DIARY LUKISAN MILIK OLA

DIARY LUKISAN MILIK OLA
BAB 38 JANGAN MENGHINDAR


__ADS_3

Sudah benar benar mentok, udah gak tau musti ngapain. keluar tidak mungkin, berdiam terus di dalam kamar mandi juga tidak mungkin, "huh.." dengus Ola dengan kesal melempar handuk kelantai.


Gak bisa menyalah kan siapapun karena memang diri nya yang teledor, Ola berkali kali memukul dinding meluap kan kekesalan, dadanya mulai nyesak.


Ola duduk di lantai kamar mandi, perasaan nya campur aduk hingga tidak dapat lagi membendung perasaan sedih, Ola menangis.


Ola merasa nasib nya hari ini benar benar sial, dari ketemu Brian Klein Rudy yang mata keranjang hingga kedatangan Johan di kantor Rudy, yang mengakibat kan perkelahian karena Rudy membela diri nya. yang bikin lebih sedih lagi insident di gigit Rudy, ini malah tambah salah bawa penutup tubuh.


semua kejadian hari ini bagai gambaran cerita yang terus silih berganti berputar di kepala Ola.


Ola menangis sampai tersedu sedu, " ya Tuhan kenapa nasib Ku jelek " Rintih Ola lalu menurun kan muka diantara kedua lutut, gak sadar kalau suara tangis nya sampai terdengar keluar dari kamar mandi.


Lupa menutup rapat pintu setelah buka yang kesekian kali, tangisan Ola terdengar begitu memilukan hingga ketelinga Rudy yang kini mulai terusik tidur nya.


Rudy mencoba untuk sadar walau pelupuk mata nya masih sangat berat untuk di buka.


" Siapa sih yang nangis " gumam Rudy lalu


bangun dan duduk di pinggiran ranjang, kepala nya sedikit pusing karena waktu istirahat yang memang kurang beberapa hari ini.


Ingin rasa nya kembali rebah melanjut kan tidur,tapi suara tangis tersedu itu masih terus terdengar, Rudy menggeleng geleng beberapa kali untuk mengusir rasa ngantuk nya.


Rudy merentang kan tangan sambil menguap Lebar, untuk mengumpul kan kesadaran nya, pendengaran nya masih dengan jelas mendengar suara orang menangis.


" Siapa sih" Rudy mengangkat kepala, kemudian mengedar kan pandangan ke seluruh ruangan, seakan lupa sesuatu.


" Gak ada siapa siapa " Ucap Rudy menggosok mata.


" Ola " gumam nya begitu saja teringat Ola, Rudy langsung tersadar rasa kantuk dan pusing nya hilang seketika, ingat terahir liat Ola pergi mandi.

__ADS_1


" Apa mungkin Ola yang nangis?, ah kenapa Ola ?" Tanya Rudy dalam hati. Rudy menoleh ke arah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.


" mungkin kah Ola masih di dalam" batin Rudy,Seketika bayangan Ola berdarah darah melintas di fikiran nya, Rudy lompat berdiri jantung nya berpacu lebih cepat, perasaan takut begitu saja hadir "mungkin kah telah terjadi sesuatu pada Ola" batinnya.


Dengan langkah panjang Rudy menuju kamar mandi, dimana Ola saat ini sedang duduk menangis.


Benar saja isak tangis itu makin terdengar jelas saat tinggal dua langkah lagi mencapai pintu kamar mandi, Rudy yakin sudah terjadi sesuatu dengan Ola.


" Brakk.." Rudy langsung mendorong pintu dengan kasar, " Kamu kenapa sayy.." tanya Rudy tapi ucapan nya seketika terhenti karena melihat Ola sedang duduk di lantai sambil menangis.


Ola mengangkat kepala terkejut dengan kedatangan Rudy lalu merapat kan kedua paha agar Rudy tidak melihat keadaan polos nya.


" Kamu kenapa Sayang " Tanya Rudy ingin melangkah masuk menghampiri Ola.


" Mas jangan maju tolong ambilin handuk dulu " jawab Ola agar Rudy tidak melanjut kan langkah.


