
Empat tahun lalu, Grup Averony juga memojokkan dan menekan keluarga Tanujaya. Karena Janu melihat Max kewalahan dalam menghadapi Handoko, dia berpikiran untuk memesan pembunuh bayaran di Dark Net.
Pesanan yang sudah diproses tidak dapat dibatalkan, imbalan tersebut di titipkan di Dark Net, bahkan jika Janu terbunuh, uang imbalan tersebut juga tidak akan hilang.
“Baiklah, kamu tidak perlu khawatir tentang itu, aku bisa mengatasinya.” Handoko selesai berbicara dan menutup teleponnya.
Jangankan pembunuh tingkat emas yang melakukan eksekusi, pembunuh legendaris tingkat tertinggi pun bukan apa-apa baginya.
Dark Net menganggap dirinya sebagai kerajaan bawah tanah, tetapi mereka tidak tahu apa-apa tentang kekuatan sebenarnya yang ada di luar sana!
Handoko sengaja memarkir mobilnya di pintu masuk gedung Grup Averony, jika dia ingin mencari masalah maka dia harus memiliki gaya seperti orang yang benar-benar ingin mencari masalah, tujuannya kemari bukan untuk berkunjung.
"Kamu pegawai departemen mana, kamu tidak boleh parkir di gerbang masuk perusahaan, tolong pergi!" teriak penjaga keamanan dengan suara keras.
“Sasha, apakah kamu merasakan emosinya?” Handoko mengabaikannya, menggendong putrinya dan menunjuk penjaga keamanan.
Peri kecil mengangguk berulang kali, "Ayah, apakah ini orang jahat?"
Handoko menggelengkan kepalanya, "Sekarang bukan, dia hanya melakukan tugasnya."
Sasha tampaknya tidak terlalu mengerti, tetapi dia dapat merasakan reaksi emosional dari penjaga keamanan.
"Bocah busuk, aku memanggilmu? Apakah kamu tidak mendengarku? Jangan mengira kalau kamu menggendong anak, maka aku tidak akan berani memukulmu."
Penjaga keamanan memegang tongkat dan berjalan dengan agresif.
"Ayah, apakah dia orang jahat sekarang?" Sasha terus bertanya.
“Belum, dia hanya menggertak orang lain dan mulutnya agak cerewat saja.” Handoko bahkan tidak melihat, kemudian menghajarnya dalam sekejap.
Penjaga keamanan yang jatuh ke lantai terlihat kebingungan, lima giginya patah.
“Ayah, dia marah, sangat marah.” Mata kecilnya yang serius terlihat sangat imut.
"Iya, emosi seperti inilah, jika mereka marah padamu gunakan tinju disforia yang ayah ajarkan untuk memukulnya, pukul sampai mati pun tidak apa-apa.” kata Handoko dengan nada dingin.
Penjaga keamanan yang hendak bangun, langsung memadamkan api amarahnya. Rasanya seperti di siram baskom berisi air dingin, dia gemetaran di bawah tatapan dingin Handoko.
“Sasha sudah mengerti.” Peri kecil itu mengangguk berulang kali.
Dia berbeda dengan anak-anak lain, Handoko harus secara mendalam menanamkan konsep dan makna "kehidupan" dan "kematian" ke dalam pikirannya, jika tidak, Rahasia Langit yang semakin kuat hanya akan melukainya.
“Ingat perasaan ini, Ayah akan membawamu untuk terus merasakannya.” Handoko berjalan ke dalam Grup Averony bersama putrinya.
Penjaga keamanan merasakan bahwa dirinya baru saja selamat dari kematian, setelah bereaksi, dia segera menggunakan protofon untuk memberikan peringatan kepada orang di dalam gedung.
Kantor CEO.
Janu sedang menjawab telepon, sedangkan Danu sedang menatap layar monitor, seperti menatap karya seni favoritnya, terlihat gila dan terobsesi.
Halaman pesanan Dark Net menampilkan: Sedang Memproses!
__ADS_1
"Handoko, aku hanya berharap aku bisa menghancurkanmu berkeping-keping dengan tanganku sendiri. Kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk sombong di depanku lagi!"
"Jangan khawatir, aku akan 'mencintai' dua adik perempuanmu, membiarkan mereka merasakan kenikmatan seorang wanita!"
Danu merasa senang!
Sejauh ini, tingkat penyelesaian pesanan di Dark Net adalah 100%.
Handoko pasti akan mati!
“Ayah, ada apa denganmu, mengapa ekspresi wajahmu kelihatan jelek sekali.” Danu menoleh dan melihat wajah ayahnya kelihatan panik.
“Ke... keluarga Max menghi... hilang!” Wajah Janu tampak pucat.
Dia tidak bisa melupakan peringatan yang diberikan oleh Handoko kepada semua orang di perayaan ulang tahun Grup Tjandrawinata waktu itu!
Max yang telah tersiksa sekian lama, berakhir dengan kata ‘hilang’?
Janu tidak dapat menahan ketakutan di dalam hatinya, dia hanya berharap bahwa Dark Net dapat menyingkirkan momok yang menakutkan ini sesegera mungkin!
“Apakah Handoko sudah gila? Tisna adalah wanita simpanan putra kedua keluarga Setyawan, dia telah melahirkan seorang putra untuk keluarga Setyawan. Apakah dia tidak takut keluarga Setyawan membalas dendam?” kata Danu tampak panik.
Keluarga Tjandrawinata hanyalah permulaan, orang-orang yang memojokkan dan menekan keluarga Tanujaya saat itu, satu pun tidak usah berpikir untuk bisa melarikan diri.
