
“ nggak usah takut,,, ini mbak Lisa beri uang buat jajan, jangan di ulangi lagi yah” kataku memberikan dia uang buat jajan.
“ terimakasih ning” ucapnya menangis saat menerima uang yang ku berikan.
“ udah nggak usah nangis, kamu sekarang kelas berapa?”
“ kelas tiga Tsanawiyah Ning”
“ panggil mbak aja,,, kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu bilang sama mbak Lisa nanti tak beliin ya”
“ sekarang kamu balik ke kamar, belajar yang rajin jangan mengecewakan orang tua”
“ iya mbak. Makasih banyak” ucap Raka masih menangis. Aku mengusap air mataku yang jatuh karena sedih melihat badan Raka yang kurus kerempeng kurang gizi.
Aku masuk ke kamar dan kembali menangis. Entah kenapa melihat layar belakang Raka membuatku sedih. bersyukur banget aku lahir di keluarga berada, nggak kebayang kalau aku yang ada di posisi nya Raka.
jarum jam menunjukkan angka dua belas malam mas Rendy masih belum balik ke kamar. Aku tidak bisa tidur karena belum nanya mas Rendy besok mau ikut apa nggak.
Aku menatap mas Rendy yang masuk kedalam kamar dan ikut berbaring di sampingku.
“ belum tidur sayang” tanya mas Rendy memelukku.
“ ihh mas cuci kaki dulu ” kataku melepas paksa pelukan mas Rendy.
aku duduk di tepi kasur menunggumu mas Rendy keluar kamar mandi.
“ kenapa?” tanya mas Rendy melihatku yang duduk di tepi kasur.
“ mas besok aku mau ke pondoknya Elsa” kataku menunggu reaksinya.
“ hemm” gumam mas Rendy.
“ kok hemm doang, kamu ikut ya”
“ nggak, males ” jawab mas Rendy tiba-tiba nada bicaranya datar nggak seperti biasa nya.
Aku mulai takut karena mas Rendy jarang banget seperti ini.
“ mau dong mas, masa biarin istrinya pergi sendirian sih” kataku ikut berbaring karena mas Rendy tiba-tiba naik ke kasur dan menarik selimut.
“ temenin ya besok, cuma sebentar aja kok” kataku kembali bicara karena tidak ada sahutan sama sekali dari mas Rendy.
“ nanti aku turutin deh mas Rendy mau apa” bujuk ku berharap membuahkan hasil.
“ nggak”
“ mas apa beratnya sih cuma jenguk ponakan sendiri” kataku sedikit ketus karena tidak sabar menghadapi sikap mas Rendy yang tiba-tiba berubah.
“ trus mau kamu apa?”
__ADS_1
“ jenguk Elsa besok” jawabku kembali melembut.
“ ok” jawab mas Rendy dan aku bersorak bahagian dalam hati. Tapi kayak ada yang ganjal dengan jawaban mas Rendy. Aku menggelengkan kepala menyingkirkan pikiran yang tiba-tiba muncul.
...****************...
“ mas,,, udah siap belum sih lama banget ” kataku kembali lagi ke kamar untuk kedua kalinya karena mas Rendy tidak keluar dari tadi.
“ sebentar,,, mas lagi cari baju” jawab mas Rendy sibuk memilih baju dalam lemari.
“ itu udah aku diao loh” aku menunjukkan baju warna biru yang tergeletak di tepi kasur.
“ bajuku yang warna biru Dongker dimana sayang,,, aku cari-cari kok nggak ada”
aku menghampiri mas Rendy yang masih berdiri di depan lemari dan mengambil baju yang dia cari.
“ cepet jangan lama-lama ” kataku lalu keluar kamar. Entah kenapa rasanya kesal sekali melihat baju yang udah disiapin malah nggak jadi dipakai. Biasanya juga dia Nerima apa aja baju yang aku siapin.
“ gimana sayang bagus nggak?” tanya mas Rendy sebelum masuk ke mobil.
Aku menatapnya dengan sinis dan mengangguk sebagai jawaban. Mas Rendy masuk ke mobil dan mulai melajukan mobil keluar dari halaman rumah.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan mas Rendy pun tidak ngajak ngobrol jadi ya diem aja.
“ mas pindahan kapan?” tanyaku karena suasananya sunyi tidak ada pembicaraan apapun.
