
"Ak-aku ... aku tidak tahu, Pak." Dan akhirnya Saras menjawab seperti itu.
"Tidak tahu? Tapi waktu itu aku melihat celana rendamu." Dia mengingatkan Saras pada sesuatu.
Di-dia?!
Sontak Saras terkejut. Ia menoleh cepat ke arah Hyung. Saat itu juga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Jarak keduanya begitu dekat, hampir sesenti pun tak ada. Hingga akhirnya Saras menyadari jika Hyung adalah Vi.
"Vi? Kau???" Saras pun bertanya-tanya dengan rasa penasaran yang begitu besar.
Hyung tersenyum penuh kemenangan. "Saras, aku datang ingin meminta pertanggungjawabanmu," kata Hyung yang membuat Saras tersentak hebat.
"Vi???" Saras pun seolah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Cepat pilih lingeri mana yang kau suka," kata Hyung. Ia memaksa Saras memilihnya. Membuat pikiran Saras ke mana-mana.
Saras menelan ludahnya. Ia tahu jika telah terjebak ke dalam perangkap Hyung. Ia pun tidak bisa lari lagi. Saras harus mempertanggungjawabkan semuanya. Seperti apa yang Hyung inginkan. Tidak bisa tidak.
Pukul delapan malam waktu ibu kota dan sekitarnya...
__ADS_1
Waktu terus berlalu. Dan kini Hyung bersama mantan penyewa jasanya itu sedang mampir ke rumah makan lele terbang sebentar. Di mana sebelumnya Saras yang mengenalkan. Dan ternyata Hyung ketagihan dengan cita rasa masakannya.
"Pesan dua untuk dibawa pulang," pinta Hyung kepada pelayan rumah makan.
Saras sendiri memerhatikan Hyung tanpa henti. Hyung akhirnya mengakui siapa ia sebenarnya. Saras pun terkejut dan tak percaya. Tapi Hyung tahu suatu saat penyamarannya akan terbongkar juga. Karena itu Hyung membiarkan Saras mengetahuinya. Agar Saras tidak terlalu khawatir dengan siapa pria yang berada di dekatnya. Karena nyatanya seorang pria yang telah dikenalnya.
Telepon? Pasti dari toko online.
Tiba-tiba saja ponsel Hyung bergetar. Ia pun meminta Saras mengambilkan. "Saras, tolong ambilkan ponselku."
"Apa?!" Saras pun terkejut seketika.
"Ba-baik."
Sambil mengunyah makanan, Hyung membiarkan Saras merogoh saku celananya. Tapi Hyung tidak ingin melewatkan momen ini. Ia kemudian berkata lagi.
"Jangan salah sentuh, Saras. Nanti gajimu kupotong setengah."
Ia pun mengancam Saras. Lagi-lagi ingin mengerjai Saras dengan kekuasaannya. Saras pun hanya terdiam di sampingnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal hatinya sangat kesal kepada Hyung karena sudah bertindak semaunya.
__ADS_1
"Ini, Pak."
Saras pun memberikan ponsel itu kepada Hyung. Tapi telepon terburu mati. Hyung pun tidak jadi mengangkat teleponnya. Tapi tak berapa lama kemudian, telepon kembali berdering. Hyung pun meminta Saras untuk mengangkatkannya.
"Angkatkan telepon untukku," pinta Hyung lagi.
Saras pun mengangkatkan telepon itu lalu mendekatkan ke telinga Hyung. Hyung pun segera menjawab suara seseorang dari seberang.
"Kirimkan ke rumah makan lele terbang. Aku sedang berada di sini. Di meja dua belas." Ia berkata seperti itu lalu tak lama sambungan telepon pun terputus.
"Merepotkan saja."
Hyung pun menyudahi makannya. Segera pergi mencuci tangan di wastafel rumah makan. Sedang Saras meneguk habis jus yang dipesannya. Ia merasa haus sekali. Tak lama seorang kurir pun datang ke meja Saras. Bersamaan dengan Hyung yang telah selesai mencuci tangannya. Transaksi pembelian lingeri pun dilakukan Hyung.
Beberapa menit kemudian...
Hyung telah menerima pesanannya lalu kembali duduk. "Kita pulang sekarang. Ada yang ingin kau beli?" tanyanya kepada Saras.
"Em ...." Saras pun berpikir cepat mengenai pertanyaan Hyung.
__ADS_1