Dialah Imamku

Dialah Imamku
bab 35


__ADS_3

“ Lis, siap-siap ya aku sama Deby otw rumah kamu sekarang ” suara Sasa terdengar jelas saat aku mengangkat panggilan video call dia.


“ nih kita udah di mobil otw sekarang, nggak ada acara nunggu-nungguan ya” lanjut Sasa memperlihatkan dirinya dan Deby udah di dalam mobil.


“ iyaa, aku udah siap, cepetan ”


Sasa mematikan panggilan nya dan aku mencari tas yang mau aku pakai nanti. aku sibuk mencari tas yang lupa ku taruh dimana Sampek nggak sadar mas Rendy masuk kamar.


“ jadi berangkat?” tanya mas Rendy yang habis sholat jama'ah ashar di masjid.


“ ini mau pergi ” jawabku masih sibuk mencari tas ku.


“ pulangnya jam berapa ” mas Rendy memperhatikan ku yang masih sibuk sendiri.


“ belum tahu mas, paling Maghrib udah di rumah ”


“ lama banget nyampek Maghrib baru pulang, jam lima lah sayang udah pulang”


“ apaan jam lima udah pulang, perjalanan nya aja butuh setengah jam lebih” ucapku lali ikut duduk di kasur menunggu Sasa dan Deby datang.


“ aku pergi dulu ya mas, temenku udah di depan” aku mencium tangan mas Rendy Salim lalu mencium pipinya bergantian.


Aku melambaikan tangan dan tersenyum melihat Sasa dan Deby didalam mobil. aku masuk dan duduk disamping Sasa karena yang jadi supir hari ini Deby.


“ udah kayak supir pribadi aja gue” kata Deby karena aku kami berdua duduk di belakang.


“ hahaha, jalan pak” ucapku ketawa.


“ nyetirnya pelan-pelan aja pak” kata Sasa ikut ketawa.


aku dan Sasa berteriak bersamaan karena Deby melajukan mobil dengan kencang tanpa aba-aba.


“ pelan-pelan lah Deb ” ucapku mengelus dada karena kaget.


“ nih bocah yak” Sasa menjambak rambut Deby dari belakang.


“ anjing, sakit monyet” teriak Deby mengusap kepala nya yang terasa sakit.


“ lagian udah di suruh pelan-pelan” kaya Sasa.


“ Lis aku denger dari ibuku Abah masuk rumah sakit ya?” tanya Sasa mengalihkan pembicaraan.msedsngkan Deby masih kesal karena rambutnya di Jambak Sasa tadi.


“ iya, tapi Alhamdulillah hari ini udah boleh pulang kok”


“ emang sakit apa?” tanya Deby ikut nimbrung.


“ nggak tahu sih. soalnya mas Rendy aja nggak di kasih tahu, anak-anaknya juga nggak ada yang tahu ”


“ apa jangan-jangan...?” kata Deby tidak melanjutkan omongannya.


“ amit-amit deh semoga aja nggak” ucapku paham kearah mana yang di maksud Deby. Sebenarnya aku juga sempat berfikir umur Abah udah nggak panjang lagi, tapi aku menepis pikiranku itu jauh-jauh.


“ makan dulu aja kali ya” kata Deby ketika kami udah masuk ke mall.


“ belanja dulu lah” saranku karena aku sudah nggak sabar mau milih-milih baju.

__ADS_1


“ iya, si Deby makan Mulu otaknya” Sasa menggandeng tanganku dan berjalan meninggalkan Deby.


Ku lihat Deby berjalan dengan kesal menatap kearah kami berdua.


“ udalah jangan ngambek” kataku menarik tangan Deby agar jalan barengan.


Kami bertiga sibuk dengan baju-baju di depan kami.


“ Lis, bagus nih buat nyenengin suami” Deby menunjukkan baju warna hitam yang tipis, biasanya kita sebut dengan baju dinas untuk menyenangkan suami.


“ nggak ah, malu aku pake begituan”


Aku kembali memilih baju untuk suamiku tercinta. Pandanganku jatuh pada kemeja panjang warna biru muda.


Aku kembali menelusuri mencari pakaian yang bagus. aku mengambil gamis warna maroon kayaknya aku belum punya warna ini.


“ udah belum?” tanyaku pada Sasa yang masih sibuk milih baju. Sedangkan Deby udah duduk di kursi.


“ kamu nyusulin Deby dulu deh, masih bingung aku” kata Sasa sibuk milih baju yang mau dibeli.


“ lo udah belanjanya?” tanya Deby.


“ udah, di Sasa lama banget milihnya ” ucapku duduk di kursi samping kanan Deby.


“ udah kebiasa gue nungguin dia belanja, paling juga nanti dapet satu kalau nggak dua” kata Deby yang udah bosan menunggu temannya yang masih belanja.


