DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Kesal Tertahan


__ADS_3

Hyung tidak jadi melanjutkan makan siangnya. Ia menyingkirkan kotak nasinya lalu berdiri di hadapan Saras. Ia menatap tajam ke arah Saras. Ia bak seorang polisi yang siap menginterogasi tersangkanya.


"Berarti untukmu? Seberapa berartinya dia untukmu?" Hyung bertanya lagi dengan penekanan intonasi tinggi.


Saras tidak berani melihat Hyung. "Kami ... pernah tinggal bersama. Tapi kini dia sudah pergi meninggalkanku." Saras mengatakannya seraya menundukkan kepala.


Apa?!! Dia bilang aku meninggalkannya?!! Saras, kau benar-benar keterlaluan! Kau yang mengusirku dengan mengembalikanku ke situs itu. Tapi kau juga yang bilang aku meninggalkanmu. Aku bisa gila karena perkataanmu ini, Saras! Aku sudah tidak sabar lagi! Aku sudah tidak sabar ingin menghukummu. Lihat saja nanti!


Hyung diam dengan gemuruh ketidakterimaan di hatinya. Tapi ia mencoba bersabar. Ia belum mau menunjukkan siapa dirinya di hadapan Saras. Ia masih ingin membuat Saras penasaran. Ia juga ingin tahu hati Saras yang sebenarnya. Tapi entah mengapa semakin lama bicara, Hyung semakin kesal saja. Saras bak rubah betina di matanya. Pintar memutarbalikkan fakta.

__ADS_1


"Apa kau menyukainya?" Hyung bertanya lagi kepada Saras.


Saras menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum, mengingat kembali kenangannya bersama Vi. "Dia seperti Anda, Pak. Wajahnya, perawakannya, tinggi badannya, cara bicaranya, suaranya. Semua sama. Tapi sesuatu hal telah memisahkan kami dan kini dia sudah pergi." Saras mengatakannya lagi.


Hyung berjalan menuju sisi jendela ruangan lalu membuka sedikit tirainya. Ia membelakangi Saras yang duduk di depan meja kerjanya. Hatinya merasa kesal dengan semua ucapan Saras. Ia tidak terima karena merasa dikadali Saras. Dan Hyung ingin Saras membayar semuanya. Hyung menginginkan Saras.


"Ada kalanya seorang pria ingin dimengerti. Ada kalanya seorang wanita juga ingin dimanja dan diperhatikan lebih. Tapi kurasa perpisahan itu tidak akan terjadi bilamana salah satunya ada yang membuka kejujuran. Maka dari itu jika seorang pria tidak bisa membukanya lebih dulu, kenapa wanita harus gengsi untuk memulainya? Bukankah sebuah hubungan tidak dijalani sebelah pihak saja?" Hyung bertanya pada Saras.


Hyung menelan ludahnya. Ia menoleh sedikit ke belakang. Ia lalu berbalik dan berjalan mendekati Saras. Hyung berdiri di hadapan Saras dengan jarak satu meter saja.

__ADS_1


"Jika aku dirinya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Hyung lagi.


Saras menelan ludahnya. Ia terlihat takut dan cemas yang bersamaan. "Aku akan menciumnya." Dan kata-kata itulah yang keluar dari mulut Saras.


Hyung mengernyitkan dahi. Ia merasa heran dengan wanita ini. Ia pun menatap Saras tanpa berkedip sama sekali. Ia berpikir agar tidak tertipu lagi.


Wanita ini masih bisa berbohong. Apa dia tidak tahu jika aku ini lelaki? Dia tidak bisa mengalahkanku satu lawan satu. Saras, akan kubuat kau malam ini bertekuk lutut di depanku. Kau akan menuruti semua keinginanku. Dan kau tidak bisa lari lagi dariku. Aku akan mendapatkan apa yang kumau.


Hyung tersenyum penuh maksud. "Apa wanita pembohong sepertimu dapat dipercaya?"

__ADS_1


Ia bertanya kepada Saras. Hyung mulai menikmati segala kebohongan yang diucapkan Saras. Karena ia akan meminta pertanggungjawaban Saras malam ini. Hyung tidak tahan lagi untuk memberi hukuman kepada wanita yang telah menipunya. Hyung merasa harus berbuat sesuatu agar Saras jera dari perbuatannya. Yaitu dengan memiliki Saras seutuhnya.


__ADS_2