
“ nggak enak lah Mi sama yang lain, masa yang punya acara nggak kelihatan”
“ nanti kalau kenapa-kenapa gimana ”
“ udah nggak papa lok perut Lisa juga udah nggak sakit” kataku menyakinkan mami.
“ beneran, jangan bikin mami khawatir loh dek”
“ iya mi tenang aja”
selama pembacaan manaqib aku hanya diam dan membaca sholawat dalam hati. Karena kalau lagi datang bulan kurang baik kalau baca manaqib.
Selesai dengan pembacaan manaqib selanjutnya makan-makan bersama. aku tersenyum melihat santri putra berebutan buah yang ada di depan mereka.
aku mengambilkan makanan untuk mas Rendy. tadinya aku mau langsung makan tapi di suruh mami ngambilin makan untuk mas Rendy, aku sempat protes kalau mas Rendy bisa ambil makan sendiri.
“ mana sempat suamimu makan Lis kalau nggak kamu ambilin”
“ ya kan mas Rendy bisa ambil sendiri Mi”
“ udah ambilin sana, suamimu pasti sibuk ngobrol sama tetangga”
dengan sedikit kesal aku mengambil piting lalu ku isi dengan nasi dan lauk. aku celingukan mencari dimana keberadaan mas Rendy.
“ mbak lihat mas Rendy?” tanyaku pada mbak Lina istrinya mas Fian. Dia baru balik dari Jogja karena adeknya habis wisuda.
“ itu disana lagi ngobrol dengan tetangga” mbak Lina menunjukkan dimana mas Rendy dan mas Fian lagi asik mengobrol dengan tetangga yang ikut manaqiban tadi.
aku berjalan ke arah mas Rendy dengan piring berisi makanan di tanganku. mas Rendy menatapku sekilas lalu kembali berbicara entah apa yang mereka bicarakan aku juga tidak terlalu ngerti.
aku memberikan piring yang tadi sudah ku isi dengan nasi dan lauknya pada ,as Rendy, tak lama kemudian mbak Lina juga berjalan kearah ku membawa piring yang sama seperti yang kuberikan pada mas Rendy.
__ADS_1
mbak Lina memberikan makan lengkap dengan air minum nya untuk suaminya mas Fian. Aku tersenyum saat mbak Lina duduk disamping suaminya.
“ udah makan dek?” tanya mbak Lina.
“ belum mbak”
“ makan dulu dek”
“ nanti aja deh mbak, belum laper ” kataku tersenyum.
“ ohh ya udah, jangan Sampek ninggalin malam loh dek” kata mbak Lina mulai makan di samping suaminya.
“Siap mbak, mana pernah aku lupa kalau soal makan” kataku membuat mbak Lina tersenyum.
“Penganten baru nggak mau jauh-jauh nih" goda mbak Asiyah yang baru datang ikut gabung duduk disamping mas Alfa.
“ namanya juga pengantin baru Mbak masih sayang-sayangan” kata mbak Lina
“ emang kalau pengantin lama nggak sayang-sayangan mbak?” tanyaku membuat yang lain ketawa.
“ beda gimana mbak, aku lihat mbak Asiyah dan mbak Lina masih romantis sama suami”
“ itu kalau di luar kamar dek. Kalau di kamar beda lagi” mbak Lina menimpali perkataanku.
“ jangan salah Lis, mbak mu ini kalau nggak ada orang udah kaya Mak Lampir marah-marah gak jelas ” kata mas Alfa ikut nimbrung.
“ apa sih mas” kata mbak Asiyah tidak terima.
“ tuh kan kamu lihat sendiri” mas Alfa menunjuk mbak Asiyah yang kesal.
“ nggak harus pengantin lama yang begitu, pengantin baru juga gitu” kata mas Rendy membuatku menoleh padanya.
__ADS_1
“ maksudnya apa nih” kataku nggak terima.
yang lain pada ketawa melihatku tidak terima dengan perkataan mas Rendy barusan.
“ tuh kan mas, nggak ada bedanya ” kata mas Rendy pelan tapi masih kedengaran di kupingku.
“ awas kamu nanti ya mas” kataku kembali membuat yang lain ketawa melihat tingkahku yang tidak terima di katakan mas Rendy.
Aku berdiri karena yang lain pada berdiri mengantar tetangga ke depan mau pulang. Ternya bukan hanya tetangga saja tapi juga teman dari mas Alfa dan mas Fian yang sedari tadi ngobrol dengan mereka bertiga.
Aku mengandeng tangan mas Rendy karena tiba-tiba perutku kembali terasa sakit. Mas Rendy mengusap tanganku Yang ada di lengan kanannya.
“ kenapa?” tanya mas Rendy saat kembali kedalam karena aku masih mengandeng lengannya.
“ perutku sakit mas” jawabku sedikit meringis kesakitan.
“ mau ke kamar?” aku menggeleng saat mas Rendy menuntunku ke kamar.
aku mencubit lengan kanan mas Rendy yang masih ku gandeng dengan keras. Rasanya aku pengen nangis saking sakitnya.
“ udah istirahat aja” kata mas Rendy dengan sedikit penekanan.
Mas Rendy menuntunku ke dalam kamar dan membantuku merebahkan tubuhku di atas kasur.
aku memegang tangan mas Rendy agar tidak meninggalkan ku sendirian.
“ mas nggak kemana-mana sayang” kata mas Rendy membuatku sedikit mengendurkan pegangan tanganku.
Aku memegang perutku yang seperti di tusuk-tusuk.
“ mas, sakit banget” kataku dengan air mata yang udah mengalir deras. Aku menangis di hadapan mas Rendy yang bingung harus ngapain.
__ADS_1
Mas Rendy keluar kamar dan kembali dengan air hangat dalam botol Marjan yang udah di isi dengan air hangat.
Mas Rendy menaruhnya diatas perutku dan memijatnya dengan pelan. Ternyata dia tadi keluar tangan sama mami apa yang biasanya di lakukan kalau aku lagi datang bulan di hari pertama.