
"Assalamualaikum........
**Seperti biasa nya, sebelum baca jangan lupa, Vote nya, dan sesudah baca jangan lupa like dan dan komen nya.
Mari kita dukung autor melalui like, dan kome nya, vote nya juga bisa, kawan-kawan juga, jangan lupa ikutin autor, nanti tak ikutin balik oky.
Kita bisa saling bertanya lewat chat, makan nya jangan lupa ikutin autor, yah. Biar tambah semangat terus nulis nya.
Udah itu aja sih unek-unek yang, pengen autor kasih tau..
Kurang dan lebih nya autor minta maaf.
Terimakasih, silah kan di lanjut tin baca nya.
Wassalamualaikum wr.wb."
🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊🐰🕊**
"Nat, kok perut aku rasa nya mual banget, kepala aku juga rasa nya pusing banget." Sarah memegangi kepala nya, yang terasa sangat pusing, di tambah perut nya yang mual, seperti di aduk-aduk.
"Kok, bisa? terus gimana?" tanya nya pura-pura, tidak mengerti, dalam hati nya ia sangat senang karan efek obat nya sangat manjur.
"Aku gak tau, Nat. Sebaik nya kita pulang aja yah, Nat. Aku gak kuat pusing banget, mana perut aku juga mual banget."
"Kenapa pulang, mungkin itu bawa an bayi, bukan nya itu udah bisa yah, kalau sama ibu hamil."
"Tapi aku beneran gak kuat, Nat."
Sarah udah sangat terlihat pias, kaki nya lemas sekujur tubuh nya, lemah.
"Hmmm.... baik lah, ayo kita pulang."
Sarah dan Natali, berjalan menuju mobil. Keringat dingin sudah berkeluaran, tapi Sarah masih bisa bertahan.
🕊🐰🕊🐰🕊
"Astaga... nona dimana kenapa nona tidak ada di kamar nya?" Dina panik saat melihat kamar, Sarah kosong. Dina juga sudah mencari di setiap penjuru rumah ini, tapi tidak ada sama sekali.
"Aku harus bagaimana, semoga saja nona baik-baik saja." Saking panik nya Dina, menelpon Reyhan.
"Hallow tuan?"
"...... ....... .... "
"Nona tidak ada di rumah tuan, saya takut nona kenapa-napa, tuan."
".... ...... ..... ..... "
"Iya tuan."
Dina mematikan sambungan telpon nya."Kenapa aku bisa lengah seperti ini sih, bagaimana jika tuan akan marah, pada ku."
__ADS_1
Dina takut, jika terjadi sesuatu dengan nona nya, pasti ia akan kena marah. Ia sangat takut pada Reyhan.
"Ayo dong nona angkat telpon nya." Dina berusaha menelpon Sarah, tapu tidak di jawab .
"Yatuhan, selamat kan lah nona, dari mara bahaya."
🕊🐰🕊🐰🕊
"Kenapa dia bisa pergi?"
"Saya tidak tau tuan, saat saya masih di dapur tadi, nona masi mengobrol bersama nona Natali tuan."
"Apa Natali?"
"Iya tuan, saja juga gak tau jika nona Natali, sudah tidak ada."
Jelas nya pada Reyhan secara rinci. Ia lebih baik berkata jujur, walapun pada akhir nya ia akan kena marah. Dari pada ia harus berbohong, tapi perasaan nya tidak nyaman.
'Tok.... tok.... tok...'
"Permisih tuan saya mau membuka kan pintu dulu."
"Iya silah kan."
Dina berjalan menuju pintu depan, 'cklek' pintu di buka oleh Dina, dan menampak kan Sarah dan Natali.
"Nona anda kenapa?" tanya Dina panik.
"Dia sakit." Bukan Sarah yang menjawab melain kan Natali.
Reyhan segera mengambil alih, ia mengangkat Sarah menuju kamar nya. Yang di ikuti oleh Dina dan Natali.
Setelah meletak kan Sarah, di tempat tidur Reyhan duduk di samping nya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?" ucap nya sambil mengelus kepala Sarah, sayang.
