Dialah Imamku

Dialah Imamku
bab 23


__ADS_3

aku sedikit merasa enakan saat tangan mas Rendy masih sibuk memijat perutku dengan pelan.


kulihat tangan mas Rendy sibuk memijat perutku sedangkan bibirnya melantunkan sholawat.


Aku tertidur mendengar sholawat yang dilantunkan mas Rendy. suaranya bangus dan adem banget mendengarnya.


Aku terbangun saat sinar matahari masuk ke kamar lewat jendela yang tirainya sudah terbuka. kulihat jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


kulihat sekeliling kamar dan tidak menemukan mas Rendy di manapun. Mungkin dia sudah berangkat mengajar.


Aku berjalan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku yang rasanya lengket sekali. Selesai dengan ritual mandi aku memakai handuk keluar dari kamar mandi karena aku lupa membawa baju ganti.


Perutku masih sedikit sakit, ya walau tidak sesakit semalam. aku keluar kamar saat kurasa penampilanku sudah tapi dengan gamis warna biru Dongker.


Aku tersenyum melihat mbak Asiyah dan mbak Lina sibuk membungkus bingkisan untuk acara nanti malam. aku ikut bergabung dengan mereka dan ikut membungkus bingkisannya.


“ istirahat aja dek” kata mbak Lina ,asih dengan bingkisan do tangannya.


“ udah baikan kok mbak” ucapku tersenyum.


“ dulu pas masih gadis mbak juga gitu pas lagi datang bulan, Sampek tiga hari ,bak nggak keluar kamar” cerita mbak Asiyah.


“ lama banget mbak Sampek tiga hari” kataku heran bisa selama itu, aku aja hanya sehari tok. Nggak bisa membayangkan sih kalau aku ada di posisi mbak Asiyah.


“ itu mah paling sebentar dek bisa juga Sampek seminggu mbak, makanya pas udah waktunya datang bulan mbak nggak berani minum air dingin, minumnya air hangat terus”


“ emang tanggalnya selalu sama mbak?”


“ Alhamdulillah kalau mbak sih tanggalnya selalu sama ya, jadi bisa tahu kalau udah waktunya mau kedatangan tamu” kata mbak Asiyah tertawa.


“ enak mbak kamu tanggalnya selalu sama, aku nggak nentu” kata mbak Lina.


“ sama mbak, Lisa tanggalnya juga nggak nentu” kataku setuju dengan mbak Lina.

__ADS_1


“ mbak tinggal dulu ya, mau siap-siap nanti jam sepuluh mau ngajar” kata mbak Asiyah berdiri dari duduknya.


“ mbak ngajar kelas berapa?” tanyaku sebelum mbak Asiyah masuk ke kamarnya.


“ Mts dek” jawab mbak Asiyah.


“ mbak Lina nggak ngajar juga?”


“ masuk sore dek” jawab mbak Lina tersenyum manis.


“ mulai masuk kuliah kapan dek?” tanya mbak Lina menoleh ke arahku sekilas lalu kembali dengan bingkisan di tangannya.


“ hari Sabtu depan mbak, soalnya Lisa belum ngurus pindahannya”


“ semangat dek dulu mbak pengen banget kuliah tapi nggak bisa karena kekurangan biaya, makanya lulus SMA langsung nikah”


“ kenal mas Fian dimana mbak?” tanyaku penasaran.


“ mbak Lina di jodohin?” tanyaku heran masih ada perjodohan di zaman sekarang.


“ iya dek, dulu pas tahu mas Fian anaknya orang terpandang mbak kaget dan hampir menolak perjodohan itu, apalagi kan mbak bukan anaknya siapa-siapa cuman anak petani doang jadi minder kan mau disandingkan dengan anaknya kiai punya banyak santri ”


“ yang mbak paling bersyukur itu dek, saat tahu kalau mas Fian itu orangnya humoris jadi nggak terlalu lama untuk deketnya, kalau dek Rendy kan lebih ke diem, dari kecil emang anaknya diem banget, apalagi kalau ada orang yang nggak satu jalan maksudnya satu pemikiran sama dia dek Rendy pas langsung pergi, nggak mau berurusan sama orang itu lagi, mbak aja Sampek heran loh dek pas lihat Rendy perhatian banget sama kamu”


“ dulu waktu lulus kuliah dek Rendy di jodohin sama putri seorang kiai di Jawa timur, temannya Abah. Beda banget dek sikapnya, mbak Sampek bilang sama mas Fian kalau Rendy ini benar cinta sama kamu ”


“ jadi mas Rendy pernah di jodohin mbak?” aku penasaran dengan ceritanya.


“ iya, tapi Rendy nya nggak mau, padahal sama Abah udah di kasih waktu buat saling mengenal tetep aja Rendy nggak mau, katanya nggak cocok”


“ baru tahu aku mbak” kataku membuat mbak Lina tersenyum menoleh ke arahku.


“ Rendy nggak cerita dek?”

__ADS_1


“ nggak ini aku baru tahu, kalau mbak Lina nggak cerita aku nggak bakalan tahu mbak” kataku entah kenapa tiba-tiba kesal mendengar cerita dulu mas Rendy pernah di jodohin.


“kalau Rendy tahu kamu udah denger soal ini pasti kelabakan tuh anak” ucap mbak Lina ketawa.


“ bunda Alba laper mau makan” ucap Mila anak mbak Lina yang nomor tiga. Umurnya baru dua tahun tapi udah pintar ngomong.


“ bentar ya sayang bunda selesain ini dulu” jawab mbak Lina membuat Mila merengek.


“ bundaaa, Alba laper” kata Mila masih merengek minta diambilkan makanan sekarang.


“ mau aunty ambilin mau ” tawarku.


“ itu sama aunty Lisa dulu sayang” kata mbak Lina masih sibuk.


“ sini sama aunty” aku mengendong Alba tanpa pemberontakan sama sekali. Dia memeluk leherku saat ku gendong di samping kanan.


“ Alba mau pake lauk apa?” tanyaku pada Alaba yang masih ada di gendongan samping kanan.


“ Alba mau pake telur sama kecap” jawab Alba. Aku mengambil nasi setengah dan telur dadar.


“ mbak. kecapnya dimana ya?” tanyaku pada mbak muna yang biasanya masak untuk orang rumah. Mbak muna ini memang khusus untuk masak aja.


“ Niki Ning” (ini Ning ) mbak muna menyerahkan kecap yang diambil di dalam lemari gantung khusus penyimpanan makanan.


“ makasih ya” kataku tersenyum.


...****************...


...Guys terimakasih sudah mendukung karyaku 🥰🥰...


...Jangan lupa like komen vote dan hadiahnya ya 🥰🥰...


...Salam manis dari aku buat kalian 🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2