Dewa Perang Ada Di Kota

Dewa Perang Ada Di Kota
Kematian Tisna


__ADS_3

Bila tak ada halangan, kapal barang Grup Setyawan akan berlayar dua hari lagi. Mereka begitu tergesa-gesa, pasti mereka telah menerima panggilan dari Tirta.


Grup Mercenary Ocean memiliki reputasi kecil di dunia bawah tanah, dan pemimpinnya, Jarot, telah sepenuhnya mewarisi sifat bandit leluhurnya, dia tidak mungkin melepaskan Handoko. Sayangnya, dia tidak memiliki kesempatan untuk melihat wajah Handoko!


Setelah menutup telepon, Handoko tidak tahu mau berbuat apa, apakah dia akan kembali ke kamarnya atau tidak?


"Lupakan saja, sedikit terasa canggung, pergi latihan pagi saja."


Susan yang berada di dalam kamar menghela nafas lega setelah mendengar langkah kaki kakaknya telah menjauh.


Di dalam perasaan malunya terdapat sedikit perasaan bingung.


Sepertinya di dalam hatinya penuh dengan keinginan yang tidak bisa dijelaskan, tapi pada akhirnya, tidak ada yang terlintas dalam pikirannya.


 


 


    ……


 


 


    ……


 


 


Kediaman Tjandrawinata.


Max dan Santika duduk di ruang tamu, menatap kamar tidur putri angkat mereka dengan cemas. Kemarin sore, Tisna mengirim pesan teks kepada mereka, mengatakan bahwa Handoko akan mati di rumah Keluarga Setyawan, mereka berpikir bahwa putri angkatnya mungkin sudah gila!


Max sendiri sangat membenci Handoko, keluarga Setyawan bisa turun tangan menghabisi Handoko merupakan suatu hal yang baik baginya. Masalahnya adalah mengapa keluarga Setyawan mengambil tindakan sekarang, apakah mereka berencana untuk melawan keluarga Ramadhani?


Ini tidak masuk akal.


"Krek!" Pintu kamar terbuka.


Tisna berjalan keluar dari pintu dengan wajah yang tampak tidak waras dan mata memerah. Melihat orang tua angkatnya di ruang tamu, dia terkejut sejenak, dan segera mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan teks.


"Ayah, mengapa kamu bangun pagi sekali?"


Dia tidak tahu bahwa orang tua angkatnya tidak tidur semalaman.


Max melihat ponselnya dan berkata dengan cemas: "Tisna, dengarkan Ayah, jangan ikut campur masalah Handoko dan Keluarga Setyawan lagi, oke?"


Tisna dengan tegas menggelengkan kepalanya dan terus mengirim pesan teks: "Anda pasti mengira aku sudah gila, tapi aku benar-benar tidak berbohong padamu, Handoko pergi ke rumah Keluarga Setyawan kemarin sore, dia pasti mati!"


Max bertanya: "Mengapa? Kalau keluarga Setyawan ingin bertindak, bagaimana mungkin melakukannya di rumah mereka sendiri!"


Berita kematian Yoda telah diblokir oleh keluarga Setyawan, Tisna mengetahuinya dari Djani, termasuk berita mengenai Handoko yang pergi ke rumah Keluarga Setyawan, Djani-lah yang diam-diam mengirim pesan teks padanya.


Tisna telah menjadi otak rencana Djani, sayangnya tidak ada orang yang memberi tahu dia hasil dari rencananya.


  "Karena ketika membunuh Yoda, Handoko sudah ditakdirkan untuk mati!"

__ADS_1


Tisna pasti tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya, apalagi memberi tahu orang tua angkatnya bahwa Pram adalah ayah kandung Ardana!


Yoda sudah mati dan Handoko juga sudah mati. Dendam besar telah dibalaskan, keluarga Setyawan telah jatuh ke dalam kendalinya, mana mungkin dia tidak senang?


Max tampak sangat gembira, "Bagaimana kamu bisa tahu? Apakah Djani yang memberitahumu? Baguslah kalau begitu.”


Aku hanya benci tidak bisa menghabisi Handoko si binatang kecil itu dengan tanganku sendiri!


Tisna mengangguk berulang kali dan mengirim pesan teks: "Ayah, tidak apa-apa, Handoko sudah mati, tidak ada orang yang akan memprovokasi kita lagi."


Max tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan pesan teks obrolannya kepada istrinya.


Santika terlihat sangat bersemangat, wajahnya yang gemuk tampak menakutkan, ia berkata: "Terlalu baik untuk membiarkannya mati begitu saja, Keluarga Tanujaya juga harus membayarnya, terutama Susan si wanita jalang itu, bawa dia untuk menemani Pram di bawah sana!"


Wajah Max tampak kejam, "Tentu saja, jika bukan karena keluarga Tanujaya, bagaimana mungkin Pram dihukum mati!"


Tisna mengirim pesan teks, "Jangan khawatir, tidak ada yang bisa melarikan diri. Perusahaan keluarga Tanujaya juga akan menjadi milik kita."


Kabut yang menyelimuti hati mereka menghilang, jika Pram tidak dijatuhi hukuman mati, mereka semua ingin sekali membuka sebotol anggur merah untuk merayakannya.


Max mulai berpikir tentang bagaimana cara mendapatkan perusahaan keluarga Tanujaya.


"Ting tong!"


Bel pintu berbunyi.


“Siapa?” Santika bertanya sambil berjalan ke pintu.


"Ada pengiriman ekspres untuk Anda." Orang di luar pintu menjawab.


