
Setelah selesai meminum obat nya, Sarah meminta Dina untuk membantun nya bangun dari tidur nya. "Dina apa boleh aku meminta bantuan mu?"
"Tentu saja nona, dengan senang hati saya akan membantu nona."
"Baik lah, tolong antar kan saya ke kamar mandi."
"Hah!" Dina hampir saja tertawa, ternyata nona nya haya minta di antar kan ke toilet.
"Kenapa? kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
"Ah tidak, saya hanya kaget saja, ternyata nona hanya minta diantar kekamar mandi."
Sarah juga tersenyum mengembang, karna Dina juga termasuk orang yang sangat lucu.Dina langsung membawa Sarah Kekamar mandi nya. "Din." Pangil Sarah lagi.
"Iya nona, ada apa lagi?"
"Bantu saya pasang kan ini dong!"
"Apa nona tidak malu?"
"Buat apa malu, lagi pula aku lagi sakit, jadi gak pa-pa lah."
"Nona tuh asik yah, saya senang bisa ketemu sama nona."
"Ah, kamu ini bisa aja," ucap nya malu-malu.
🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊
"Sarah," Reyhan hanya bisa berteriak-teriak , akhir-khir ini. Reyhan jadi orang yang sangat kejam entah bagaimana orang yang pertama nya tidak sekejam monster ini, dulu Reyhan sangat baik, tapi entah kenapa semenjak ia menikahi Sarah, ia menjadi seperti monster.
"Ah, iya tuan."
"Aku ingin kopi , buat kan sekarang juga. "
"B-baik tuan." Sarah langsung melengang pergi kedapur, ia akan membuatkan kopi untuk Reyhan.Lima menit kemudian kopi sudah jadi, Sarah langsung meletakan nya di meja, sebernya aku ingin sekali menanyakan, kenapa Reyhan bisa mengamuk pada ku, mungkin belum saat nya aku bertanya, kondisinya juga belum setabil.
Reyhan yang merasa di perhatikan, langsung menatap Sarah, ia binggung kenapa ia bisa menikahi Sarah dan yang pasti, Sarah itu masih sekolah, lalu apa yang ada di pikiran nya. Ayah nya Sarah juga sebenar nya tidak mempunyai hutang, ini cuman akal-akalan ibu nya saja. Agar Sarah bisa dihabisi di keluarga ini. Dan mengambil selur harta Keluarga tuan Harun.
"Mau sampai kapan liatin aku terus?" tanya nya ketus.
"Ah, tidak." Sarah mulai salah tingkah.
__ADS_1
"Ada yang mau di bicarakan?"
"Tidak."
Sebenar nya sarah ingin sekali bertanya, tapi ia masih takut akan kejadian semalam. Tapi ia berusaha menahan apa yang ingin ia sampaikan. Sarah hanya tau dari Dina, jika Reyhan suka mabuk, dan dalam keadaan mabuk, Reyhan suka melukai semua orang yang ada di dekat nya.
"Aku permisi kekamar dulu tuan."
"Hmm."
Hanya deheman yang dilakukan oleh nya, Sarah langsung beranjak ke kamar nya. Sarah berkecamuk dengan diri nya sendiri. Dia benar-benar di landa kebingungan. Sekarang apa yang akan di lakukan nya, dan ini juga membuat pikiran nya yang kacau balau, tambah kacau. Sarah tidak boleh terlalu banyak pikiran, ia masih sakit dan harus banyak istirahat.
"Mau sampai kapan, ngelamun terus?" Reyhan tiba-tiba saja datang, membuyarkan semua lamunan Sarah.
"Eh, tidak. Aku tidak melamun."
"Jelas-jelas kau melamun, masih aja ngelak."
"Tuan."
"Iya."
"Aku ingin sekolah lagi tuan."
"Huhuh." Sarah hanya menghela nafas lelah, karna Reyhan betul-betul tidak memberikan izin, pada hal ia hanya minta sekolah, bukan minta rumah atau pun kekayaan yang di miliki nya.