"Dia memakan nanas muda, saat kami di taman tadi." Ucap Natali, tentu saja membuat Sarah dan Reyhan kaget, bukan main. Begitu pun Dina, apa maksud nya coba.
"Apa?"
"Iya dia memakan nanas muda, tadi ia ingin sekali memakan nya. Padahal aku sudah melarang nya tapi...."
"Dasar gadis bodoh, kau ingin membunuh anak ku hah?"
"Gak, Rey. Itu bohong aku sama sekali gak makan.."
Ucap nya lemah yang langsung saja di potong oleh Reyhan.
"Kenapa mau bohong? aku kira kamu mau memiliki anak dari ku, tapi apa nyatanya kamu baru tau hamil aja, langsung mau ngegugurin."
"Gak, itu bohong..." ucap nya lirih, ia sama sekali tidak melakukan nya, kenapa Natali tega sekali mengatakan, yang sebenar nya tidak terjadi.
__ADS_1
"Jangan percaya dia lagi Han, bukti nya dia gak mau punya anak dari kamu." Ucap nya sengit.
Mual yang di alami Sarah mulai kembali, Sarag merasakan mual yang tidak dapat di jelas kan lagi.. mual nya begitu hebat..
Sarah muntah darah begitu banyak, dan di daerah intim nya juga mengeluar kan darah yang amat segar.
"Din, cepat pangil kan dokter!" perintah Reyhan pada Dina.
"Kenapa mesti di pangil kan dokter, dia aha ingin membunuh anak mu?"
"Justru itu, aku memangil dokter, agar anak ku selamat." Ucap nya dengan nada tinggi.
Sarah terus saja mengeluar kan darah, dengan kondisi nya yang sudah tidak sadar kan diri lagi.
Karna Natali semua ini terjadi, jika saja Natali tidak memasuk kan obat itu mungkin, Sarah tidak akan seperti ini.
"Mengapa dokter nya lama sekali, Sarah udah mengeluar kan banyak darah, aku takut terjadi sesuatu dengan bayi ku." Reyhan mengantik kan pakaian Sarah, secara telaten ia takut, takut kehilangan anak nya, dan ia juga takut kehilngan Sarah.
"Dokter nya mengalami kemacetan." Ucap Natali, dengan senyum tersungging di bibir nya.
"Apa? kenapa tidak menelpon dokter yang lain?" ucap nya panik, dan marah.
"Semua dokter sibuk, hanya dokter Ilham lah, yang tidak terlalu sibuk, dan sekarang ia dalam perjalanan. "
"Aaaarrrgggghhhh........ kenapa semua ini terjadi?" teriak nya prustasi.
"Kenapa kamu gak bawa dia kerumah sakit aja?"
"Ahh... iya, kenapa aku bodoh sekali." Reyhan bangkit dan membawa Sarah kedalam gendongan nya.
"Dina nanti kamu siap kan semua barang-barang nya."
"Baik tuan."
Reyhan membawa Sarah masuk kedalam mobil, ia menyetir sendiri.
🕊🐰🕊🐰🕊
"Bagaimana apa rencana nya berhasil?" tanya Aldo, dengan senyum yang terukir di bibir manis nya.
"Tentu saja berhasil, dan sekarang kita sudah menyalakan api nya."
"Dan aku yang akan, membuat api itu semakin banyak."
"Hahahhahahah...... kerja bagus, sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Natali.
"Tenang saja, Nat. Aku udah punya sesuatu yang pasti nya akan membuat, Sarah dan Reyhan, terpecah menjadi dua."
"Sekarang tinggal kita tunggu, hasil nya apa kah obat itu berhasil atau tidak ."
"Oky, kamu masih ingat kan, jangan terlalau melukai nya?"
__ADS_1
"Tentu saja aku ingat, gak mungkin aku akan melukai nya, aku takut pria yang menyukai nya akan marah besar pada ku."
"Kamu ini, tentu saja aku marah, jika dia sampai kena-."