“ kita makan dulu deh, laper banget gue” kata Deby memegangi perutnya yang sudah minta di isi dari tadi.


“ Sasa gimana?”


“ Sasa, gue sama Lisa makan dulu di bawah, Lo nggak papa kan sendiri” teriak Deby.


“ oke, nanti gue nyusul”


“ yuk” ajak Deby udah nggak tahan ingin makan.


aku berdiri dan berjalan disamping Deby ke lantai bawah karena restoran nya di bawah.


Deby menyantap makanannya yang baru datang.


“ pelan-pelan Deb” ucapku melihat Debi makan cepat banget.


“ sumpah gue laper banget Lis ” kata Deby dengan mulut penuh dengan makanan.


“ nanti kalau keselek baru tau rasa”


“ udah kayak nggak makan setahun aja Lo Deb ” kata Sasa ikut gabung dengan dirinya dan Deby.


Sasa memesan makanan dan kembali melihat Deby yang makan dengan cepet.


“ lagian tadi gue ajak makan dulu Lo berdua nggak mau ”


“ lah orang baru nyampek udah mau makan aja” kataku sambil memotong stik pesananku.


Makanan Lisa udah Dateng, dia pesen stik sama kayak punyaku. kalau Deby jangan di tanya pesan apa. Dia pesen nasi goreng porsi jumbo.

__ADS_1


“ nanti sholat Maghrib dulu di masjid Deket sini ya” kataku


“ nggak ada masjid kalau Deket sini Lis ” kata Deby yang udah selesai dengan makanannya.


“ ya mampir di masjid nanti kalau perjalanan pulang” jawab Sasa.


“ ya udah yuk, takutnya nggak nyampe waktunya ” aku berdiri membayar pesanan kami bertiga.


Kami masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas mencari masjid mau sholat Maghrib. aku sedikit khawatir nanti kalau mas Rendy marah aku pulangnya kemalaman apalagi batre hp ku habis jadi nggak bisa kasih kabar kalau aku pulangnya agak telat.


Deby membelokkan mobil ke masjid kanan jalan. Aku buru-buru keluar dan mengambil air wudhu karena waktunya tinggal sedikit.


Kami selesai sholat langsung kedengaran suara adzan isya'. kami masih di masjid sekalian sholat isya'.


“ nggak dicariin suami lo kan Lis” tanya Sasa membuatku bingung mau ngomong apa.


“ nggak tahu juga ya, soalnya hp ku mati”


“ pakek hp aku, bilang sama suami lo kita pulangnya agak telat dikit”. Deby menyerahkan hpnya.


“ masalahnya aku nggak hafal nomor mas Rendy Deb ”


“ ya udah nanti biar kita jelasin sama Gus Rendy” kata Sasa. Kami berdiri ikut Jama'ah isya'.


sekitar jam delapan malam aku baru nyampe rumah. Takut banget mau keluar mobil karena aku melihat mas Rendy lagi ngobrol dengan mas Fian dan kang Muklis di gazebo depan.


Aku memberanikan keluar sendiri karena tadi Sasa yang bilang mau jelasin ke mas Rendy kenapa pulang telat aja sekarang nggak berani.


“ baru pulang Lis?” tanya mas Fian menyapaku sedangkan mas Rendy menoleh aja tidak tapi masih menerima saat aku mau Salim.


“ Lisa masuk dulu ya mas” ucapku pamit pada mas Fian karena suamiku ini sepertinya marah beneran karena sejak tadi dia tidak melihatku sama sekali.


Aku masuk kedalam kamar dan meletakkan belanjaan ku di sofa dalam kamar.


Aku berjalan ke kamar mandi mencuci dan membersihkan badan agar nanti bisa langsung tidur.


Aku nggak berani melihat kearah pintu kamar yang terbuka menunjukkan mas Rendy berjalan kearah ku tanpa ngomong apa-apa.


Aku udah siap kalau dia marah. Ya gimana lagi emang aku salah sih. Aku menarik nafas dalam-dalam siap menerima Omelan dari suami.


aku membuka mataku karena tidak sadar ternyata saking takutnya aku Sampek memejamkan mata.


Aku memperhatikan mas Rendy ya g sibuk dengan laptopnya di sofa. dia tidak memarahiku, atau dia tidak mau berantem denganku. Padahal aku udah siap adu mulut dengannya.


...****************...


...Hay guys 🥰🥰🥰...


...makasih ya udah dukung dan memberikan semangat buat aku 😇😇😇...


...Jagan pada bosen ya, dan jangan lupa like komen vote dan hadiahnya di pencet 😂😂😂...


...Terimakasih buat kalian yang selalu mendukungku🤗🤗🤗...


...Salam manis dari aku buat kalian 😊😊😊...

__ADS_1


__ADS_2