DIARY LUKISAN MILIK OLA

DIARY LUKISAN MILIK OLA
BAB 21 tidak terima penolakan


__ADS_3

Rudy dan Ola masuk kedalam, lagi-lagi desain interior bikin mata Ola takjub, " Mas bagus sekali, Ola berbisik, Rudy menggenggam erat jemari Ola, " Semua milik Kamu sayang, jawab Rudy di telinga lalu mencuri cium Pipi Ola.


menerima perlakuan romantis dari Rudy, Ola hanya bisa nyengir sambil lihat kiri kanan takut ada yang liat.


"Yuk kita duduk, Rudy membawa Ola ke sofa sambil merangkul pinggang Ola,Benar saja kelakuan Rudy bikin wajah Ola memerah, " Mas malu ahh di liat orang nanti, ucap Ola dengan pipi merona.


" Jadi kalau berdua boleh dong lebih, bisik Rudy bercanda, " apaan sih Mas...,Ola langsung melepas tangan Rudy dari pinggang nya , Ola sedikit menjauh, entah kenapa gak suka dengan omongan Rudy tadi terdengar kurang enak di telinga.


" Canda sayang Mas cuma bercanda" Rudy jadi sangat menyesal sudah melepas candaan itu, , Rudy coba menjelas kan agar Ola gak salah faham dengan omongan nya tadi.


Ola diam melihat ke arah lain, hati nya tetap gak nyaman dengan kata-Kata Rudy tadi, " Pak ini minum nya, tegur seorang Art, " taruh saja di situ " Rudy tunjuk meja agar Art meletakan minuman mereka di atas meja.


Rudy melirik Ola sekilas, suka dengan sikap Ola yang blak-blakan, kalau mau marah Ola langsung aja marah, " Kamu marah dengan candaan Mas...,tanya Rudy coba membujuk.


" Ya marah, jawab Ola singkat tampa melihat, " Baik kalau marah" Rudy langsung mengangkat Ola, seperti sedang menggendong anak koala, , " Mas ugh.. turunin, teriak Ola reflek memukul dan mengalungkan kedua tangan di leher Rudy , karena tiba-tiba tubuh nya melayang.


" Gak boleh turun kalau kamu masih marah, ucap Rudy menatap tajam kedua mata Ola, " apa ini" batin Ola balas menatap netra elang milik Rudy.


Dada kedua nya Sama berdebar, mereka tidak sadar kalau kepala Art sudah mengumpul kan Art lain untuk perkenalan dengan nyonya rumah yaitu Ola.


" Ih romantis banget ya Pak Rudy, ucap salah satu Art, "husssttt jaga omongan kamu jawab yang lain.

__ADS_1


Ola dan Rudy dapat mendengar, kalau gak ingat Kaki baru sembuh Ola pengen lompat karena Malu, " Mas turunin Malu Mas, ucap Ola minta di turunin gak enak jadi pusat perhatian.


" Gak ada turun-turun kalau masih marah, ucap Rudy tegas, Ola merasa lucu kali ini malah Rudy yang uring-uringan , " udah gak marah Kok Mas turunin ya?" pinta Ola dengan nada manja.


" Ya sudah bagus kalau gitu" jawab Rudy lalu menurun kan Ola secara perlahan, Ola menunduk dengan persaan malu, Rudy terlalu berlebihan memperlakukan nya.


Permisi Pak, sapa Kepala Art sopan, " Kalian kenali ini Ibu Ola Nyonya Rumah, ucap kepala Art, Ola yang sudah sempat duduk berdiri lagi karena gak enak, terkesan kurang sopan " kenalin semua Saya Ola Putri Amelia, Ola menyalami satu persatu dengan hormat.


Rudy hanya melihat dengan senyum di kulum saat Ola menyalami satu persatu pembantunya, "menikahi Kamu satu keputusan yang tepat" batin Rudy terus memperhatikan interaksi Ola dengan para pekerja nya.


Setelah perkenalan para Art kembali ke belakang, Ola sempat juga mendengar kasak kusuk Art yang bertanya apa hubungan nya dengan Rudy.


