banyak anggur tadi malam dan masih bangun begitu pagi!
"Terima kasih atas perhatian Anda, Kepala Instruktur. Aku sudah beristirahat dengan baik." Hati Yovita sangat tersentuh.
Handoko mengangguk.
Yovita melanjutkan: "Keluarga Setyawan memulai usahanya lebih awal. Sumber pendapatan mereka adalah perdagangan laut, kemungkinan besar terlibat dalam penyelundupan, tetapi tidak ada bukti yang jelas."
"Ada satu tokoh penting dalam keluarga Setyawan yang bernama Jarot, dia merupakan pemimpin Grup Mercenary Ocean dan bertanggung jawab atas pekerjaan keamanan perdagangan laut keluarga..."
Singkatnya, usaha keluarga Setyawan tidak bersih!
Handoko menginstruksikan: "Beri tahu Seal untuk mengumpulkan bukti penyelundupan yang dilakukan keluarga Setyawan, dan kalau bisa dapatkan bukti di tempat!"
Walaupun tidak ada konflik yang terjadi tadi malam, kita juga harus membasmi sampah masyarakat, keluarga Setyawan harus dibersihkan!
__ADS_1
"Kepala Instruktur!” Yovita tidak pergi setelah menerima perintah, dia seolah-olah ingin menanyakan sesuatu tetapi tidak berani berbicara.
“Katakanlah jika ada sesuatu yang ingin kamu katakan, aku tidak memakan orang kok.” kata Handoko dengan kesal.
“Aku tidak mengerti, Anda bisa bertekad untuk membasmi keluarga Setyawan, tetapi mengapa Anda melepaskan keluarga Tjandrawinata dan mereka yang telah memojokkan dan menindas keluarga Tanujaya?” Yovita mengajukan pertanyaan yang ingin diketahui banyak orang.
Handoko berkata dengan perasaan berat: "Karena kecelakaan mobil yang terjadi pada Susan terlalu aneh, aku tidak tahu apakah itu ada hubungannya dengan keluarga Tjandrawinata atau tidak, aku akan mencoba memaksa orang-orang di belakang mereka untuk keluar."
Yovita menganggukkan kepalanya, sekarang dia tahu niat Kepala Instruktur, dan sudah tahu arah penyelidikan yang akan dia lakukan kedepannya.
Lina juga menunggu di tempat biasa. Pemahamannya tidak sebaik Yovita, dia belum memahami esensi dari senam rejimen. Handoko mengajar dengan sepenuh hati. Tetapi dia merasakan bahwa tatapan mata orang-orang di sekitarnya tampak aneh.
Orang-orang menganggap mereka berdua sebagai pasangan! Lina ingin menjelaskan dengan suara lantang, tapi karena melihat sikap Handoko yang tidak peduli, dia hanya bisa menyerah.
Terkadang terlalu banyak penjelasan, malah hanya akan membuat orang berpikir bahwa mereka mencoba untuk menutup-nutupi sesuatu.
Di akhir latihan pagi, Handoko berkata: "Besok, temukan tempat yang tenang untuk berlatih."
Kalau hanya dia sendiri yang latihan tidak masalah, dia tidak bisa membiarkan orang tua angkatnya dan Susan salah paham padanya.
“Baik.” Lina mengangguk berulang kali, hatinya terasa kosong.
Ketika Handoko kembali ke rumah, sarapan pagi sudah siap. Susan sedang menyisir rambut Sasha di kamar mandi.
Lidya tampak serius dan berkata dengan suara kecil, "Kamu pulang ke rumah sebentar setelah mengantar Susan ke perusahaan."
“Kita akan membicarakannya ketika kamu kembali.” Nada bicara Lidya sedikit tidak wajar.
Apa yang terjadi lagi? Handoko merasa bingung, dan menoleh untuk melihat ayah angkatnya. Chandra menundukkan kepalanya untuk sarapan dan tidak mengatakan apa-apa. Tapi ekspresi seriusnya menunjukkan bahwa dia sedang dalam suasana hati yang buruk.
“Tidak mau makan lagi! Marah pun sudah kenyang!” Dia melemparkan alat makannya dan kembali ke ruang belajar.
Handoko tercengang, apa yang terjadi lagi?
“Bu, di mana ayah, kenapa dia tidak sarapan?” Susan membawa Sasha keluar.
"Perut ayahmu sedikit sakit, jadi dia kembali ke ruang belajar. Kalian cepat makan, kalau tidak Sasha akan terlambat ke sekolah." kata Lidya.
"Ayah baik-baik saja, 'kan?" Susan bertanya dengan cemas.
