DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Bersemi


__ADS_3

Sesampainya di depan kantor...


Angin semakin lama semakin kencang. Hyung pun baru sampai di depan kantor Saras. Atau lebih tepatnya di depan kantor ayahnya sendiri. Ia segera mengenakan masker yang ada di jaketnya lalu menelepon Saras.


"Halo?" Tak lama teleponnya pun diangkat oleh Saras.


"Aku sudah di bawah. Aku menjemputmu pulang," katanya kepada Saras.


"Hah?! Kau di pos satpam?" Saras pun tampak tak percaya Hyung menjemputnya.


"Tidak. Aku tidak berani masuk ke kantormu. Aku menunggu di bawah pohon yang ada di dekat gerbang. Cepatlah. Aku sudah bawakan payung untukmu," kata Hyung lagi.


"Baik. Tunggu aku." Saras pun meminta Hyung menunggu.


Hyung kemudian menunggu. Ia berkata kepada dirinya sendiri.


Aku harus memainkan penyamaran ini dengan baik. Jangan sampai terbongkar sebelum waktunya.


Ia pun menunggu Saras datang di bawah pohon yang ada di dekat gerbang kantor. Hyung akan menunggu wanita yang berhasil menggodanya malam itu. Namun, dengan perhatian yang murni dan tulus dari hati.

__ADS_1


Pukul setengah sembilan malam...


Itu dia! Hyung melihat Saras keluar dari kantornya. "Saras!"


Ia pun memanggil Saras. Terlihat Saras yang tersenyum senang melihat kehadirannya.


"Kau kebasahan. Kita ke halte bis sekarang."


Hyung pun menarik tangan Saras lalu memayunginya. Tanpa peduli bagaimana perasaan Saras dengannya. Ia hanya ingin menunjukkan perhatiannya kepada Saras.


"Kau ingin pakai jaket buluku?" tanya Hyung kepada wanita di sampingnya.


Saras tersenyum. "Terima kasih. Blezerku masih cukup menghangatkan," jawab Saras senang.


"Benar, kah? Kau rajin sekali." Saras tampak tak menyangka.


"Aku memenuhi apa yang kau inginkan. Bukankah itu cukup memuaskan?" tanya Hyung lagi.


Sejenak Saras terdiam mendengar pertanyaan Hyung. Hyung pun memerhatikan Saras yang berjalan di sisinya. Ia tersenyum melihat wanita itu. Perasaan di hatinya mulai tumbuh bak bunga di musim semi. Tapi Hyung tidak ingin terburu-buru. Ia masih ingin meneruskan penyamarannya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah kontrakan...


Hyung segera menggantung payung yang digunakan untuk menjemput Saras. Ia biarkan payung itu terbuka agar cepat kering. Ia juga kemudian memasakkan air untuk Saras mandi. Ia begitu telaten menjadi pacar sewaan Saras. Bak sudah menjadi suami sendiri. Tak lama air yang dimasaknya juga sudah jadi.


"Saras, air panasnya sudah jadi. Mandilah agar tubuhmu lebih segar," kata Hyung kepada Saras.


Saras pun beranjak bangun dari duduknya. Ia berjalan mendekati Hyung yang ada di dapur. "Aku maunya dimandiin," kata Saras sambil tersenyum kepada Hyung.


Sontak Hyung menelan ludahnya. Ia ragu-ragu menatap Saras. "Em, nanti. Sekarang mandi sendiri dulu." Ia pun akhirnya menjawab seperti itu.


"Kapan?" tanya Saras semakin menjadi.


Dia ini. Seringkali menggodaku. Apa dia tidak tahu jika aku pria normal?


Hyung pun menggerutu sendiri. "Em ... saat kau tidak akan pernah menyesalinya." Hyung pun menjawabnya.


"Maksudmu?" Saras bertanya kembali.


Hah ... wanita ini memang harus diberi hukuman. "Saat kau siap punya anak." Hyung akhirnya terus terang.

__ADS_1


Sontak Saras menahan tawanya. Ia merasa Hyung itu lucu. "Hm, baiklah. Aku akan mempersiapkan diri untuk itu. Tapi ... aku ingin kau juga bekerja untuk menafkahi anak itu. Jangan cuma aku saja." Dan akhirnya obrolan ini terus berlanjut.


Hyung mengembuskan napas sambil menggelengkan kepalanya. "Saras, mandilah. Jangan bicara lagi. Aku ini lelaki." Hyung pun mulai kesal karena Saras terus menggodanya.


__ADS_2