“ cari dari luar aja lah mas, nggak enak nyusahin mereka”
“ terserah kamu nyamannya gimana, asal jangan ngerjain pekerjaan rumah sendiri”
“ itu si Raka bawa aja sekalian daripada di keluarin dari pondok kasian nanti putus sekolah” kataku meminta ijin mas Rendy agar Raka ikut dengan kami saat pindahan. Aku tahu Tadi pagi dari mbak Lina kalau Raka akan di keluarkan dari pondok agar santri lain jera dan tidak melakukan hal yang sama.
“ tadi aku juga udah bilang sama mami dan mami juga setuju mau biayai sekolahnya Raka ” imbuh ku. Mas Rendy melirik ku sekilas kemudian kembali fokus ke depan.
“ udah yakin sama keputusan kamu?” tanya mas Rendy memastikan.
“ yakin mass”
“ aku ngikut aja apa baiknya”
“ beneran ya mas”
“ iyaa sayang,,,” mas Rendy mengusap kepalaku dengan lembut.
Aku turun dari mobil dan di susul mas Rendy yang mengandeng tanganku masuk ke dalam pondok pesantren putri.
“ Bade kepanggeh sinten mbak?” (mau ketemu dengan siapa mbak?) tanya santri yang jaga penjengukkan hari ini.
“ Elsa mbak” jawabku yang memang udah ngerti bahasa Jawa. Gimana nggak ngerti, dulu aku juga pernah mondok di sini.
__ADS_1
“ Monggo pinarak riyen,,Kulo timbalke mbak Elsa sekedap” (”silahkan duduk dulu,, saya panggilkan mbak Elsa sebentar”)
Aku dan mas Rendy duduk di tempat yang udah disediakan untuk penjengukkan. Aku menatap mas Rendy ya g tiba-tiba tegang di sampingku.
“ sampun di timbalke Nopo dereng mbak?” (udah di panggilkan apa belum mbak?”) tanya Ning Shofia menyalamiku. Dan tersenyum sebentar ke arah mas Rendy.
“ ya Allah Ning,,, Sampek pangkling aku Ning, tambah cuantik” kataku mencium tangan Ning Shofia.
“ bisa aja kamu mbak,,, mbak Lisa juga tambah cantik ini,, aura pengantin baru ” kata Ning Shofia lembut sambil tersenyum.
“ Ning Shofia kok nggak dateng pas saya nikah”
“ walah mbak,,, disini juga sibuk ponakan saya khitanan”
Aku melihat Elsa yang datang menghampiri kerah kami dengan kepala menunduk.
“ ohh,,, jenguk mbak Elsa to” kata Ning Shofia tersenyum. Kalau kalian belum tahu Ning Shofia ini putrinya Abah Nadhif yang punya pondok Al Falah.
“ saya tinggal dulu ya mbak”
“ iya Ning ” aku mengangguk tersenyum. Udah lama banget aku tidak pernah ketemu dengan Ning Shofia karena dulu Ning Shofia juga mondok.
“ kamu kenapa mas,,, dari tadi diem aja” kataku duduk di samping Elsa karena dari tadi waktu ngobrol sama Ning Shofia aku berdiri.
“ Aunty,,, aku kira om bakalan nggak mau loh” kata Elsa tersenyum melihat mas re sy yang mendelik ke arah Elsa.
“ bujuknya susah El” jawabku menepuk paha mas Rendy yang masih mendelik tidak suka pada Elsa.
“ nih pesenan tuan putri Elsa” aku memberikan titipan yang di minta Elsa.
“ Aunty suapin ya,,, kamu belum makan kan? Aku membuka bungkusan yang disiapkan ummik sejak subuh tadi.
“ hehehe,,, Aunty tau aja”
“ emang kamu nggak punya tangan,,, makan sendiri kan bisa?” kata mas Rendy tidak terima istrinya menyuapi orang lain selain dirinya. Padahal sama ponakan sendiri loh.
“ emang kenapa,,, orang Aunty juga yang nawarin” Elsa melet mengejek mas Rendy yang semakin kesal dengan tingkah Elsa.
...****************...
...halo guys 🥰🥰🥰...
...terus dukung karyaku ya 😇😇😇...
...Jangan lupa like komen vote dan hadiahnya 🤗🤗🤗...
...Salam manis dari akuhh 😂😂😂...
...Terimakasih 🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
__ADS_1