
pagi ini sesuai rencana aku dan mami akan mengantar Raka buat daftar di salah satu SMP di daerah Wonosobo, jaraknya lumayan jauh dari rumah makanya nanti sekalian mami mau beliin motor buat Raka agar lebih gampang dan cepet kalau pergi sekolah.
Aku meninggalkan mas Rendy yang masih lemes walau demamnya udah turun. Tadi aku sempat marah karena badan masih lemes gak ada tenaga masih ngeyel mau berangkat ke madrasah.
Aku turun kebawah karena mami dan Raka udah siap dari tadi. Aku masuk kedalam mobil dan mulai menjalankan dengan pelan. Hari ini aku yang nyetir karena mami nggak mau, sedangkan Raka belum bisa.
Aku asik ngobrol dengan mami sedangkan Raka sibuk dengan hp nya. Sesekali dia menjawab kalau mami nanya.
“ nanti mau beli motor yang gimana Ka,,, biar nggak kelamaan milinya?” aku menatap Raka dari kaca depan.
“ apa aja mbak” jawab Raka mengalihkan pandangannya dari hp.
“ ya kan kamu yang make,,, kamu yang milih lah” aku membelokkan mobil ke dalam halaman SMP 02 Wonosobo.
“ beli kayak punya kak Laskar aja biar nggak bingung” usul Mami.
kami bertiga keluar dari mobil menuju ruang tata usah.
“ yang pakek kan Raka Mi,,, dia mau yang mana biar nyaman juga bawanya”
“ ini motor kayak kak Laskar nggak papa dek?” tanya Mami menunjukkan gambar motor kak Laskar di layar hp Mami.
Raka hanya mengangguk. Mami tidak memprotes karena Raka tidak menjawab ya atau tidak tapi mengangguk saja. Untung aku udah cerita kalau Raka irit ngomong. Bahkan bisa dikatakan kalau Raka ini males banget ngomong kalau nggak penting-penting banget. Kemarin aku juga sempat dengar dari mas Fian kalau di sekolah Raka terkenal dengan sombong karena nggak mau bicara padahal orangnya memegang nggak suka ngomong.
Aku duduk disamping Raka mendengarkan mami dan bapak yang bertugas menerima setiap ada murid baru atau murid pindahan.
Aku menatap raport Raka kaget,,, sumpah nilainya bagus banget, nggak ada yang merah, bahkan nilai tujuh aja nggak ada. Wahh keren nih bocah.
“ buset nilai kamu nggak ada nilai tujuh nya dek?” aku terheran-heran dengan satu orang ini.
Selesai pendaftaran kami langsung tancap gas beli motor buat Raka.
“ pokonya nanti kalau ada apa-apa langsung telpon Mami” kata mami menepuk lengan Raka pelan. seperti biasa Raka hanya mengangguk sebagai respon.
“ pokoknya belajar yang rajin, mami akan sekolahin kamu Sampek kuliah,,, mau ambil jurusan apapun terserah kamu” kata Mami sambil memakai seatbelt.
“ pinter nih anak bontot Mami,,, kuliahin Sampek S3 Mi” ucapku memakai seatbelt.
...****************...
aku dan mami sibuk memilih warna motor untuk Raka karena dia bilang terserah warna apa aja.
“ itu aja Mi yang warna item cocok buat Raka” aku menunjuk motor sport warna hitam.
“ jangan yang item polos,,, itu aja yang warna ijo gimana?” mami menunjuk motor yang sama tapi beda warna.
“ terserah mami aja deh,,, anaknya juga nggak milih,,, lagian kan yang beliin Mami” kataku mengalah. Nggak akan menang kalau udah lawan ibu negara satu ini.
__ADS_1
“ dek,,, motornya yang warna ijo Iyo nggak papa?” tanya mami pada Raka yang asik duduk santai sambil memainkan hp nya.
Raka menatap motor yang ditunjuk Mami dan ngangguk kemudian kembali fokus ke hp nya.
“ tuh anak mirip banget sama kakak kamu si Labib waktu kecilnya” omel Mami melihat tingkah Raka yang super cuek.
“ setuju mi,,, sebelas dua belas sama kak Labib nggak jauh beda pokonya” ucapku setuju dengan perkataan Mami.
“ ini motornya langsung diantar ke alamat ini aja ya pak” aku menuliskan alamat rumah agar nanti yang nganter tidak kesasar.
“ siap mbak,,, ini bayarnya cas apa pake kartu?” tanya petugasnya.
