
aku berpapasan dengan mbak Lina yang mau ke dapur ngambil makan untuk Alba.
“ Alba belum makan mbak?” tanyaku heran karena biasanya Alba selalu makan tepat waktu.
“ badannya lagi nggak enak dek, dari pagi rewel terus, tadi ashar baru tidur sekarang kebangun dan minta makan” kata mbak Lina mengambil nasi dan telur ceplok kesukaan Alba.
“ loh sakit apa mbak?”
“ demam, mbak Sampek bingung tadi rewel banget nggak mau turun mau ya di gendong terus”
“ ini Alba nya dimana mbak?”
“ di ruang tamu sama mbak Vivi, digendong Baba nya juga nggak mau”
“ mbak Istirahat aja biar Lisa yang nyuapin Alba” kataku tidak tega melihat mbak Lina capek banget.
“ mbak temenin dulu ya takutnya Alba nggak mau” kata mbak Lina berjalan ke ruang tamu.
“ Alba mau ikut Aunty sayang” aku mengambil Alba dari gendongan mbak Vivi yang biasanya momong Alba.
Alba memeluk leherku dan merebahkan kepalanya di pundakku sedangkan mbak Vivi mengambil alih makanan yang dibawa mbak Lina.
“ mbak istirahat aja” kataku pada mbak Lina karena masih berdiri melihat Alba dalam gendonganku.
“ mbak nitip sebentar ya Lis”
“ iya mbak santai aja”
Sepeninggalan mbak Lina aku sibuk dengan Alba yang nggak mau makan.
“ Alba makan dulu ya, biar sehat nanti biar bisa main lagi” kataku membujuk Alba agar mau makan.
“ sedikit aja ya” kataku kembali membujuk Alba karena dia tidak mau membuka mulutnya sama sekali.
“ kalau Alba sakit nanti bunda sedih loh, nanti bunda nggak ada yang jagain kalau. Bunda sakit” kataku kali ini Alba mau menerima suapan pertama.
“ Alba kenapa sayang?” tanya mas Rendy. Dia duduk di sofa dan melihat Alba.
“ sakit nggak mau makan ini” kataku. Mas Rendy mengambil Alba dari gendongan ku dan duduk di sofa.
“ suapin gini aja biar nggak capek” mas Rendy memangku Alba dan menghadapkannya ke depan.
__ADS_1
“ sini mbak biar aku aja” kataku pada mbak Vivi.
Aku menyuapi Alba dan dia langsung membuka mulutnya tanpa penolakan dan bujukan.
“ horee, Alba anak pintar makannya udah habis” aku bertepuk tangan agar Alba senang. terbukti dari dia tersenyum walau masih terlihat pucat.
“ mbak, tolong panggilkan kang Muklis ya, bilang mau diajak keluar Gus Rendy” kata mas Rendy pada mbak Vivi.
“ injeh gus” ucap mbak Vivi pelan lalu pergi memanggilkan kang Muklis.
“ assalamualaikum gus” ucap kang Muklis berdiri di pintu.
“ kang ngopi di tempat biasa ya” katanmas Rendy memberikan Alba padaku.
“ injeh siap Gus, pake mobil apa motor Gus?”
“ mobil, mas Fian, kang Huda sama kang Sofi ajak juga kang, mas Fian masih di pondok putra kan?”
“ injih siap, masih Gus ” kang Muklis pamit dan mas Rendy bersiap ganti pakaian dengan kaos warna hitam dan sarung Lasem warna coklat.
“ mau ngopi kemana mas?” tanyaku melihat mas Rendy mau keluar menunggu kang Muklis di halaman depan.
“ kenapa harus kesana?”
“ ada yang harus di bahas masalah pengurus pondok, tempatnya paling nyaman kalau buat bahas sayang”
“ terus pulangnya jam berapa?”
“ kamu tidur aja duluan, takutnya nanti pulangnya kemalaman”
“ nggak bisa, jam sebelas udah harus di rumah”
“ nggak bisa dong sayang, paling awal jam satu malam”
“ ya terserah kamu, kalau jam sebelas belum di rumah kamar udah aku kunci, tidur di ruang tamu aja kalau mau” kataku lalu pergi ke kamar menidurkan Alba yang udah ngantuk.
“ yang, plis lah masa kamu tega lihat suami kamu tidur di ruang tamu, nyamuknya kan banyak sayang” kata mas Rendy yang ternyata mengikuti ku kedalam kamar.
“ terserah kamu mas, pokoknya kalau udah jam sebelas belum di rumah kamar udah aku kunci”
“ ya udah aku pergi dulu” mas Rendy me,berikan tangan kanannya untuk ku cium ritual yang udah terbiasa di lakukan kalau mau pergi.
__ADS_1
“ hemm” aku mencium tangan mas Rendy sedangkan dia mencium kening dan bibirku bergantian.
“ sepeninggalan mas Rendy aku mengunci pintu kamar dari dalam. Aku mulai ikut memejamkan mata di samping Alba dan tiba-tiba pintu kamar di ketuk. Terdengar suara mbak Lina dari luar.
“ loh Alba tidur dek” kata mbak Lina saat aku membuka pintu kamar dan melihat Alba sudah tidur dengan nyenyak.
“ terimakasih ya dek, mungkin nanti mbak bisa tidur dengan nyaman”
“ iya mbak”
“ eh mbak, mas Fian ikut ngopi juga ya?” tanyaku saat mbak Lina udah keluar dari kamar ku.
“ iya dek katanya ada masalah di pondok putra yang harus di bahas malam ini juga”
“ pulangnya jam berapa mbak?”
“ kamu nggak nanya sama dek Rendy?” mbak Lina balik tanya.
“ nanya sih mbak, bilangnya pulang jam satu paling awal”
“ iya mas Fian tadi juga bilang gitu, tapi aku suruh balik jam sebelas takut anaknya rewel lagi”
“ ohh iya makasih mbak”
“ mbak masuk kamar dulu dek”
“ iya mbak”
Aku menutup pintu dan kembali berbaring di kasur. Aku kembali bangun karena baru ingat aku belum sholat isya'.
Aku melipat mukena dan berjalan ke kasur, mataku udah terasa berat untuk melek. Aku berbaring di kasur dan mulai tertidur.
...****************...
...Jangan lupa selalu dukung karyaku ya🥰🥰🥰...
...Dukungan kalian sangat mempengaruhi dalam semangat menulis.😊😊😊...
...terimakasih buat kalian yang udah setia membaca karyaku🤗🤗🤗...
...trus dukung karyaku dengan cara like komen vote dan hadiahnya 😂😂😂...
__ADS_1