
Ola hanya bisa melihat dengan cucuran air mata saat Johan di angkat tiga scuriti Ola tidak bisa berkata apa-apa, Sempat hati nya hati nya sedih melihat kedaan Johan yang kini tidak berdaya, tangis Ola semakin pecah batin nya sangat terpukul dengan semua kejadian yang terpampang jelas di depan mata, apa lagi saat mengingat tudingan Johan yang mengatakan Diri nya pel**** Kecil Ola sangat sakit hati mengingat kata-kata Itu.
" Mama...Papa bawa Ola bersama kalian " Ola menengadah sambil merintih memanggil kedua Orang tua nya agar datang menjemput nya.
Rudy yang tengah berdiri membelakangi Ola terkesiap mendengar ucapan Ola, hati nya seperti di tusuk beribu jarum gak sanggup mendengar ucapan Ola barusan, Rudy berbalik menghampiri Ola ikut duduk di lantai bersama Ola , Rudy sangat takut kehilangan Ola.
" Sudah Sayang jangan menangis lagi " Ucap nya menarik Ola kedalam pelukan nya, Rudy menghapus air mata Ola dengan telapak tangan nya, " Buat apa Ola hidup Mas, kalau hanya untuk menahan beban penderitaan seperti Ini " ucap Ola menarik Diri mentap Rudy untuk meluap kan kesal di hati nya.
Rudy terdiam hati nya dapat merasakan kesedihan Ola " Tolong jangan seperti ini Sayang " mohon Rudy dengan wajah piss lalu menarik lagi Ola kedalam pelukan nya, Rudy ikut menangis larut sedih Karena tidak sanggup membayangkan kalau kehilangan Ola.
Ola merasa benar-benar hancur, menumpah kan segala tangis kesedihan nya di dada bidang Rudy, tidak ada kata-kata yang bisa di ucap Rudy selain membiar kan Ola menangis dan menjerit di dalam pelukan nya.
Hampir setengah Jam Ola terus menangis hingga mata nya bengkak dan baju kemeja Rudy sudah basah dengan air mata nya dan air hidung, teringat akan keluar kota Rudy ingin membatal kan gak tega untuk ninggalin Ola dalam kedaan seperti ini.
Tapi untuk menunda keberangkatan itu sungguh tidak mungkin, selain merugikan perusahaan juga membatal kan kerja Sama baru dengan perusahaan asing.
Rudy duduk termenung memikir kan semua nya, hingga tidak sadar kalau Ola saat ini mentap nya dengan pandangan bingung.
" Mas kenapa Mas " Tanya Ola sambil meraba rahang Rudy yang memar akibat pukulan Johan , Rudy tidak menjawab karena terlalu Sibuk dengan fikiran nya hingga pertanyaan Ola seperti terdengar sangat jauh.
__ADS_1
Ola semakin bingung, hingga Ola meraba kening Rudy " Mas kenapa " Tanya Ola sekali lagi, " Tidak apa-apa sayang " jawab Rudy tersenyum untuk menutupi kegundahan hati nya.
" Apa ini sakit Mas" tanya Ola sekali lagi meraba rahang memar Rudy, " demi Kamu Mas rela mati Sayang " ucap Rudy memegang tangan Ola yang masih meraba halus rahang nya.
telephone kantor di atas meja Rudy berdering, Ola dan Rudy saling lihat, " Sebentar Sayang" dengan malas Rudy bangkit untuk menerima telephone.
" Pak, Bapak gak perlu apa-apa kan?" tanya Bella resepsionis, " Gak " jawab Rudy singkat lalu melihat penunjuk waktu yang melingkar di tangan, Ternyata sudah Jam empat " Bell kalau mau pulang, pulang saja " ucap Rudy tau maksud Bella.
" Baik pak " jawab Bella lalu menutup panggilan telephone, Rudy meletakan kembali gagang telephone ke tempat nya, Rudy menoleh melihat Ola yang baru saja bangkit berdiri.
