DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Kabar


__ADS_3

"Saras belum tahu, Bu, kapan bisa pulang. Mungkin akhir tahun ini. Ibu sabar ya. Perjalanan dari kota ke desa tidaklah dekat. Apalagi Saras belum mempunyai kendaraan di sini. Nanti jika sudah mendapat libur panjang, Saras pulang ke desa. Saras sayang Ibu."


Dan begitulah yang Hyung dengar dari balik pintu. Hyung pun mengintip wajah Saras yang terlihat semringah saat menerima telepon dari ibunya. Hyung kemudian menutup pintu kembali. Ia terdiam di depan pintu seraya tersenyum. Saat itu juga ia teringat dengan perkataan neneknya.


"Nenek yakin suatu saat kau akan menemukan seorang wanita yang bisa menyayangimu apa adanya. Yang mau menerima kekuranganmu dan juga mensyukuri kelebihanmu. Carilah wanita yang penyayang terhadap keluarganya. Terutama ibunya. Karena jika dia sayang kepada ibunya, maka dia bisa menyayangimu dan juga anak-anakmu. Terlebih dia juga menyayangi keluargamu dan juga kedua orang tuamu."


Akhirnya setelah dua minggu lebih tinggal seatap dengan Saras, Hyung perlahan-lahan mengetahui bagaimana Saras yang sebenarnya. Jika Saras adalah tipikal wanita yang penyayang terhadap orang tuanya. Hyung pun menarik napas panjang sambil melihat langit-langit ruangan. Ia tersenyum senang. Ia akhirnya menemukan apa yang neneknya harapkan.


Nenek, aku sudah menemukan wanita itu sekarang.


Ia lantas meletakkan plastik belanjaannya ke atas meja. Hyung pun segera menyiapkan makan malam. Dengan hati yang senang, dengan hati yang gembira. Hyung telah menemukan sosok wanita idamannya. Seperti apa yang neneknya katakan.

__ADS_1


Esok harinya...


Hari ini adalah Hari Kamis. Hyung pun mengerjakan aktivitas hariannya di rumah Saras. Tapi tak berapa lama sebuah dering telepon menyadarkannya. Hyung pun segera mengangkat telepon itu dari ponsel selular biasa. Dan ternyata Saki lah yang meneleponnya.


"Halo?" Hyung pun segera menjawabnya.


Saki terdengar berbicara dari seberang telepon. Ia mengabarkan sebuah berita kepada Hyung. Hyung pun mengerti apa yang harus dilakukannya.


Hyung terdiam sejenak di depan ruang makan. Ia tampak memikirkan kabar yang Saki sampaikan. Ia pun kepikiran haruskah meninggalkan Saras di rumah sendirian atau tidak. Karena nyatanya ia masih terikat perjanjian.


Saras, ayahku sedang berada dalam perjalanan ke negara ini. Aku tidak bisa sering-sering berada di sini. Apakah tidak apa kutinggalkan kau sendiri?

__ADS_1


Dan ternyata kabar itu adalah berita tentang keberangkatan ayah Hyung yang menuju negeri ini. Hyung pun tidak bisa tinggal lama di rumah Saras karena khawatir dicurigai. Ia jadi harus berpikir ulang di tengah perjanjian yang mengikatnya. Hyung harus mengambil keputusan secepatnya.


Sore harinya...


Pukul sebelas siang Hyung sudah sampai di apartemennya. Ia pun bertemu dengan Saki lalu berbicara banyak tentang sang ayah. Kabarnya sang ayah hanya datang sendiri ke negeri ini. Tapi Saki belum mengetahui tujuan pastinya. Ayah Hyung tidak memberitahukannya. Dan kini Hyung tengah bersiap-siap menjemput ayahnya.


"Tuan Muda, mobil sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang."


Saki pun datang lalu memberi tahu Hyung. Hyung pun mengangguk lalu beranjak berdiri. Ia bersama Saki akan menjemput ayahnya sore ini.


Saras, aku harus menjemput ayahku dulu. Maaf, mungkin beberapa hari ini aku harus meninggalkanmu.

__ADS_1


Dan akhirnya Hyung dan Saki pun berangkat ke bandara. Tentunya dengan hati yang masih tertinggal di sana. Di kontrakan Saras seorang.


__ADS_2