" Cepat Mas..ambilin handuk Aku udah kedinginan " ucap Ola lagi, sebisa mungkin menutup areal sensitif nya agar tidak di lihat Rudy.


Rudy berbalik untuk ambil apa yang di minta Ola, tampa berfikir lebih " kenapa sih dia!, kenapa gak bawa handuk? " batin Rudy sambil jalan menuju lemari.


Rudy mengambil kan handuk dari dalam lemari, langkah nya kembali ke kamar mandi setelah menutup pintu lemari terlebih dahulu.


perlahan Rudy mendekati Ola, " Ini handuk nya sayang " ucap Rudy dengan tangan telulur, Ola mengangkat kelapa untuk melihat Rudy.


Degg.


Jantung Rudy berpacu baru menyadari apa yang di lihat nya barusan, dada nya turun naik kala melihat melons itu bulat sempurna terlalu menggoda" Mas berbalik lah " pinta Ola setelah menyambar handuk dari tangan Rudy.


Rudy langsung berbalik membelakangi Ola dengan sekujur tubuh mulai panas, setelah Rudy membelakangi nya Ola langsung bangkit dengan cepat pula Ola melilit kan handuk di tubuh polos nya.

__ADS_1


Ola melangkah melewati Rudy yang masih berdiri mematung, Rudy yang sadar kalau Ola akan meninggal kan nya langsung mencekal pergelangan tangan Ola.


" Kenapa Mas " tanya Ola berhenti melangkah dengan sebelah tangan memegang simpul handuk agar tidak terlepas.


Rudy menarik Ola agar lebih dekat lalu menatap manik kecoklatan yang masih terlihat memerah dan bengkak, " Kenapa kamu nangis " Tanya Rudy sambil menekan rasa, mata Rudy liar menelusuri leher dan bahu telanjang Ola.


Ola menunduk tatapan Rudy membuat nya berdebar dan malu, " Mas lepasin Aku mau pake baju " ucap Ola menghindar gak mau menjawab pertanyaan Rudy.


Ola gak mau jadi bahan tertawaan Rudy, kalau Rudy tau apa yang membuat nya sampai menangis di dalam kamar mandi, di pasti kan Rudy akan tertawa.


" Jangan menghindar " Ucap Rudy melingkar kan sebelah tangan di pinggang, lalu menarik Ola kedalam pelukan nya.


" Mas lepasin ahh" ucap Ola mendorong dada Rudy, " Gak akan sebelum kamu bilang apa yang sudah bikin kamu menangis " ucap Rudy tidak bergeming malah semakin erat memeluk Ola.


Ola coba terus mendorong dada Rudy, tapi apalah arti tenaga nya di banding tenaga Rudy.


" Mas lepasin ya, Ola mau berpakaian " ucap Ola, karena Rudy mulai mencium bahu nya, mendengar permintaan Ola Rudy bukan melepas malah semakin membenam kan wajahnya di ceruk leher Ola dan menghirup wangi harum tubuh Ola.


Ola merasa hangat dan ada geleyar aneh saat ciuman Rudy mendarat dileher.


Ola ingin membalas pelukan Rudy tapi kejadian beberapa Jam tadi menyadar kan nya, Ola menepis kehangatan dan rasa ribuan kupu-kupu yang mulai datang.


Rudy terus menciumi leher Ola, tidak ada satu inci pun yang terlewat, " Mas.. " Ola memanggil coba menyadar kan Rudy agar tidak semakin menggila.


" Hhmm" jawab Rudy lalu menarik wajah nya dari ceruk leher Ola, " Biar przzzz" Rudy langsung membungkam bibir Ola tampa Ola sempat melanjut kan kata-kata nya.


Mata Ola terbelalak tapi tidak menolak dengan apa yang di tawar kan Rudy, mereka saling pangut hingga ciuman itu mulai panas, tampa sadar tangan Rudy mulai bergerilya.


Ola menjerit kecil karena tampa sengaja Rudy meremas melons yang masih sakit, " maaf " seketika Rudy langsung melepaskan Ola dan pergi.

__ADS_1


__ADS_2