
Esok harinya...
Pagi yang cerah telah datang. Hari ini Hari Rabu pukul delapan pagi waktu ibu kota dan sekitarnya. Dan hari ini adalah hari ke dua Hyung bekerja sebagai bos di perusahaan ayahnya. Hyung memegang kantor cabang lama dengan segala keahlian yang ia punya. Dan kini ia terlihat sedang melihat monitor layar CCTV kantornya. Yang mana ia tidak melihat Saras di sana.
Di mana dia? Kenapa belum datang?
Jam masuk kantor sebenarnya pukul delapan pagi. Tapi karena keadaan ibu kota sangat macet di waktu pagi, maka terjadi pergeseran waktu masuknya. Dari jam delapan ke jam setengah sembilan. Sedang waktu pulangnya mengikuti delapan jam kerja ditambah satu jam istirahat. Sehingga waktu pulang kantor adalah pukul setengah enam. Di luar waktu itu perusahaan akan menghitungnya sebagai lembur. Dan lembur dibayar per satu jamnya.
Kini Hyung memerhatikan seluruh sudut ruangan yang ada di lantai kantornya. Ia pun sambil menyantap sarapan pagi dan memerhatikan karyawan yang datang. Beberapa dari mereka sudah memenuhi ruangan, dan Hyung juga telah menandainya sebagai calon karyawan teladan. Tapi sayang, sampai pukul sembilan Saras belum juga datang. Hyung pun menelepon Stefany lewat line teleponnya.
"Ke mana Saras? Dia belum datang? Cepat beri tahu aku!" Dan begitulah yang Hyung tanyakan kepada teman dekat Saras.
"Saya akan mencari tahunya, Pak. Mohon menunggu." Stefany pun memenuhi permintaan Hyung.
__ADS_1
Hyung melihat sendiri Stefany yang segera menelepon seseorang dari ponsel pribadinya. Hyung pun membuka program komputer di laptopnya sambil menunggu kabar dari Stefany. Tapi kemudian Stefany mengabarkan sesuatu yang mengejutkannya. Dimana jika ternyata Saras tidak bisa dihubungi. Saat itu juga Hyung geram bukan kepalang. Ia merasa ditantang. Hyung pun segera meninggalkan ruangan. Ia berniat menemui Saras di kontrakan.
Satu jam kemudian...
Hyung menyetir mobil sendiri. Ia sudah cukup tahu di mana rumah Saras berada. Dan kini ia akhirnya sampai juga di depan rumah kontrakan Saras. Tapi sayang, rumah kontrakan itu tampak sepi. Hyung pun jadi bertanya-tanya sendiri.
"Em, maaf. Apakah Bapak tahu di mana penghuni kontrakan ini?" tanya Hyung kepada seseorang yang sedang menyapu jalan di kontrakan depan.
"Benar, Pak. Apakah Bapak tahu?" tanya Hyung lagi.
"Oh, sepertinya nona Saras sudah pergi dari pagi. Tapi saya tidak tahu ke mana. Mungkin dia pergi ke rumah temannya," jawab bapak itu.
"Rumah temannya?" Hyung merasa heran.
__ADS_1
"Benar. Biasanya nona selalu pergi ke rumah temannya yang berambut panjang itu. Siapa ya namanya? Saya juga lupa." Bapak itu terlihat berpikir keras untuk mengingatnya.
Hyung mengerti. "Baik, Pak. Terima kasih."
Hyung pun segera berpamitan lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia seperti tahu siapa teman Saras yang dimaksud. Tak lain adalah Elen. Hyung pun segera menelepon Saki untuk mencari tahu di mana keberadaan rumah Elen.
"Saki, tolong cari tahu alamat Elen. Karyawan di gedung sebelah," pinta Hyung kepada Saki.
"Baik, Tuan."
Dengan tanpa banyak bertanya pun Saki segera mencari tahu alamat lengkap rumah Elen. Hyung ingin menjemput Saras di sana. Ia ingin bertemu wanita yang menjengkelkan hatinya
Saras, jika kau benar ada di sana, apakah Elen juga ada di sana? Oh, tidak. Di sana ada El. Jangan-jangan kau bersama El saat ini.
__ADS_1