
Hyung pun bertanya-tanya sendiri. Padahal ia sudah mengirim pesan ke Saras dan menjelaskan jika harus kembali ke rumah untuk menemui ibunya. Walaupun berbohong, setidaknya Saras tahu jika Hyung tidak ke mana-mana. Tapi ternyata Saras malah mengembalikannya. Hati Hyung jadi patah. Ia kecewa karenanya.
"Tuan, sudah sampai."
Dan tak lama supir taksi pun memberi tahu jika ia sudah sampai di apartemennya. Hyung pun segera membayar argo meternya. Ia keluar dari mobil taksi dengan membawa koper besarnya. Tentunya dengan luka di hati yang baru saja tertorehkan malam ini. Ia ingin melupakan semuanya.
Pukul 9.45 malam...
Resah gelisah melanda Hyung malam ini. Saat hendak memejamkan mata, saat itu juga bayang-bayang Saras selalu terlintas di benaknya. Bagamana Saras yang manja, lucu, usil dan menggodanya. Hyung teringat dengan itu semua. Tapi malam ini Saras hanya mampu berada di ingatannya. Karena nyatanya Saras telah mengembalikan Hyung ke tempat asalnya. Dan Hyung tidak terima.
Entah mengapa hati Hyung tidak bisa menerima keputusan Saras yang mengembalikannya ke situs ilegal tersebut. Walaupun tidak menderita kerugian secara material, tapi hati Hyung merasakan sakit karena hal itu. Ia kecewa. Melebihi rasa kecewanya saat melihat seorang gadis yang disukainya di kampus waktu itu. Hyung pun tidak bisa tidur jadinya. Resah gelisah selalu mengganggunya. Hingga akhirnya satu per satu perkataan Saras teringat lagi di alam pikirannya. Hyung merindukan itu semua.
"Saras, air panasnya sudah jadi. Mandilah agar tubuhmu lebih segar," kata Hyung kepada Saras.
"Aku maunya dimandiin," kata Saras sambil tersenyum kepada Hyung.
__ADS_1
"Em, nanti. Sekarang mandi sendiri dulu." Hyung pun menjawab seperti itu.
"Kapan?" tanya Saras semakin menjadi.
"Em ... saat kau tidak akan pernah menyesalinya." Hyung pun menjawabnya.
"Maksudmu?" Saras bertanya kembali.
"Saat kau siap punya anak." Hyung akhirnya terus terang.
"Hm, baiklah. Aku akan mempersiapkan diri untuk itu. Tapi ... aku ingin kau juga bekerja untuk menafkahi anak itu. Jangan cuma aku saja." Saras mengatakan.
Saras ... kenapa kau melakukan hal ini padaku?
Hyung pun menatap langit-langit kamar apartemennya yang sengaja digelapkan. Dadanya mulai terasa sesak karena ketidakterimaan dalam hatinya. Padahal selama ini ia sudah menunjukkan ketulusannya sebagai pacar. Walaupun hanya sebatas pacar sewaan. Tapi Saras malah membalas dengan pengembaliannya ke situs itu.
__ADS_1
Siapa?!
Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Menyadarkan Hyung jika seseorang datang. Ia pun lekas mengusap wajahnya lalu keluar untuk membukakan pintu. Dan ternyata ayahnya lah yang datang.
"Hyung, kau belum tidur?" Sang ayah diantar oleh Saki dan pengawalnya.
"Hm, ya. Aku belum tidur, Yah." Hyung pun berusaha tersenyum di tengah kedukaannya.
"Baiklah. Ayah bawa pizza. Makanlah selagi hangat." Sang ayah pun berjalan ke kamarnya.
Hyung mengangguk. Ia melihat sang ayah yang pergi. Sedang Saki dan pengawal ayahnya meletakkan pizza itu ke meja TV. Saki pun tampak memerhatikan raut wajah Hyung yang berbeda malam ini. Hyung tidak seperti biasanya. Saki pun menyadarinya. Namun, ia merasa segan untuk menanyakannya.
"Tuan, apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan?" Saki bertanya kepada Hyung.
Hyung menggelengkan kepala. "Tidak. Terima kasih." Ia pun hanya menjawab seperti itu kepada orang kepercayaan ayahnya. Hyung kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Seperti ada sesuatu yang terjadi pada Tuan Muda. Tapi apa?
Saki pun bertanya-tanya. Ia merasa khawatir. Saki takut terjadi hal yang tidak-tidak pada putra bosnya. Karena bagaimanapun Saki telah dipercaya ayah Hyung untuk menjaga putranya.