DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Menduga


__ADS_3

"Pak, kau tidak boleh seperti ini padaku."


Saras menutup dadanya rapat-rapat. Sedang Hyung mengunci Saras agar tidak lari darinya. Kedua tangan Hyung berada di sisi kiri dan kanan tubuh Saras. Saras pun tahu hal apa yang akan dihadapinya.


"Kau bilang padaku, jika aku sudah bekerja langsung punya anak juga bisa." Hyung mengingatkan Saras akan perkataannya. Ia menatap Saras tepat di mata.


Saras tersentak. "I-itu hanya bercanda, Pak. Tidak sungguhan!" Saras menjelaskan. Napasnya mulai tidak beraturan karena rasa khawatir yang timbul di hatinya.


"Begitu?" Hyung menghirup napas dalam-dalam. "Pantas saja kau selalu diselingkuhi karena suka berbohong seperti ini. Tidak seharusnya kau menyalahkan kaum lelaki." Hyung berkata lagi.


"I-itu ti-tidak benar, Pak. Mereka begitu karena menginginkan sesuatu dariku tapi tidak kukasih." Saras menjelaskannya.

__ADS_1


Hyung memalingkan muka. Ia melihat langit-langit ruangan karena sudah merasa bosan dengan segala alasan Saras. Ia menganggap Saras seperti rubah betina yang tak patut untuk dipercayai lagi. Karena ia sudah tertipu berulang kali. Hyung kira semua yang dikatakan Saras adalah sungguhan. Tapi nyatanya, hanya canda belaka.


"Kau ingin mengungkapkan alasan apa lagi? Kau sudah terlalu banyak berbohong padaku. Sekarang cepat pakai lingeri itu!" Hyung meminta.


Saras menggelengkan kepalanya. "Bapak ambil saja semua uangku. Tapi jangan suruh aku memakainya. Aku malu, Pak." Saras menolaknya.


Hyung terdiam sejenak. "Malu?" Ia tidak habis pikir. "Kau sudah berpengalaman dalam hal berpacaran dengan berbagai macam jenis pria. Dan kau bilang malu?" Hyung merasa kesal.


Saras mengangguk.


Saras menelan ludahnya. "Sebegitu rendahnya kah dirimu menilai seorang wanita, Pak? Aku tidaklah seperti yang kau pikirkan." Saras berontak.

__ADS_1


Hyung mengernyitkan dahinya. "Jadi kau ingin bilang jika masih perawan?" tanya Hyung lagi.


Saras tertunduk. Ia merasa malu mengatakannya. Hyung pun terdiam menunggu Saras menjawabnya. Ia penasaran akan kebenaran hal itu. Tapi, Saras tidak juga menjawabnya.


"Hah ...," Hyung melepaskan Saras. Ia mengambil bag lingeri yang dibawanya. "Sekarang pakai ini. Atau kupecat tidak hormat!" Hyung memberikan bag itu kepada Saras.


Saras terlihat bersedih. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Hyung pun seperti tidak bisa menahan keinginannya. Sedang Saras sudah berkata jujur padanya. Tapi kebohongan yang lalu seakan membuat Hyung tidak bisa percaya lagi.


"Aku tidak mau, Pak. Aku malu. Sesuatu bisa terjadi kalau aku memakai itu. Aku tidak mau kehormatan yang telah kujaga selama ini kuberikan pada pria tak jelas sepertimu." Saras memberanikan diri bicara.


Apa?! Tak jelas??? Dia bilang aku tak jelas??? Wanita ini apa tidak bisa membaca gerak gerik tubuhku? Astaga, Saras! Haruskah aku mengatakan semua isi hatiku padamu?!!

__ADS_1


Saat mendengarnya, saat itu juga Hyung merasa kesal. Tidak mungkin ia sampai segila ini jika tidak mempunyai perasaan terhadap Saras. Kebersamaan selama dua minggu lebih itu membuat Hyung menaruh perasaan kepadanya. Tapi sayang, Saras menepiskannya. Ia membuang Hyung begitu saja. Padahal hampir tiga minggu mereka lalui bersama.


Hyung berjalan mendekati Saras. Ia menarik dagu Saras dengan jari telunjuknya. Bibir merah merona itu seakan membangkitkan gairah yang terpendam sejak lama. Hyung pun ingin memastikan apa yang Saras katakan padanya.


__ADS_2