DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Empat Mata


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Beberapa jam telah berlalu. Satu per satu karyawan lama perusahaan dipanggil oleh sang manajer kantor untuk segera menghadap Hyung. Dan kini tiba giliran bagi Saras untuk menghadapnya. Saras pun deg-degan dan berusaha keras menormalkan detak jantungnya. Ia bersikap biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tetapi tetap saja perasaan di hati itu tidak bisa dibohongi olehnya.


Ya Tuhan, tolong aku.


Dan pada akhirnya Saras masuk ke ruangan bos perusahaan. Untuk pertama kalinya ia bisa melihat sendiri bagaimana keadaan di dalam ruangan. Karena sebelum-belumnya hanya sampai di ruangan manajer saja. Tapi kini ruangan yang dulunya kosong itu telah diisi oleh Hyung. Mantan pacar sewaan Saras sendiri yang menyamar sebagai Vi.


"Permisi, Pak."


Dan begitulah yang Saras katakan kepada pria berkemeja abu-abu yang duduk di kursi. Tampak Hyung melepas jas dan diletakkannya di belakang kursi. Ia menyandarkan punggung dengan nyaman di sana.


"Duduk."


Hyung pun berkata seperti itu kepada Saras. Saras kemudian lekas menarik kursi untuk duduk di hadapan Hyung. Bersamaan dengan detak jantungnya yang begitu keras.

__ADS_1


Hyung membenarkan posisi duduknya. Duduk menyandarkan tangan kanan pada sisi kursi dengan tangan kiri yang memegang sisi meja. Hyung menatap Saras dengan tajam seperti ingin menerkam. Ia pun mendongakkan kepalanya sambil melihat Saras. Saras pun menundukkan kepalanya di hadapan Hyung.


Dia tidak bicara?


Satu, dua, tiga detik berlalu, namun belum ada tanda-tanda Hyung akan bicara. Saras pun mengangkat kepala untuk melihanya. Saat itu juga Hyung tersenyum kepada Saras. Senyum penuh arti yang hanya ia sendiri yang tahu apa maksudnya. Sedang Saras menelan ludah berulang kali karena harap-harap cemas dengan nasibnya. Hyung pun membuka CV milik Saras.


"Saras Esa Putri." Hyung menyebut lengkap nama Saras.


"Ya, Pak."


Saras pun menyahutinya. Mereka duduk berhadapan dengan ketegangan yang sempurna. Terlihat sangat kaku sekali. Terlebih Saras sendiri. Ingin rasanya ia melarikan diri dari ruangan ini. Tapi Saras juga tahu jika hal itu tidak dapat dilakukannya. Karena kini di hadapannya sudah ada sang bos besar. Seorang pria yang tak terduga sebelumnya. Namun, Saras belum dapat memastikannya. Ia masih takut salah mengira.


"Delapan tahun, Pak," jawab Saras segera.


"Berapa gajimu?" tanya Hyung lagi.

__ADS_1


"Enam juta. Itu juga baru sebulan yang lalu." Saras menjawab dengan jujur.


"Enam juta? Dengan penghasilan sekecil itu kau sudah berani menyewa seorang pria untuk menjadi pacarmu?" tanya Hyung seraya menatap tajam Saras.


Dia?!!


Saat itu juga Saras membenarkan jika yang duduk di hadapannya adalah mantan pacar sewaannya dulu. Bukan kembarannya, bukan kakak, sepupu atau cosplayer-nya. Saras merasa jika itu benar-benar Vi. Karena yang tahu tentang sewa menyewa dari situs ilegal itu hanya Vi. Tak lain adalah Hyung sendiri.


"Saya diejek terus, Pak. Jadi saya nekat menyewa pacar dari situs itu." Saras pun berkata jujur.


Hyung memiringkan kepalanya untuk melihat Saras. "Memangnya kau tidak punya pacar?" tanya Hyung lagi.


Saras mengangguk. "Sudah lima tahun ini saya sendiri karena sering diselingkuhi." Saras pun menjawabnya.


"Oh, begitu." Hyung menyandarkan punggungnya di kursi. "Kudengar ada teman kantormu yang ikut mem-bully. Apakah benar?" Hyung ingin tahu.

__ADS_1


Saras mengangguk.


"Siapa nama lengkapnya? Haruskah kita tendang saja dia dari perusahaan ini?" tanya Hyung yang mengejutkan Saras.


__ADS_2