DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Mulai Bekerja


__ADS_3

"Eh?! Ti-tidak, Pak. Ti-tidak perlu seperti itu. Di-dia juga bekerja di sini. Sama seperti saya yang mengais rezeki." Saras segera menahan Hyung agar tidak bertindak tergesa-gesa.


"Tapi kau sudah di-bully. Tidak inginkah melakukan pembalasan?" Hyung mengompori Saras agar membalas perbuatan Ana.


Saras memalingkan wajah. "Em, maaf, Pak. Bukankah pembahasan ini terlalu privasi?" Saras memberanikan diri interupsi.


Hyung memiringkan kepalanya lagi sambil menggabungkan kedua tangan. "Siapa bos di sini?" tanya Hyung dengan raut wajah yang amat menjengkelkan.


"Bapak," jawab Saras pasrah.


"Jadi bukankah terserah aku mau bicara apa?" Hyung mulai menunjukkan sisi arogannya pada Saras.


"Iya, Pak. Benar." Saras pun mengangguk di hadapan Hyung agar pembahasan cepat selesai.


"Begini, Saras." Hyung menegakkan tubuhnya. "Aku punya pekerjaan untukmu. Dan kau harus menyelesaikannya hari ini juga. Tak banyak, hanya beberapa lembar saja yang harus kau ketik. Ada sepuluh nama perusahaan yang ingin memasang iklan di perusahaan. Bisakah buatkan nota kesepahaman beserta administrasi penagihannya untukku?" tanya Hyung.


Eh, kenapa malah aku? Bukannya itu tugas admin perusahaan?

__ADS_1


Saras pun tak mengerti mengapa bos barunya memberi pekerjaan yang di luar ranahnya. Saras ingin menolaknya segera. Tapi saat itu juga ia segera sadar sedang berhadapan dengan siapa.


"Em, baik, Pak."


Lantas Saras pun menerima tugas dari Hyung. Dengan amat terpaksa, dengan amat penuh penyesalan. Saras menyesal kenapa hari ini tidak izin saja. Karena jika izin pastinya tidak akan mendapat tugas seperti ini. Tapi semua sudah terjadi. Saras pun mau tak mau menerima tugas dari Hyung.


"Bagus. Itu yang kuharapkan. Jadi lekas kerjakan!" seru Hyung dengan senyum penuh kemenangan.


Percakapan antara bos dan karyawan perusahaan literasi itu pun berakhir. Dan Hyung belum menceritakan siapa dirinya kepada Saras. Sedang Saras merasa yakin jika ia adalah mantan pacar sewaannya. Tapi Saras juga masih ragu untuk membuktikannya. Dan pada akhirnya Saras keluar dari ruangan Hyung dengan rasa penasaran di hatinya. Ia berharap akan segera mendapatkan jawabannya.


"Aku sudah di kantor cabang lama, Yah." Hyung terlihat berbicara dengan sang ayah di teleponnya.


"Bagus. Jika perlu apa-apa, katakan saja pada Saki. Di mana dia sekarang?" tanya sang ayah dari seberang telepon.


"Dia sudah kembali ke rumahnya. Aku yang menyuruhnya pulang karena hari ini ingin mengenal karyawan terlebih dahulu." Hyung menuturkan.


"Baiklah. Ayah serahkan semuanya padamu. Ayah harap ijasahmu itu tidak membuat malu. Good luck, Anakku." Sang ayah memberi semangat kepada putranya.

__ADS_1


"Baik, Yah. Sampai nanti." Hyung pun segera mematikan sambungan teleponnya.


Hyung melakukan sambungan langsung jarak jauh ke ayahnya. Tapi ia menggunakan ponsel biasa, bukan telepon kantor. Yang mana cukup menguras pulsanya. Dan kini Hyung sedang melihat layar laptopnya. Di mana Saras ada di sana. Hyung sengaja mengarahkan kamera CCTV ke meja Saras agar bisa melihat apapun yang Saras kerjakan di sana. Dan tiba-tiba saja ia merasa lapar.


"Perutku sudah menagih."


Lantas ia pun berniat untuk makan siang sebentar. Hyung membawa bekal sendiri hari ini. Tapi saat itu juga ia teringat dengan Saras. Ia tahu jika Saras belum makan. Ia kemudian menelepon line Stefany.


"Halo?" Stefany yang duduk di samping Saras pun mengangkat telepon yang ada di dekatnya.


"Mana Saras?!" Stefany pun tahu suara siapa itu.


"Ras, ada telepon untukmu." Stefany segera memberikan telepon kantor kepada Saras. Saras pun menerimanya.


"Halo?" jawab Saras.


"Belum makan siang? Masuk ke ruanganku sekarang," pinta Hyung segera.

__ADS_1


__ADS_2