“ nih pak,,, yang bayar ibu negara, tanya sama dia aja” aku menunjuk mami yang langsung mengeluarkan ATM nya.
“ terimakasih atas kepercayaannya telah di toko kami” ucap karyawan kasir mengembalikan kartu ATM Mami.
“ bisa naik motor itu kan dek?” tanyaku saat kami udah ada di dalam mobil.
“ pernah pinjem punya temen” jawab Raka.
“ ohh,,, kalau belum kan nanti biar diajarin sama mas Rendy kalau nggak kak Laskar”
“ seragamnya udah di beli belum ?” tanya Mami.
Aku Sampek kelupaan kalau belum beli seragam dan keperluan yang lainnya untuk Raka.
“ gimana sih kamu,,, besok udah ,au masuk sekolah keperluannya belum lengkap” omel Mami. Kalau masalah pendidikan mami memang paling cerewet. Pokonya mami itu kalau masalah pendidikan nggak boleh ada yang kurang satupun untuk anak-anaknya.
“ namanya juga lupa Mi”
“ ya udah sekalian beli mumpung masih di luar” kata Mami.
“ nanti mami sama Raka suruh nganter kak Laskar aja deh,,, ini mas Rendy demamnya naik lagi” aku menjalankan mobil pulang.
“ kamu ini gimana sih,,, tadi Mami udah bilang biar dianterin sama kak Laskar aja,, gini kan jadinya bolak-balik ” omel Mami tidak berhenti.
aku mengangkat panggilan dari mas Rendy yang udah nyambung ke bluetoot.
“ assalamualaikum mas,,,”
“ udah dimana?” suara mas Rendy terdengar serak.
“ ini udah perjalan pulang mas,,, sebentar ya” ucapku agar suamiku itu nggak rewel.
“ masih lama sayangg,,,?”
“ nggak-nggak sebentar lagi Sampek,,, mas mau apa, minta tolong sama orang yang dirumah aja”
__ADS_1
“ cepetan sayangg,,,”
“ iya sebentar,,, ini udah mau nyampek kok”
“ aku matiin dulu ya,,,” aku memutuskan sambungan. Sekilas aku mendengar suara erangan mas Rendy menahan sakit.
aku menancap gas dan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi takut terjadi apa-apa sama mas Rendy.
Aku memarkirkan mobil dan langsung keluar berlari ke lantai dua.
Aku membuka pintu kamar dan melihat suamiku meringkuk Memegang perutnya menahan sakit.
aku memegang kening mas Rendy dan merasakan panas di telapak tanganku. Mas Rendy meletakkan kelapanya di pangkuanku dan memeluk perutku.
“ kan tadi udah dibilangin makanannya harus habis” ucapku melihat makanan di meja ,asih utuh tidak tersentuh sama sekali.
“ nggak napsu Yang ” aku mengangkat kepala mas Rendy agar berbaring dengan benar. Aku turun Kebawah sebentar mengambil air untuk mengompres agar panasnya turun.
Aku mengusap perut mas Rendy karena katanya pengen diusap- usap.
“ makan ya mas,,, ” mas Rendy menggeleng tidak mau.
“ dikit aja biar perutnya ada isinya”
“ nggak Yang,,, mulut aku rasanya pahit banget” tolak mas Rendy.
Aku menghela nafas berat. Bingung mau harus gimana kalau suami sakit gini. Makan aja nggak mau.
Aku ikut berbaring masih dengan tangan mengusap perut mas Rendy.
Aku menatap mas Rendy yang memejamkan mata tapi mulutnya terus ngecap.
“ laper kan,,, makanya makan”
“ nggak Yang,,, mau ini aja” mas Rendy membuka matanya dan tangannya mulai membuka kancing baju yang aku pakai. Aku udah tahu arahnya kemana ini.
Aku membiarkannya membuka kancing bajuku sampai terlepas lima kancing. Lalu mulutnya mulai menghisap-hisap puncak dadaku.
cukup lama puncak dadaku ada dalam mulutnya. Bahkan udah tidurpun mulutnya masih tidak mau melepaskannya. sesekali mulutnya bergerak mirip bayi yang lagi menyusu.
...****************...
...Hallo guys 🥰🥰 🥰...
...Terus dukung karyaku ya 🤗🤗🤗...
...Jagan lupa like komen vote dan hadiahnya ya 😊😊😊...
__ADS_1
...Salam manis dari akuhh 😂😂😂...