" Sayang kita pulang ya?" ajak Rudy, Ola melirik ke dinding, " astaga ternyata sudah sore " batin Ola lalu mengangguk.
Rudy kembali menghampiri Ola, dengan lembut Rudy menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi Ola, " Jangan menangis lagi ya Sayang " Ucap Rudy dengan sepenuh kasih sayang membuat hati Ola merasa teduh.
Rudy menarik Ola kembali memeluk nya , Ola merebah kan kepala di dada bidang Rudy, tangan Ola membelai dada bidang yang tertutup baju kemeja, sedang Rudy membelai rambut Ola kedua nya merasa tenang dan hangat.
" Mas jangan pernah tinggalin Ola ya " ucap Ola mengalir begitu saja, " tidak akan Sayang kecuali maut yang memisah kan " jawab Rudy semakin mempererat pelukan nya.
Ola merasa hangat berada dalam pelukan Rudy, hati nya benar-benar tenang, hanya Rudy lah yang perduli dengan hidup nya, tidak terasa air mata keluar lagi tapi kali ini bukan air mata kesedihan melain kan air mata bahagia, Ola pastikan kalau nanti hidup mereka akan sangat bahagia.
__ADS_1
" Mas." panggil Ola manja mendongak melihat wajah Rudy, " Hmm.. " Jawab Rudy, " Ini gak sakit Mas..?" Tanya Ola meraba rahang Rudy.
" Untuk kamu Mas rela mati Sayang " jawab Rudy lagi kemudian mencium kening Ola dengan perasaan yang tidak dapat di artikan dengan kata-kata.
" Yudah Mas ganti baju dulu " ucap Rudy lalu mengurai pelukan mereka, Rudy melangkah menuju ruang Istirahat untuk mengganti pakaian yang sudah basah dengan air mata Ola.
Setelah Rudy berlalu Ola melihat wajah nya di pantulan layar ponsel yang mati, " Duh sipit dan kucel" gumam Ola sedikit geli melihat mata nya sendiri, kemudian Ola mengikuti Rudy masuk kedalam ruang Istirahat untuk membasuh wajah agar lebih segar.
Setelah selesai mereka segera pulang, Rudy terus menggenggam tangan Ola sampai mereka tiba di lantai satu, perasaan bahagia menyelimuti kedua nya, tapi saat pintu lif terbuka kebahagiaan itu menguap begitu saja , mereka melihat Johan sedang bertengkar dengan tiga scuriti.
Langkah yang tadi nya ringan karena bahagia kini terasa berat, Rudy memilih lewat samping lobi untuk menghindari Johan, bukan takut tapi Rudy tidak ingin lihat Ola menangis lagi.
Sedang Ola sengaja membuang pandangan ke arah lain malas lihat Johan, langkah terus mengikuti langkah Rudy, beberapa kali Ola mendengus legal mengingat perkataan Johan tadi sangat menyakit kan hati nya.
" Sayang Kamu tunggu di mobil Mas harus urus Om Kamu biar gak ganggu kita lagi" ucap Rudy panjang lebar setelah mereka sampai di garasi, Ola mengangguk lalu masuk kedalam Mobil.
Setelah Ola masuk kedalam mobil Rudy kembali masuk untuk bertemu dengan Johan.
" Mana ponakan Saya!!? " tanya Johan dengan suara lantang ketika melihat Rudy jalan ke arah nya, Rudy senyum mengejek mendengar kata-kata Johan.
__ADS_1
" Cihhh...Ja***** kembali kan ponakan Ku..." teriak Johan lagi marah melihat senyum Rudy, " Ponakan yang mana Hah " bentak Rudy dengan suara menggelegar juga menatap nanar Johan.
Seketika Johan menunduk nyali nya ciut pukulan Rudy masih menyisakan nyeri di bagian muka, bagai mana pun Johan sudah merasakan telak nya pukulan dari Rudy.