DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Mulai Bekerja


__ADS_3

"Dan satu lagi. Di depan teman-temanku kita harus berlaku mesra seperti sepasang kekasih. Jangan tunjukkan jika kita hanya pura-pura. Karena tujuan utamaku adalah menyumpal mulut mereka agar tidak seenaknya lagi mendiskriminasiku yang masih sendiri. Kau mengerti?" tanya Saras dengan tegas.


Dia ternyata banyak permintaannya. Dasar wanita, tidak mau rugi sama sekali.


Hyung pun tertawa sendiri.


"Kau menertawaiku?!" Saras langsung ngegas kepada Hyung.


"Eh, tidak-tidak. Itu suara perutku! Ya, perutku. Aku belum makan sejak semalam. Aku lapar sekali." Hyung pun segera beralasan kepada Saras.


Saras mengerutkan dahinya. Ia merasa kesal kepada Hyung. Sedang Hyung berusaha menempatkan diri seperti tidak tahu apa-apa tentang Saras. Ia melakukan penyamarannya. Hyung ingin tahu bagaimana Saras yang sesungguhnya. Bilamana Hyung hanya sekedar pria biasa. Saras kemudian mengajak Hyung berbelanja ke pasar. Dengan senang hati Hyung pun menurutinya.


Beberapa jam kemudian...

__ADS_1


Pewaris tunggal perusahaan literasi besar itu memainkan perannya dengan baik. Bagaimana tidak, Hyung yang menyamar sebagai Vi melakukan pekerjaan rumah tangga dengan nyaris sempurna. Ia menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, pakaian, bahkan memasak. Tak lama si empu rumah pun keluar dari kamarnya. Hyung melihat Saras yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Wajahnya lucu saat baru bangun tidur. Ia kemudian menyapa Saras. "Aku sudah masak. Kau mau makan?" Hyung berjalan mendekati Saras yang terdiam di depan pintu kamar.


"He-em."


Saras pun menjawabnya dengan ragu. Saat itu juga Hyung melihat Saras yang membalikkan badannya. Saras kembali masuk ke kamarnya.


Eh? Dia kenapa? Hyung bertanya-tanya dalam hatinya.


Malam ini adalah malam minggu pertama bagi Vi atau Hyung yang bekerja sebagai pacar sewaan Saras. Dan sebagai pekerja, sebisa mungkin Hyung memberikan pelayanan terbaiknya. Ia membuat Saras terhibur dengan kehadirannya. Dan terkadang melakukan hal konyol agar Saras dapat tertawa. Tapi wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu seperti menahan dirinya. Hyung pun kehilangan kepercayaan diri saat membuat lelucon jenaka. Karena Saras tidak tertawa karenanya.


Mungkin dia tipikal jinak-jinak burung merpati.

__ADS_1


Lantas Hyung pun membantu Saras membuatkan pamflet untuk menyambut anniversary perusahaan yang ke-9. Dan tentu saja Hyung menunjukkan bakatnya dalam membuat desain grafis. Terlebih untuk perusahaannya sendiri. Saras pun tampak terpana dengan keahlian Hyung.


"Nama aslimu memang Vi?" tanya Saras sambil melihat Hyung mewarnai desain yang telah jadi di laptop.


"Bukan. Nama asliku Kimochi," jawab Hyung.


"Hah???" Saat itu juga Saras tak percaya. Ia terbelalak mendengarnya.


Hyung tertawa. Ia merasa Saras ingin mencari tahu tentang dirinya. Tapi Hyung bukanlah tipikal pria bodoh yang mudah tertipu wanita. Ia kemudian balik bertanya kepada Saras.


"Bukankah cukup tahu sebatas yang ada di perjanjian saja?" tanyanya.


Saat itu juga Hyung melihat wajah Saras yang cemberut. Dan entah mengapa ia ingin sekali mencubit pipi gembul itu. Hyung gemas dengan wanita di hadapannya.

__ADS_1


Dia sepertinya keibuan. Tapi dia juga manja. Tapi dia adalah wanita mandiri. Hari libur saja masih digunakan untuk mengerjakan tugas kantor. Tapi bagaimana dengan sikapnya kepada keluarga? Apakah dia sayang orang tua?


"Kau pintar membuat desain gambar. Sepertinya bukan berasal dari keluarga yang kekurangan. Apa kau sedang menyamar di situs itu?" tanya Saras kepada Hyung.


__ADS_2