DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO

DIBALIK PENYAMARAN SANG CEO
Menginginkanmu


__ADS_3

"Ingin belanja mingguan? Aku temani." Ia menawarkan diri.


"Em, ti-tidak. Tidak perlu, Pak." Saras pun segera menolaknya.


Hyung tersenyum kepada Saras. "Kenapa? Takut?" Ia menyeringai di hadapan wanita itu.


Saras menelan ludahnya. "Ti-tidak, Pak. Saya sudah lelah. Saya ingin beristirahat saja." Saras pun berkata seperti itu kepada Hyung.


Hyung menggangguk. "Baiklah. Kita pulang sekarang. Ayo!"


Ia kemudian berjalan duluan di depan Saras. Hyung segera membayar makanannya. Tak lupa juga ia membeli dua porsi untuk di kontrakan Saras. Hyung ingin bermalam di rumah Saras.


Sesampainya di rumah kontrakan Saras...


Saat ini sudah pukul sembilan malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Saat ini juga Saras baru sampai di depan rumah kontrakannya. Tapi Hyung mengikutinya. Terus mengikutinya sampai naik ke lantai dua. Saras pun jadi risih padanya.


"Em, Pak. Sampai di sini saja. Tidak perlu mengantarkan sampai ke depan pintu."

__ADS_1


Saras berkata seperti itu, tapi Hyung hanya diam saja. Ia tidak berkata apa-apa. Sambil membawa dua kotak lele terbang dan juga bag lingeri, Hyung kembali mengikuti langkah kaki Saras yang menuju pintu rumahnya. Hingga akhirnya Saras mengambil kunci untuk membuka pintu. Saras ingin menghentikan Hyung yang mengikutinya. Tapi saat itu juga...


"Tidak memperbolehkanku masuk?"


Hyung menahan daun pintu yang ingin ditutup Saras. Saras pun terbelalak seketika. Tapi ia mencoba bersikap biasa-biasa saja.


"Em, Pak. Sudah malam. Tidak enak dilihat tetangga." Saras beralasan kepada Hyung.


Hyung yang sudah merencanakan kegilaannya malam ini pun tidak terima dengan penolakan Saras. Sambil menahan daun pintu ia menatap tajam ke arah Saras, tepat di mata. Hyung menggelengkan kepalanya.


"Ap-apa?!" Sontak Saras jadi gugup seketika.


"Kau ingat hari di mana kita pulang dari supermarket itu?" tanya Hyung kembali. Saat itu juga Saras teringat dengan perkataannya sendiri.


"Em, anu ...." Saras pun seperti tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Hyung menaikkan satu alisnya. "Kau punya banyak utang padaku, Saras." Hyung pun mencoba menerobos masuk ke dalam kontrakan Saras.

__ADS_1


"Tu-tunggu dulu." Saras pun berusaha menahannya.


Hyung diam di tempat, memerhatikan Saras. Saat itu juga Saras memutar otaknya dengan cepat agar bisa membuat Hyung pergi dari rumahnya.


"Aku akan membayar semua utang-utangku, Pak. Utang uang. Ya, uang lima juta itu akan kukembalikan," kata Saras dengan tergesa-gesa.


Hyung tersenyum sinis. "Kau pikir aku ingin uang?" tanya Hyung. "Tidak, Saras." Hyung menggelengkan kepalanya. "Yang aku inginkan tubuhmu. Not money, but you're body."


Hyung pun menerobos masuk ke dalam rumah Saras. Sontak Saras memundurkan langkah kakinya ke belakang dengan tubuh yang gemetar. Hyung pun segera menutup pintu dengan perasaan kesal.


Rupanya dia masih berani menolakku!


Hyung kesal. Ia meletakkan dua bag-nya ke lantai. Ia juga melepas jasnya lalu melemparkan ke lantai. Hyung melonggarkan dasinya di hadapan Saras. Ia bak singa jantan yang siap menerkam betinanya. Saras pun dibuat kalang kabut melihatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


Kau milikku malam ini, Saras.


Hyung pun berjalan mendekati Saras. Saras juga semakin memundurkan langkah kakinya ke belakang. Hingga akhirnya ia terdesak. Ia tidak lagi bisa bergerak. Hyung kemudian mengunci Saras agar tidak bisa lari. Saras pun terpojok di dinding rumahnya sendiri. Aura kejantanan Hyung terlihat jelas di matanya. Hyung seperti ingin melahap Saras bulat-bulat. Saras pun menelan ludahnya.

__ADS_1


__ADS_2