“Tisna, apakah kamu membeli barang di toko online?” Santika berbalik dan bertanya.


Santika tanpa perasaan waspada membuka pintu rumah. Kurir dengan pakaian kerja menundukkan kepalanya dan tidak bisa melihat jelas wajahnya.


“Di mana paketnya?” Santika merasa tidak puas.


Kurir itu mengangkat kepalanya dengan sedikit tersenyum.


Santika baru saja ingin memarahinya, sebuah handuk menutupi mulutnya, dan ia pingsan seketika.


“Istriku, pengiriman paket apa itu?” Max berteriak, tetapi tidak mendapat jawaban.


Dia berbalik dan melihat kurir masuk.


"Siapa yang membiarkanmu masuk, keluar..."


Max masih belum selesai berkata, sebuah pistol telah diarahkan padanya, dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena ketakutan!


"Ahwuahwu..." Tisna berteriak histeris, tapi sayangnya tidak ada yang mengerti apa yang ia katakan.


"Jangan... jangan bunuh aku, aku punya uang..." kata Max dengan panik.


 Kurir itu melangkah maju dan menutup mulut dan hidungnya dengan handuk. Tisna juga sama, pingsan terkena obat bius!


Ketika mereka sadar, mereka menyadari bahwa diri mereka diikat dari leher sampai ke tangan, kepala mereka ditutup dengan kantong hitam, dan tidak bisa melihat apa-apa.


Suara ombak terdengar sampai ke telinga, tubuh mereka sedikit bergoyang mengikuti lantai, seolah-olah berada di atas kapal.

__ADS_1


 Max ketakutan dan berteriak: "Berani sekali kalian, apakah kalian tahu siapa aku?"


"Orang macam apa kamu, mari kita dengarkan?" Sebuah suara yang terdengar seperti orang tua bertanya.


"Aku adalah kerabat dari keluarga Setyawan, putriku adalah menantu dari keluarga mereka, jika kalian berani menyentuh kami, keluarga Setyawan tidak akan melepaskan kalian!" Max berteriak.


Ini adalah andalannya dan satu-satunya kesempatan untuk dapat hidup!


“Benar, putriku juga melahirkan seorang putra untuk keluarga Setyawan, dia merupakan satu-satunya generasi keempat dari keluarga mereka.” Santika ikut berkata.


Hanya Tisna yang gemetaran tanpa dapat bersuara... Dia mengenali siapa tuan dari suara tua itu!


“Kalau begitu, lihat siapa aku.” Tirta berkata dengan wajah muram.


Tutup kepala mereka bertiga dilepas, mereka perlahan-lahan membuka mata sambil menyesesuaikan cahaya di sekelilingnya, baru kemudian mereka dapat melihat jelas siapa orang yang berada di atas kursi roda di depan mereka.


  “Ke… Kepala keluarga Setyawan!” Wajah Max tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Tisna menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Tirta. Dia sudah tahu mengapa keluarga Setyawan menangkap dirinya. Rencananya yang cermat telah terbongkar!


Dengan balok-balok semen yang diikatkan di kakinya, Max sudah mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Dia pernah memiliki banyak pesaing yang dia tenggelamkan ke laut, ia tidak pernah berpikir bahwa suatu hari akan menjadi gilirannya.


"Tisna tidak bermaksud memprovokasi antara Anda dan Handoko. Anda telah menghabisi nyawanya. Mengapa anda tidak membiarkan kami pergi? " Max berjuang untuk terakhir kalinya.


“Benar, kami adalah kakek dan nenek Ardana. Demi Ardana, tolong lepaskan kami!” Ingus dan air mata Santika keluar karena ketakutan.


Tirta yang mendengarnya semakin marah, ia menggertakkan giginya dan berkata: "Ingin tahu mengapa? Tanyakan pada putri kesayanganmu."


Max dan Santika menoleh dan melihat sekeliling, mereka melihat Tisna membungkuk dan menggigil.


"Aku hampir lupa, dia tidak punya lidah dan tidak dapat berbicara. Jalang ini mengkhianati Djani dan menjalin hubungan gelap dengan Pram, putra yang dia lahirkan sama sekali bukan benih keluargaku!"


Tirta berteriak keras dengan wajah yang mengerikan!


"Keluarga Setyawan tidak memiliki keturunan lagi karena dia, jadi kalian juga harus mencicipi rasanya."


Kita tidak bicarakan Pram karena dia telah dijatuhi hukuman mati, jika Theo keluar dari pennjara, itu akan menjadi hari kematiannya!


“Ti... tidak mungkin, bagaimana bisa... begini!” Max menggelengkan kepalanya berulang kali.


Tirta melambaikan tangannya.


Beberapa pengawal melangkah maju dan melemparkan Tisna ke laut dengan balok-balok semen yang diikat di ditubuhnya.


“Tolong maafkan aku, wanita jalang ini bukan anak kandung kami, apa yang dia lakukan tidak ada hubungannya dengan kami!” Max berteriak.


Tirta mengabaikannya.


"Byur... Byur..."


Keduanya di tenggelamkan ke laut.


Tirta melihat ke permukaan laut, ia hanya menunggu Jarot kembali, maka dia akan membalas dendam dengan pisau jagalnya!


.........


.........

__ADS_1


Sebuah kapal barang berlayar di laut lepas lebih dari 3.000 kilometer jauhnya. Jika dapat melihat dari angkasa lepas, sebuah kapal perang sedang menunggunya dari kejauhan...


__ADS_2