Jujur aku menyesal, sudah melukai Sarah tapi itu hanyalah khilaf tidak ada niatan aku ingin melukainya. Mungkin sampai kapan pun ia tidak akan pernah melupaka. Jika dia telah melukai Sarah begitu kejam, begitu pun sebalik nya. Jika sekali lagi Reyhan berani melukai Sarah, maka Sarah tidak akan bisa diam saja, ia juga manusia sama seperti Reyhan. Sarah juga ingin di kasihani, oleh suami nya sendiri.
***********
'Cklekk'
Pintu kamar di buka oleh Dina. Terlihat Dina membawa nampan berisi makanan untuk Sarah. Sehari ini Sarah belum ada memakan apa pun, "Nona ayo di makan dulu makanan nya."
"Tidak Din, aku sama sekali belum
lapar."
"Tapi nona harus makan, jika tidak nanti nona akan lama sembuh nya."
"Tidak Din."
__ADS_1
"Nona harus mau walaupun cuman sedikit. "
"Ayo lah non, biar saya suapin yah?"
"Tidak Din."
"Baik lah jika nona tidak mau, tapi nanti nona harus memakan makanan nya."
"Iya, Dina bawel."
"Kalau gitu saya pamit keluar dulu non."
"Iya." Jawab nya singkat, ia benar-benar malas untuk melakukan apa pun, walau pun cuman makan itu rasanya seperti mengangkat batu-batu yang amat besar. "Mengapa tidak kau makan makanan mu?" Ucap nya ketus, pasti Dina yang telah memberitahu Reyhan."Aku tidak lapar." jawab ku tak kalah ketus dari nya."Apa ingin mati konyol karna kelaparan."
"Apa peduli mu, bukan nya kau senang bila aku mati."
"Udah untuk aku masih mau memberi mu hidup, dan sekarang kau yang meminta mati hah!" Bentak nya dengan tangan mengepal, rahang mengeras mata memerah. Itu lah ciri-ciri Reyhan jika ia sendang di landa kemarahan.
"Udah jelas kan, kalau kamu dan ibu mu bahagia bila aku mati, terus kenapa kau harus peduli lagi pada ku."
"Jangan buat aku marah lagi Sarah!!!" bentak nya tak terima dengan Sarah, yang hanya terus melawan kata-katanya.
"Aku berhak melawan, aku juga manusia sama seperti mu, bukan cuman kamu aja yang cuman bisa marah, aku juga bisa."
"Aku sudah berusaha sabar Sar, agar aku tidak melakukan kekerasan lagi pada mu, jadi tolong jangan pancing emosi ku lagi Sar!!!"
"Harus nya aku, aku yang pantas mengatakan itu. Bukan kamu!!!"
"Cukup, Sar. Aku udah mau sabar dan tidak ingin menyakiti mu lagi, tapi kenapa kamu terus memaksa ku melakukan kekerasan terus."
"Aku tidak pernah, memancing mu Rey, hiksss... hikkssss..... aku lelah, aku lelah. Aku ingin kau melepaskan ku, aku tidak mau hanya tersiksa di rumah besar bak neraka ini Rey, hiksss.... hikssss..... aku lelahhh."
"Aku, a-ku ingin pisah Rey, apa kamu menerima nya, hikssss..... hikssss...."
"Aku tidak akan pernah menceraikan mu Sar!!!!, walau pun aku akan menyiksa mu, dan satu lagi aku akan....."
"Akan apa Rey, jawab aku!!"
"Cukup Sar! aku akan keluar dan kamu habisakan makanan mu, aku tidak ingin ada orang yang mati konyol karna mati kelaparan."
Reyhan keluar dengan emosi yang meluap-luap, ia sangat cape menghadapi Sarah yang sangat keras kepala, bagaikan batu yang tidak mudah untuk sekali pukul hancur.
__ADS_1
"Menagapa semua ini terus terjadi, kapan aku akan bebas aku lelah terus seperti...."