“Tidak apa-apa, penyakit lama, jangan khawatir.” Kata Lidya sambil tersenyum.
Susan tidak merasa aneh, hanya Sasha yang berkata dengan mata terbuka lebar.
"Nenek, marah itu buruk untuk kesehatan."
__ADS_1
Rahasia Langit sangat sensitif terhadap emosi orang lain! Handoko sudah merasakannya sejak awal, tetapi dia tidak bisa mengatakannya seperti putrinya.
“Nenek tidak marah.” Lidya sangat terkejut, bagaimana si kecil bisa mengetahuinya.
“Nenek bohong, kata guru, berbohong dan menipu orang bukanlah anak yang baik.” Sasha mencibirkan mulut kecilnya.
“Bu, apakah benar baik-baik saja?” Susan menyadari bahwa emosi ibunya tidak wajar.
“Tidak apa-apa, cepat makan, Sasha akan terlambat,” Desak Lidya.
Susan hanya bisa berhenti bertanya. Setelah sarapan, Handoko mengantar Sasha ke TK terlebih dahulu, dan kemudian mengantar Susan ke perusahaan.
"Susan, Ganendra datang ke perusahaan hari ini, dan tunangannya juga datang. Ketika aku tidak ada di sisimu, Ariani akan melindungi keselamatanmu. "
“Ya, Aku mengerti, nanti kamu pulang dan lihat apa yang terjadi pada ayah dan ibu.” Susan tampak khawatir.
“Oke, jangan khawatir, pasti tidak ada masalah yang serius.” Handoko menghibur, di dalam hatinya kira-kira sudah tahu mengapa orang tua angkatnya marah.
Ketika dia kembali ke rumah, Chandra dan Lidya sudah mengambil posisi seperti mengadili tersangka di pengadilan.
“Mari kita bicarakan, ada apa dengan gadis keluarga Ramadhani?” Chandra bertanya dengan dingin.
Handoko diam-diam menghela nafas: Aku sudah tahu ini penyebabnya!
"Tuan Hideki memberikan sebuah liontin batu giok kepada Sasha, dan aku mengajari Lina ilmu bela diri ketika aku latihan pagi."
Jelas, penjelasan ini tidak bisa meyakinkan mereka berdua.
“Omong kosong, ilmu bela diri apa yang kamu ajarkan, ilmu mendekati gadis?!” Chandra menepuk meja dan berdiri.
"Handoko, jika ada Susan di hatimu, jangan berhubungan dengan wanita lain. Gosip ini telah tersebar di seluruh Permata Residence, keluarga Tanujaya sengaja menjalin hubungan dengan dengan keluarga Ramadhani untuk memperoleh keuntungan!" Lidya berkata dengan marah.
Tadi malam, pasangan itu sengaja menunggu, mereka ingin melihat apakah Handoko akan tidur bersama Susan atau tidak.
"Tidak heran kamu tidak takut pada keluarga Tjandrawinata, ada Keluarga Ramadhani yang mendukungmu, kamu benar-benar dapat melakukan segala sesuatu dengan mudah. Kami keluarga Tanujaya hanyalah keluarga kecil, tidak mampu menjalin hubungan dengan Tuan Handoko." Chandra mencibir .
"Jika kamu ingin menjalin hubungan dengan orang lain, kami tidak akan melarangnya, tapi tolong menjauhlah dari Susan dan jangan sakiti dia lagi." Lidya menangis.
Handoko terdiam karena disalahkan oleh keduanya.
Persepsi dari Rahasia Langit mengatakan kepadanya bahwa alasan mengapa orang tua angkatnya begitu yakin kalau dia memiliki hubungan dengan wanita lain, karena rasa rendah diri!
Keluarga Tanujaya tidak dapat dibandingkan dengan keluarga Ramadhani. Memang benar dengan menjadi menantu keluarga Ramadhani, dia bisa melakukan segala sesuatu dengan mudah di Pulau Jawa ini!
Rasa rendah diri ini tidak dapat dihilangkan dengan satu dua patah kata. Oleh karena itu, tidak peduli bagaimana dia menjelaskannya, bahkan memanggil Yovita dan Lina untuk menjelaskannya secara langsung hanya akan memperburuk perasaan rendah diri mereka!
__ADS_1
“Ayah, Ibu, apakah menurut kalian aku adalah orang kerdil yang mencintai kekayaan dan membenci kemiskinan?” Handoko memutuskan untuk menyelesaikan masalah dengan perasaan kasih antara dia dan kedua orang tua angkatnya.
Tidak boleh berhenti membimbing latihan Lina hanya karena keraguan orang tua angkatnya!