
Hyung masih amat memedulikan Saras sekalipun hatinya telah kecewa. Hyung adalah seorang pria yang memegang ucapannya. Tapi ia harus menelan kebohongan dari Saras mentah-mentah. Hyung kecewa dengan perkataan Saras yang seolah memberi peluang besar baginya. Namun nyatanya, ia harus menanggung luka. Sementara Saras sendiri mulai dilanda kekhawatiran yang begitu besar. Ia takut dipecat secara tidak hormat dan ditendang jauh-jauh ke luar. Karna bagaimanapun Hyung adalah bos perusahaan.
"Baik, Pak." Saras pun mengiyakannya.
Beberapa menit kemudian...
"Pak."
Saras masuk ke ruangan bos yang tak lain adalah Hyung sendiri. Hyung pun tampak duduk sambil merapikan meja kerjanya dari peralatan tulis kantor. Ia kemudian mengeluarkan dua kotak nasi dari dalam tasnya. Ia meminta Saras untuk duduk di hadapannya.
"Duduklah."
Saras mengangguk lalu menarik kursi. Ia duduk di hadapan mantan pacar sewaannya. Hyung kemudian membuka kedua kotak nasi di hadapan Saras. Seketika Saras pun terkejut melihat isi dari kotak nasi tersebut. Mengingatkan dirinya akan seseorang yang pernah memasakkan makanan untuknya. Saras merasa bersalah.
"Aku lihat kau tidak beranjak makan siang. Aku juga sama. Jadi aku ingin kita makan siang bersama," kata Hyung lalu membagi nasinya kepada Saras. "Manajer Li, tolong pastikan semua karyawan bekerja dan tidak ada yang masuk ke ruanganku." Hyung kemudian menelepon manajer kantor agar tidak ada yang masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Sekarang makanlah. Aku sudah lapar."
Hyung pun mulai menyuap nasi beserta sup ke dalam mulutnya. Sedang Saras masih diam, ia tidak bergerak sama sekali. Hyung pun memerhatikan Saras yang tidak beranjak makan. Dan entah mengapa ia tiba-tiba kesal.
"Kau tidak mau makan bersamaku?!" Tatapan Hyung berubah tajam.
"Ma-mau, Pak."
Saras pun segera mengambil nasi dan sup yang diberikan Hyung. Ia lekas memakannya. Saat itu juga Saras seperti mengenali rasa masakan dari yang Hyung berikan. Hatinya penuh tanda tanya besar.
Hyung pun meneruskan makannya dengan perasaan kesal. Namun, tiba-tiba saja Saras bertanya.
"Pak Hyung, bolehkah saya bertanya?" Saras sedikit ragu.
"Tanya apa?" Hyung pun menjawabnya dengan acuh tak acuh.
__ADS_1
"Em, apakah ... apakah Anda Vi?" Saras memberanikan diri menanyakan hal itu pada Hyung.
"Vi? Siapa dia? Pacarmu?" tanya Hyung pura-pura tidak tahu.
Saras menelan ludah. Ia jadi ragu dengan pria yang ada di hadapannya. Saras belum dapat memastikan jika sang bos adalah mantan pacar sewaannya dulu.
"Em ...," Saras merasa bingung.
"Katakan saja siapa Vi itu bagimu. Tidak sulit, bukan?" Hyung berkata lagi.
Saras tampak berpikir. "Dia ... dia seseorang yang berarti untukku, Pak." Saras mengatakannya. Saat itu juga Hyung jadi batuk-batuk seketika.
"Ini, Pak. Minumlah." Saras pun segera membukakan botol air mineral untuk Hyung.
Hyung segera meneguknya. Ia juga menyeka mulutnya dengan tisu. Ia merasa kesal dengan jawaban Saras. Sangat kesal karena nyatanya apa yang terjadi bertolak belakang dengan ucapan.
__ADS_1
Dia bilang aku berarti baginya, tapi dia juga yang mengusirku. Dia mengembalikanku ke situs itu tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Tanpa menjelaskan apa kesalahanku. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Saras, kau sangat membuatku gemas. Hukuman apa yang kau inginkan dariku?