Dialah Imamku

Dialah Imamku
bab 43


__ADS_3

“ Saaa,,,, cepetan bangun” aku menggoyangkan badan Sasa yang masih tidur. Padahal kita udah janjian perginya pagi.


“ ya ampun Lis,,, Lo bawel banget sih” kata Sasa bangun dan duduk di tepi kasur sebelum masuk kamar mandi.


“ kan udah dibilangin berangkat ya pagi”


“ tapi ini tuhh kepagian dari jadwal yang Lo tentuin sendiri” kata Sasa mau berbaring lagi.


“ eh,,, eh,,, eh,,, mending sekarang cepetan mandi deh biar segeran” kataku mencegah Sasa kembali tidur.


“ aku tunggu di bawah ya,,, nggak pake lama” kataku meninggalkan Sasa yang udah masuk kamar mandi.


“ Sasa udah bangun Ning?” tanya Tante Mira ibunya Sasa membawa beberapa cemilan.


“panggil Lisa aja Tan,,, ” kataku mengambil minuman yang di buatkan Tante Mira.


“ walah,,, malah Tante yang nggak enak manggil istrinya Gus Rendy namanya tok” kata Tante Mira tersenyum.


“ nggak papa Tan,,, kan saya juga temennya Sasa, anggap aja kayak temen nya yang lain”


“ walah Ning,,, bisa aja kamu”


“tante denger dari Sasa Ning Lisa sama Gus Rendy mau pindah ke rumah sendiri ya? Kapan Ning?”


“ Alhamdulillah Tan,,, mas Rendy punya rejeki lebih buat beli rumah, rencananya nanti sore pindahan”


“ ohhh nanti sore to, nanti biar Tante suruh si Sasa bantuin pindahan”


“ nggak usah lah Tan,,, malah ngerepotin Sasa nanti” tolak ku karena tahu Sasa nanti sore langsung stay di rumah Deby.


“ ayok berangkat” kata Sasa yang udah siap dengan celana jins dan kaos oblong warna merah maroon.


“ pamit dulu Tante,,,” aku mencium tangan Tante Mira dengan paksa karena dia tidak mau aku cium tangannya.


“ ibu,,, Sasa pergi dulu”


“ kamu udah bilang Deby kalau kita mau nginep di rumahnya selama penelitian?” tanyaku saat kami berdua masuk kedalam mobil.


“ tenang aja,,, udah beres”


“ Sa,,, tadi Tante Mira cerita kamu pernah mondok di pesantren Abah, kami kenal nggak sama yang namanya Shofia Anjani?” tanyaku penasaran apakah benar dugaanku semalam.


“ siapa tuh?” kata Sasa malah balik nanya.


“ Shofia saa,,, Ning Shofia putrinya Kyai Nadhif Kajen ”


“ ohh Ning Shofia,,, kenal, emang kenapa?”


“ cuma nanya doang, kan aku mondok di pesantren Abahnya Ning Shofia, cuma selama mondok nggak pernah tahu kalau Ning Shofia mondok nya di tempat mas Rendy”


“ lohh, yang bener Lo pernah mondok di sana?”


“ iyalah masa bohongan”


“ tapi yang gue denger disana tuh peraturannya ketat banget, betah Lo disana?” tanya Sasa tidak percaya.

__ADS_1


“ ya nyatanya lulus ”


“ wahhh,,, bangga gue sebagai temen lo, gue aja mondok cuma sebulan doang, nggak betah gue diatur-atur ”


“ kamu nggak tahu aja, aku tuh langgan takziran tiap hari”


Sasa memarkirkan mobil di depan rumah tingkat dua dengan taman di depannya. Kelihatan adem dan asri banget.


“ lama banget gue nungguin Sampek karatan” kata Deby menyambut kedatangan ku dan Sasa.


“ nih Kanjeng ratu yang kelamaan ritualnya” kataku menunjuk kearah Sasa yang langsung duduk dan minum yang udah disiapkan Deby dari tadi.


“ lagian gue kan udah bilang jangan pagi,, masih aja ngeyel mau pergi pagi”


“ cek lokasinya kapan nih?” tanyaku karena dua manusia ini malah asik nonton Drakor di tv.


“ Istirahat dulu lah Lis, nggak capek apa mau langsung cek lokasi ” kata Sasa fokus ke layar TV tanpa menoleh.


“ kalau gitu kamu cek lokasi sendiri aja deh sama Deby, aku mau pulang” aku bangkit dari sofa.


“ oke-oke ” kata Sasa ikut berdiri.


“ gawat nih kalau ibu negara udah marah” kata Deby juga ikutan berdiri.


“ nah gitu kek dari tadi” ucapku menyunggingkan senyum.


