DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Jujur


__ADS_3

"Apa kau masih tidak ingin mengatakannya? Kau ingin hal ini dibiarkan berlarut lama?" tanya Hyung lagi.


Saras menelan ludahnya. Ia masih malu untuk mengakuinya.


Hyung mengembuskan napas lelahnya. "Kita bukan anak kecil lagi. Kita sudah besar dan dewasa, Saras. Tidak perlu dipinta berulang kali untuk mengerti." Hyung pun seperti putus asa menghadapi Saras.


Saras menoleh ke arah Hyung dengan cepat. Ia tahu maksud Hyung itu apa. Tapi Saras masih membesarkan rasa gengsinya. Ia malu jika harus berkata jujur tentang penyebabnya. Saras cemburu dengan telepon masuk di ponsel mini Hyung. Yang mana telepon itu dari Klara. Saras yakin jika Klara adalah pacar Hyung.


"Aku ... aku tidak ingin kita membahasnya lagi." Saras bersikeras tidak ingin menjawabnya.


Hyung mendengus kesal. Ia memejamkan mata, berusaha menahan kesabarannya. Ia tak mengerti mengapa Saras mengesalkan sampai seperti ini. Ingin rasanya ia menelan Saras bulat-bulat. Rasa kesal di hati Hyung sudah tidak tertahan lagi.


"Jadi kau ingin membiarkan masalah ini berlarut-larut? Kau tidak ingin jujur pada dirimu sendiri? Kau ingin kita berdiaman sepanjang hari sekalipun ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan bersama? Kau ingin kita--"

__ADS_1


"Aku cemburu." Tiba-tiba saja Saras berkata seperti itu.


Saras ...?!


Hyung pun terkejut saat mendengar perkataan itu. Ia tidak jadi melanjutkan perkataannya lagi. Ia ingin mendengarkan penjelasan Saras. Sementara Saras tertunduk malu di samping Hyung. Ia terpaksa harus mengatakannya agar Hyung berhenti berbicara.


"Saras, katakan apa maksudmu?" Hyung pun memutar tubuhnya ke arah Saras.


Saras menelan ludahnya. "Apakah kau ingin mempermalukanku dengan mengakuinya, Pak?" tanya Saras kepada Hyung.


Saras beranjak berdiri. Ia merasa malu jika duduk berhadapan dengan Hyung. Saras pun maju dua langkah ke depan agar raut wajahnya tidak dilihat oleh Hyung. Saras sangat malu untuk mengakuinya.


"Aku ... aku cemburu karena kau berteleponan dengan Klara." Saras pun akhirnya jujur.

__ADS_1


"Saras ...." Hyung beranjak berdiri.


Saras tersenyum seraya menunduk. "Mungkin aku yang terlalu berharap lebih terhadap perjanjian itu. Aku tidak tahu diri. Maafkan aku, Pak." Saras menarik napas dalam-dalam agar tidak terbawa perasaan.


Hyung segera mendekati Saras. Ia memutar tubuh Saras agar menghadapnya. "Apakah kau menyukaiku?" tanya Hyung dengan suara yang pelan.


Saras melihat kedua tangan Hyung yang memegang lengannya. Saras pun segera menepiskannya. Ia tersenyum kepada Hyung.


"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Tapi jika kau mengajak ku ke sini hanya ingin menanyakan alasan mengapa aku mengembalikanmu, maka sudah kujawab sejujurnya. Kita pulang sekarang."


Saras meminta. Ia pun berbalik, membelakangi Hyung. Saras ingin kembali masuk ke dalam mobil. Tapi, saat itu juga Hyung menahannya. Ia menarik Saras ke tubuhnya. Sontak Saras dan Hyung bertatapan dengan jarak yang dekat sekali.


Hyung menatap Saras lekat-lekat. "Aku mengerti. Sekarang aku mengerti. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Klara bukanlah pacarku. Dia adalah singkatan dari margaku. Karena Klara adalah Keluarga Besar Kimra. Dan aku harap kau bisa mengerti setelah ini." Hyung menjelaskan. Saat itu juga jantung Saras berdetak dengan kencang.

__ADS_1


Ja-jadi ... selama ini???


Saras pun dibuat terkejut oleh pengakuan Hyung. Ternyata oh ternyata Klara adalah singkatan dari Keluarga Besar Kimra.


__ADS_2