
“ sayang udah Maghrib” mas Rendy mengusap kepalaku yang masih memakai jilbab. membangunkan ku dari mimpi indah.
Aku mengerjapkan kedua mataku dan menatap mas Rendy yang masih menatapku.
“ perutku sakit banget mas” kataku berusaha bangun di bantu mas Rendy.
Aku mengambil bajuku yang masih ada di kamar tamu. Aku berjalan ke kamar mas Rendy dengan tangan memegang perut. Entah kenapa perutku rasanya sakit banget.
aku masuk kamar, kulihat mas Rendy masih duduk di tempat yang sama. aku masuk kamar mandi dan menjalankan ritual mandi sebelum ikut acara manaqiban.
Aku menghela nafas panjang saat menemukan bercak merah di celana dalamku. Ternyata sakit perut yang kurasakan akibat datang bulan.
aku mandi dengan tenang walau perutku masih terasa sakit. saat mau memakai baju aku baru ingat tadi kan aku tidak bawa pembalut.
“ mas” teriakku dari dalam kamar mandi,
“ mas Rendy” aku kembali berteriak sedikit keras karena tidak ada sahutan dari mas Rendy.
“ dalem” jawab mas Rendy dengan bahasa Jawa saat aku mengeluarkan kepalaku dari balik pintu kamar mandi.
“ aku lagi dapet” kataku memelas berharap suamiku ini peka membelikan ku pembalut.
“ trus?” tanya mas Rendy tidak peka sama sekali.
“ beliin pembalut lah, masak aku keluar nggak pake pembalut, yang ada nanti bocor kemana-mana” kataku kesal.
Mas Rendy menggaruk kepalanya tidak paham dengan istrinya yang tiba-tiba kesal.
__ADS_1
“ malu lah sayang, pinjem punya mbak Asiyah dulu ya” kata mas Rendy.
“ kamu dong yang pinjemin” kataku masih kesal.
“ kamu aja lah, mae malu” tolak mas Rendy.
“ gimana sih, kalau aku yang pinjem yang ada darahnya jatuh kemana-mana mas” kataku kesal. Sumpah rasanya aku ingin teriak di depan wajah mas Rendy.
“ ya udah tunggu bentar”. Mas Rendy keluar kamar dengan wajah memerah. Beberapa menit kemudian mas Rendy kembali dengan pembalut yang di sembunyikan di balik baju Koko putih yang di pakainya.
“ sayang, nih pembalutnya” mas Rendy mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan.
“ terimakasih” kataku masih dengan muka kesal. Aku menutup pintu tanpa menghiraukan mas Rendy yang masih berdiri di depan pintu heran dengan sikapku.
aku keluar kamar mandi dengan gamis warna putih yang senada dengan baju Koko yang di kenakan mas Rendy. aku memakai sedikit riasan agar wajahku tidak terlihat pucat.
selesai make up aku menghampiri mas Rendy dan mencium tangan kanannya. Mas Rendy menatapku heran.
“ aku udah minta maaf loh mas, masa kamu diam aja sih” ucapku kembali kesal melihat mas Rendy hanya diam saja.
Mas Rendy kembali menatapku tidak percaya, dia bahkan menggaruk kepalanya. dia sudah tidak tahu lagi kenapa istrinya ini kembali kesal padanya.
“ kamu kenapa sih sayang?” tanya mas Rendy bingung.
“ aku tuh tadi minta maaf sama kamu gara-gara aku marah-marah gak jelas kamu nya malah diem aja” kataku melepaskan tangan mas Rendy yang masih aku pegang.
“ iyaa mas udah maafin kok” kata mas Rendy lembut mengambil tanganku untuk di genggam kembali.
__ADS_1
“ beneran udah dimaafin?” tanyaku memastikan.
“ iyaa sayang” jawab mas Rendy masih dengan nada yang lembut, kali ini mas Rendy mengusap puncak kepalaku yang memakai kerudung.
“ mas mau sholat isya dulu, kalau kamu mau ke Mushola dulu nggak papa” kata mas Rendy beranjak dari duduk nya ke kama mandi untuk wudhu.
“ bareng mas aja, perutku masih sedikit sakit ” kataku duduk di meja rias sambil memainkan hp.
Aku menatap mas Rendy yang sedang menjalankan sholat isya'. Aku tersenyum bahagia mendapat suami yang ganteng, sholeh rajin ibadah. Rasanya aku menjadi perempuan yang sangat beruntung mendapat suami seperti mas Rendy.
“ ngapain kamu senyum-senyum sendiri” tanya mas Rendy yang udah selesai sholat.
“ mana ada aku senyum” kilahku padahal emang dari tadi aku senyum-senyum nggak jelas sih.
“ itu tadi mas lihat kamu senyum-senyum sendiri, emang lagi mikirin apa” mas Rendy mengambil perfume nya dan menyemprotkan ke baju yang dia pakai.
“ nggak kok”
“ hayo mikirin apa?” mas Rendy masih kepo.
“ apa sih mas, gak jelas banget” kataku keluar kamar berjalan ke arah mushola karena acara manaqiban nya di mushola bareng santri-santrinya Abah agar pernikahannya berkah.
“ istirahat aja kalau perutnya masih sakit” kata mas Rendy yang udah ada di samping ku.
“ nggak enak sama yang lain lah mas” kataku lalu duduk di samping mami. aku tersenyum saat mami mengelus tanganku.
“ kok pucet dek” kata mami memperhatikan wajahku padahal aku udah pakai make up biar gak kelihatan pucet loh.
__ADS_1
“ Lisa lagi dapet mi, hari pertma” ucapku pelan.
“ istirahat aja kalau dek” kata mami khawatir, emang kalau aku lagi datang bulan harus tiduran sepanjang hari karena pernah suatu ketika aku pas lagi datang bulan pingsan cuma gara-gara nggak bisa nahan sakitnya.