Jika keluarga Setyawan tidak dapat melindungi keluarga Tjandrawinata, mereka lebih tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri, apakah mereka hanya bisa menunggu kematian mereka?
"Brak!"
Pintu kantor ditendang dan terbuka!
"Petugas... keamanan, apa yang kalian kerjakan, mengapa kalian membiarkan bajingan ini masuk!" Danu berteriak dengan ketakutan.
Setiap kali melihat Handoko, kakinya yang belum terlalu sembuh itu selalu terasa sakit. Dia telah salah menyalahkan penjaga keamanan, semua yang berusaha untuk menghalangi Handoko telah menjadi bahan pengajaran untuk Sasha.
Kepala Penjaga Keamanan menelepon kantor CEO, tetapi sayangnya jaringan selalu sibuk, ayah dan anak itu berhasil diblokir untuk tidak melarikan diri.
“Begitu banyak orang yang menonton, apa yang ingin kamu lakukan?” Janu mencibir.
Keduanya merasa aneh mengapa Handoko datang dengan seorang anak kecil.
“Sasha, apakah kamu merasakan emosi mereka?” Handoko bertanya.
Peri kecil itu mengangguk, "Mereka takut dan membenci Ayah, mereka adalah orang jahat!"
Pengajaran yang dilakukan sejak memasuki perusahaan sudah membuahkan hasil.
Sasha tidak hanya dapat membedakan emosi orang lain, tetapi juga dapat memberikan definisi yang akurat.
“Ayah?” Janu dan Danu sedikit terkejut. Kapan Handoko memiliki anak?
Bukankah dia mengandalkan hubungannya dengan keluarga Ramadhani? Apakah itu anak dari Lina?
__ADS_1
“Apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan orang seperti ini?” Handoko bertanya.
“Peringatkan mereka untuk tidak mendekat, jika mereka mendekat Sasha akan memukulnya!” Sasha menjawab dengan suara keras.
“Putriku sangat pintar, siapa yang harus dipukul dan siapa yang tidak boleh dipukul, apakah kamu sudah jelas?” Handoko bertanya lagi.
Sasha menganggukkan kepala kecilnya berulang kali, seperti anak ayam yang sedang makan, ia kelihatan imut sekali. Untuk melatih putrinya, Handoko telah bersusah payah dengan sepenuh hati.
Sangat disayangkan bahwa putrinya masih terlalu kecil, jika dalam usia dini telah mengajarinya untuk membunuh orang, maka akan terlalu kejam baginya.
Jika tidak, Handoko tidak akan keberatan untuk membunuh kedua orang ini dan melakukan pengajaran langsung.
Janu dan Danu merasa aneh.
Mengajari seorang anak berusia empat tahun untuk memukul orang?
Apakah otaknya tidak bermasalah?!
Memukul dengan kaki dan tangan kecilnya bukankah sama dengan menggelitik?
Setelah selesai mengajar Sasha, ia menoleh dan bertanya: "Kalian seharusnya telah mendapatkan info dan sudah mengetahui nasib dari keluarga Tjandrawinata 'kan?"
Ekspresi Janu dan Danu berubah drastis, ternyata benar dia yang melakukannya!
“Apa yang ingin kalian katakan padaku?” Handoko lanjut bertanya.
Keduanya tampak ketakutan dan tidak mengerti apa yang dia maksud.
Handoko hanya bisa menjelaskan, "Siapa yang menyuruh kalian menekan keluarga Tanujaya saat itu?"
Pikiran Janu kosong, seolah-olah dia sudah lupa dengan kejadian waktu itu. Ekspresi ini sepertinya pernah ia lihat, begitulah ekspresi wajah Susan ketika jatuh sakit. Handoko diam-diam menghela nafas di dalam hatinya, sepertinya tidak mungkin untuk mengetahui siapa dalangnya dari mulut kedua orang ini.
Dia berjalan perlahan ke hadapan Janu.
“Apa yang ingin kamu lakukan!” Janu mundur karena terkejut.
“Satu keluarga harus mendapatkan perlakuan yang sama.” Handoko tiba-tiba menginjak dan mematahkan kedua kakinya.
Mereka seharusnya merasa beruntung karena Handoko tidak ingin Sasha melihat dia melakukan pembunuhan, kalau tidak, dia tidak mungkin membiarkan orang yang memesan pembunuh bayaran untuk membunuh dirinya untuk tetap hidup!
“Ah! Sakit sekali! Panggil ambulans, cepat!” Janu berguling kesakitan.
Wajah Danu seperti selembar kertas kosong, tidak mampu menahan ketakutan di dalam hatinya, ia diam-diam berdoa: Jangan melihat komputer... Jangan melihat komputer...
Di layar monitor, halaman pesanan di Dark Net untuk membunuh Handoko masih terbuka!Seolah-olah Tuhan mendengar doanya, Handoko menggendong Sasha, kemudian berbalik dan pergi, ia tidak melihat komputer sama sekali.
Danu bagaikan melarikan diri dari kematian, ia terengah-engah, ia tidak menyadari bahwa Handoko sudah mengetahuinya sejak awal.
“Ayo cepat, bawa ayahku ke rumah sakit!” teriak Danu!
Sekelompok karyawan perusahaan buru-buru membawa Janu pergi, tetapi Danu tidak ikut.
__ADS_1
Dia menambahkan imbalan sebesar 20 miliar di Dark Net untuk mempercepat eksekusi terhadap Handoko, halaman ter update dalam waktu kurang dari dua menit, waktu untuk melakukan eksekusi muncul......
Dalam waktu tiga hari!