Sampai di lokasi kamu hanya melihat-lihat dan sedikit bertanya tentang situasinya kayak apa biar besok kalau udah penelitian tidak kagok mau ngapain.


Selesai dengan semuanya kami pulang. Sasa dan Deby ikut kerumah katanya mau bantuin pindahan. Lumayanlah yah ada bantuan gratis.


Aku masuk ke kamar untuk membantu mas Rendy yangbudah siap packing barang-barang dari tadi pagi sedangkan kedua sahabatku itu menunggu di gazebo depan.


“ udah” jawab mas Rendy mulai mengangkat barang-barang yang akan di bawa ke depan di taruh di mobil.


Aku menyeret dua koper dan memberikannya pada Sasa dan Deby. Aku kembali ke dalam kamar mengambil dua koper lagi dan menyeretnya ke luar dan memberikannya pada mas Rendy agar di masukkan kedalam mobil.


“ sayang,,, Raka panggil suruh barang-barang nya cepet taruh ke mobil”


“ masa iya aku yang ke pondok putra"


“ nggak papa,, nanti bilang aja sama kang Muklis yang di kantor putra suruh panggilin si Raka”


Aku menatap mas Rendy dengan kesal, tapi tetap juga kakiku ini berjalan menuju pondok putra.


“ kang Muklis,,,” panggilku saat kang Muklis keluar dari kantor putra.


“ dalem Ning” jawab kang Muklis sambil menunduk.


“ tolong panggilin Raka ya,,, suruh barang-barang nya taruh ke mobil sekarang”


“ injehh Ning ”


aku menatap Raka yang berjalan kearah ku dengan tas gendong dan kardus di tangannya yang berisi buku dan kitab kuning miliknya.


“ udah itu aja barangnya?” tanyaku mengambil alih tas gendongnya karena dia sepertinya kesusahan membawanya.

__ADS_1


“ iya mbak,,, ”


Aku menaruh tas dan kardus milik Raka di bagasi dan menyuruhnya duduk di samping Sasa karena si Debi ada di kursi belakang. katanya mau rebahan selama perjalanan nanti.


“ hati-hati Lee,,, nyetir nya pelan-pelan ” pesan ummik.


“ Lisa pamit dulu ummik” aku mencium tangan ummik dan Abah bergantian.


“ bener nggak mau bawa mbak ndalem nduk?” tanya ummik memastikan karena aku menolak untuk tidak membawa salah satu mbak ndalem ummik.


“ nggk ummik,,, nanti biar cari pembantu aja yang bantu beres-beres ”


“ itu suamimu di ingatin nduk jangan Sampek lupa makan” pean ummik.


“ siap ummik”


“ mbak,,, Lisa pamit dulu ya” ucapku pada mbak Asiyah dan mbak Lina cipika cikipi.


“ hati-hati dek,,, yang nurut sama suami ” kata mbak Asiyah.


“ kalau ada apa-apa bilang aja ya,,, jangan sungkan” kata mbak Lina memelukku dengan erat.


“ siap mbak,,, nanti kalau Lisa pengen masakan buatan mbak Lina tinggal telpon kan?” kataku bercanda.


“ gampang itu dek,,, nanti mbak Lina yang berantakan dapurmu”


“Raka yang nurut sama mbak Lisa,,, jangan bandel” pesan Abah pada Raka.


aku dan Raka masuk kedalam mobil menyusul mas Rendy yang udah masuk duluan.


“ Barangnya nggak ada yang ketinggalan Lee,,,?” tanya mas Rendy saat Raka duduk disamping Sasa.


“ mboten mas,,,sampun sedanten” ( nggak mas,,, udah semua).


Mas Rendy melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


“ udah makan sayang,,, mampir makan dulu gimana?” tanya mas Rendy.


“ udah,,, Raka udah makan belum dek?” tanyaku pada Raka.


“ belum mbak”


“ mampir makan dulu nggak papakan ?” tanya mas Rendy.


“ iyaaa”


mas Rendy membelokkan mobil ke warung makan di pinggir jalan yang udah terkenal enak banget masakannya. kalau nggak salah ini adalah salah satu tempat makanan favorit mas Rendy.


kami semua turun padahal yang mau makan hanya mas Rendy sama Raka. tapi yang lainnya tetap aja ikut turun. Katanya mau minum es biar seger tenggorokannya nggak kering.


...****************...


...Haloo guys 🥰🥰🥰🥰...


...jangan lupa like komen vote dan hadiahnya 🤗🤗🤗...

__ADS_1


...Terimakasih buat kalian yang selalu ngedukung karya-karya ku 😊😊😊...


...Salam manis dari akuhh 😂😂😂...


__ADS_2