DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Memulai Permainan


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Menit demi menit berlalu. Belasan, puluhan, sampai tiga puluh menit terlewati. Saras masih berada di depan meja kerjanya. Browsing sana-sini karena bete menunggu. Pada akhirnya rasa kantuk pun mulai menerjangnya. Ia terlihat lelah tapi masih diminta menunggu. Sedang yang memintanya menunggu baru saja keluar dari ruangannya. Ialah Hyung Kimra yang berjalan mendekati Saras malam ini. Saras pun cepat-cepat menutup semua web yang dibukanya.


"Saras." Hyung memanggil.


"Ya, Pak?" Saras pun segera berdiri menyambutnya.


"Duduk saja." Hyung meminta Saras tetap duduk.


Saras mengangguk, kembali duduk di kursi. Hyung pun tersenyum kepada wanita itu seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Tapi tak lama, Hyung segera mendorong kursi Saras hingga mentok ke meja kerja. Sontak Saras gelagapan karenanya.


Mari kita mulai permainannya, Saras.

__ADS_1


Hyung pun berdiri di belakang Saras. Ia melebarkan kedua tangannya ke sisi meja. Sehingga Saras seperti terkunci olehnya. Saras tidak bisa bergerak sama sekali. Ia pun tidak mungkin berteriak di malam ini. Tidak ada siapapun di lantai kantor selain dirinya dan Hyung seorang. Karena yang lain sudah pulang.


"Kau sudah makan?"


Hyung pun bertanya dengan jarak yang dekat sekali. Ia menatap Saras dari samping. Sontak Saras gemetaran sendiri. Hyung begitu agresif kali ini.


"Su-sudah, Pak." Saras pun terbata menjawabnya.


"Tidak mengajak ku?" tanya Hyung lagi.


"Sa-sa-saya pikir Bapak sudah makan." Bibir Saras pun gemetar menjawabnya.


Hyung menoleh, menatap Saras dengan tangan yang memegang mouse komputer. Jarak keduanya sangat dekat dan bahkan dekat sekali. Saras pun tidak bisa lari. Ia terkunci.

__ADS_1


"Kau tidak ada niat untuk menanyakannya padaku?" tanya Hyung lagi sambil memerhatikan wajah Saras yang lelah.


Saras diam, kaku, dan tak bergerak. Ia khawatir sedikit pergerakan saja bisa membuat bibir mereka bertemu. Ia tetap menghadapkan pandangannya ke depan, menatap layar komputer. Tetapi tetap saja hatinya itu tidak bisa dibohongi. Jantungnya berdebar kencang tak menentu. Hyung berhasil membuat Saras nervous malam ini.


"Maaf, Pak. Lain kali saya akan menanyakannya." Saras pun berkata seperti itu.


Hyung tersenyum menyeringai. Ia kemudian membuka sebuah situs belanja online. Ia mengetik sesuatu sebagai kata kuncinya. Lalu ia pun menekan tombol enter di sana. Hingga akhirnya terlihatlah berbagai macam bentuk lingeri yang dijual di sana.


"Menurutmu mana yang bagus?" Ia pun menanyakan pendapat Saras.


"Ap-apa?!"


Saat itu juga Saras tak percaya dengan pertanyaan Hyung. Hyung pun menoleh ke arah Saras seraya tersenyum. Ia meminta Saras memilihkannya. Sontak Saras pun menelan ludahnya karena merasa takut.

__ADS_1


Jangan bilang kau tidak tahu apa ini, Saras. Aku sudah tidak sabar ingin melihatmu memakainya. Dan mari lihat apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Kau harus membayar semuanya.


Hyung ingin melampiaskan kekesalannya kepada Saras. Ia ingin Saras membayar semua rasa kecewanya. Hyung gemas kepada wanita yang pernah menyewa jasanya. Ia juga tidak terima dibuang begitu saja. Sedang Saras sendiri tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa tak berdaya. Malam ini pun menjadi saksi kekhawatirannya.


__ADS_2