" Duduk sini, Rudy menarik Ola hingga jatuh terduduk di sebelah nya, " Besok Saya akan ke luar kota untuk beberapa hari, semua keperluan kamu udah saya siap kan, kalau masih ada yang kurang Kamu tinggal minta dengan Bu Ratna kepala Art, ucap Rudy.


Wajah Ola merona, " itu Mas tau .., batin Ola, " Atau Kamu mau ikut? , Tanya Rudy, Ola menoleh seketika, tatapan mata mereka bertemu.


" Apa boleh kalau ikut !?,..Tanya Ola tampa memutus kontak mata, " Ya boleh, tapi Saya takut gak bisa nahan diri kalau dekat kamu terus, jawab Rudy, mulut Ola menganga setelah mendengar jawaban Rudy.


Lihat mulut Ola sedikit terbuka Rudy gemes pengen cium, tingkah alami tampa di buat-buat, " Cup, Rudy mengecup secepat kilat bibir Ola, "Kamu itu nggemesin, Ucap Rudy setelah berhasil mencuri cium, Ola manyun memegang bibir yang sempat kecolongan.


Kenapa di pegang mau lagi?, tanya Rudy karena liat Ola nutup mulut nya pake jari , Ola melihat ke arah lain, " Gak ahh cuma takut kecolongan lagi, Jawaban Ola kedua nya Sama tertawa geli.

__ADS_1


" Kamu itu unik Sayang", ucap Rudy di tengah tawa nya, " Jehh... kayak benda aja di bilang unik" jawab Ola, " Ya sayang memang kamu unik "..Kata Rudy lagi sambil menyibak rambut berjuntai kebelakang daun telinga Ola.


sekali lagi Ola hanyut dengan perlakuan spesial dari Rudy, dada Ola berdesir hebat.


Setalah lumayan Lama ngobrol, Rudy melirik arloji di pergelangan tangan, teringat janji dengan Klein.


" Yaudah kita ke atas yuk, Mas tunjukin kamar Kamu" Rudy tidak ingin mengulur waktu,Ola menatap Rudy terbesit kecurigaan, " jangan fikiran konyol " ucap Rudy sambil nepuk halus jidat Ola, seakan tau apa yang barusan singgah di benak Ola.


Ola menunduk malu sudah dua kali Rudy berhasil baca fikiran nya, rasa malu Ola diam tak tau harus berkata apa, ternyata Rudy cukup menjaga martabat nya, tidak sama seperti laki-laki lain yang suka memamfaat kan keadaan.


" terimakasih Mas" cuma kata itu yang bisa di ucap kan Ola untuk menutupi rasa malu , Rudy melirik Ola sekilas, tau Ola malu pada nya, seketika suasana berubah jadi canggung di antara kedua nya.


" Ayo naik" ucap Rudy menarik tangan Ola agar melangkah naik, masih rasa takut Ola melangkah sangat berhati-hati, walau sudah di nyatakan sembuh, tetap takut genggak ingin menyusah kan Rudy lagi, langkah Ola tertatih, Rudy meraih pinggang Ola.


" Mas...," Ola terkesiap "jangan menolak Ayo jalan terus gak akan ada yang liat " ucap Rudy tidak terima penolakan.


Ola hanya diam, Rudy terlalu perhatian, karena takut jatuh, Ola memeluk leher Rudy " Mas indah sekali " gumam Ola tampa sadar ,setelah mereka sampai lantai tiga.


Rudy tersenyum, " semua milik kamu sayang " ucap Rudy " semakin mempererat pelukan di pinggang Ola.


Ola gak tau harus berkata apa, bagi Ola semua nya seperti dalam mimpi, Ola merasa seperti sinderela.

__ADS_1


" Yank ini kamar Kamu " Rudy menggeser satu kaca yang ternyata pintu masuk, Ola mengerjab berulang kali, untuk memastikan bahwa semua nyata bukan sedang bermimpi.


__ADS_2