
“Ya.. Mas yang kemarin itu berwibawa dan dewasa. Ga kaya sekarang. Playboy..” celetukku
“Oh.. Begitu. Itukan kemarin, waktu kamu belum kenal aku. Klo sekarang, ya jelas beda. Kamu kan udah kenal aku. Gimana? Suka ga?” ucapnya sambil pasang pose narsis
“Ish.. Biasa aja tuh.” Sahutku
“Gimana? Mau pulang ga nih? Kok dari tadi ga naik-naik ke mobil?” ucap mas Rifan
Lalu akupun dengan sangat terpaksa masuk kedalam mobil.
“Kok diam saja.” Ucapnya di perjalanan
“Lha aku terus harus ngomng apa?” tanyaku
“Ya ngomong apa aja gitu. Jangan diam aja.” Ucap mas Rifan
“Males ah.” Ucapku
Ketika mas Rifan mendengar jawabanku, seketika mobil di pinggirkan dan berhenti
“Mas, kok berhenti disini? Katanya mau pulang?” ucapku sambil menengok ke arah mas Rifan
Namun tiba-tiba...
“Cup..”
Bibirku dicium oleh mas Rifan dengan lembut. Sontak membuat aku terkejut dan akupun memberontak. Namun berontakku itu ternyata gagal. Mas Rifan masih tetap mencium bibirku dengan lembut.
“Cilla, tolong.. Janganlah bertingkah seperti ini lagi. Kalo tidak, maka akal sehatku akan hilang seperti barusan.” Ucapnya ketika menghentikan ciumannya dan kemudian kembali menjalankan mobilnya
“Gila nich dosen satu. Kenapa malah dia yang sepertinya lebih marah dibandingkan aku?! Kan seharusnya aku yang marah sama dia. Aku yang lebih dirugikan dalam hal ini.” Gumamku dalam hati
__ADS_1
Ketika sampai di rumah, sikap mas Rifan kembali seperti biasa.
“Kalian sudah pulang ya?! Kalian udah makan belum?” tanya nenek
“Kami belum makan nek.” Sahut mas Rifan
“Benarkan yang?” tanyanya yang entah sejak kapan memanggilku seperti itu dan akupun hanya tersenyum
“Ya sudah, sekarang kalian mandi dan ganti baju dulu. Setelah itu makan.” Ucap Nenek
“Baik nek. Ayo sayang.” Ucap mas Rifan sambil menggandeng tanganku
Aku yang sedang malas menanggapi mas Rifan, hanya bisa mengikutinya dengan terpaksa
Di dalam kamar, aku masih diam saja. Sementara mas Rifan juga kembali menjadi dingin.
“Hadeuh, klo begini caranya kenapa aku ga terima aja tawaran si Reno tadi?! Daripada di sini.” Gumamku dalam hati sambil memukul kepalaku
“Kamu kenapa?” tanya mas Rifan yang memulai mengajak bicara duluan
Ketika aku selasai mandi, aku melihat mas Rifan sedang ketiduran di tempat tidur.
“Bangunin ga ya?” gumamku
“Kalo ga dibangunin, nanti nenek nanyain, trus aku jawab apa. Lagipula mas Rifan juga kan belum makan. Tapi... Klo di bangunin, takut dia pusing. Karena barusan tidur.” Gumamku lagi yang masih bingung
Beberapa saat setelah dipikir-pikir, akhirnya aku putuskan untuk membangunkannya.
“Mas, mas bangun mas. mas ga makan dulu?” ucapku hati-hati saat membangunkannya.
“Mas...!!” ucapku sambil membangunkannya
__ADS_1
Tapi setelah beberapa saat, mas Rifan pun tak kunjung bangun. Akhirnya kuputuskan untuk makan sendirian
Namun ketika aku mau pergi, tiba-tiba...
“Argh...” teriakku
Dia meraih tanganku dan menariknya. Spontan aku terjatuh di sisi samping dia tidur dan dipeluknya
“Mas, jangan begini. Aku mohon.” Ucapku
“Ga. Aku ga mau lepasin. Tolong.. Sebentar saja. Aku mohon.” Pinta mas Rifan
“Tapi mas, kita sudah ditunggu nenek.” Ucapku
“Ga. Aku mohon sebentar aja. 10 menit. Ya.. Kasih aku waktu 10 menit. Ya?!” pintanya
“Tapi mas?” ucapku
“Ga ada tapi-tapian. Pokoknya 10 menit. Titik, ga pake koma.” Ucapnya dan akupun tak bisa berbuat apa-apa, klo tidak dituritin bakalan bisa ngelakuin yang lebih dari ini.
“Haizz...” gumamku dalam hati
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like dan comment nya ya...🙏