
Setelah kejadian itu, Mas Rifan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara aku, aku kembali duduk di atas sofa dan memainkan hpku
Beberapa saat sudah berlalu, mas Rifan pun sepertinya sudah selesai mengerjakan pekerjaannya. Sekarang dia sudah bersiap-siap mau pulang. Tapi tiba-tiba...
“Fan, gawat Fan.” Ucap pak Rian panik
“Ada apa pak Rian?” tanyaku
“Cill, di luar pada ga terima klo kamu yang jadi asisten pribadinya Rifan.” Ucap pak Rian
“Ga terima gimana maksud kamu, Rian?” tanya Mas Rifan
“Hadeuh bos.. bos.. Itu lihat sendiri di jendela.” Ucap pak Rian masih panik
Mas rifan yang mendengar ucapan pak Rianpun akhirnya jadi penasaran dan melihat ke jendela
“Ini rupanya ulah Reno.” Ucap Mas Rifan tiba-tiba
“Jadi begitu ya mas. Ya uda klo begitu, besok aku keluar aja dari kantor ini. Supaya mereka puas mas.” Ucapku
“Tapi, Cill...” ucapan mas Rifan langsung aku potong
“Mas, tolong. Kali ini aja. Lagipula aku mau temani nenek di rumah.” Ucapku
“Oh begitu. Ya udah klo memang kamu maunya seperti itu. Tapi ada satu syarat.” Ucap mas Rifan
“Apa itu mas?” tanyaku
“Setiap makan siang, aku mau kamu bawain aku makanan. Gimana?” tanya mas Rifan
“Ok klo begitu.” Ucapku menyetujuinya
__ADS_1
“Bagus. Ya udah. Sekarang kita pulang.” Ajak mas Rifan sambil menggandeng tanganku
“Woi, trus ini gimana?” ucap pak Rian
“Besok pagi kita bahas. Aku sekarang mau honeymoon. Ok.” Ucap mas Rifan
“Hadeuh.. Repot deh klo kaya begini.” Gerutu pak Rian
Di luar, ternyata memang benar yang dikatakan pak Rian. Mereka semua ingin sekali klo aku kembali ke posisiku semula
“Begini ya semuanya, aku ga tahu kenapa kalian seperti ini. Tapi baiklah jika itu mau kalian, besok aku putuskan lagi.” Ucap mas Rifan
Setelah mengatakan hal itu, mas Rifan langsung pergi di ikuti olehku dan pak Rian
“Cilla, tunggu sebentar.” Panggil Reno
Akupun menghentikan langkahku
“Ren, maksud Cilla tadi apa?” tanya salah satu staff di sana dan Renopun hanya diam saja
Sementara aku yang sudah masuk dalam mobilpun hanya bisa cemberut
“Kamu kenapa, Cill?” tanya mas Rifan
“Mas, kapan diadakan pestanya?” tanyaku tiba-tiba
“Kamu serius, Cill?” tanya mas Rifan
“Serius mas.” Sahutku mantab
“Ya udah, nanti kita bicarakan dengan nenek dulu ya.” Ucap mas Rifan
__ADS_1
Sesampainya di rumah, aku dan mas Rifan disambut oleh senyuman hangat nenek
“Kalian sudah pulang sayang?!” ucap nenek
“Iya nek.” Sahutku sambil memeluk tangan nenek
“Cill, tadi nenek buat kue loh. Coba kamu cicipi ya. Enak atau tidak.” Ucap nenek
“Benarkah nek? Mana? Sini aku cicipi.” Ucapku dan nenekpun langsung membawaku ke ruang keluarga.
“Ini sayang. Coba kamu cicipi.” Ucap nenek
“Hmm.. Enak nek. Enak banget.” Ucapku sambil mengunyah kue di mulutku
“Aku boleh minta juga ga nek?” ucap mas Rifan yang baru saja masuk
“Ya tentu saja boleh. Ini kamu makan.” Ucap nenek dan mas Rifan pun langsung makan kue yang ada ditanganku
“Hmm.. Enak nek. Enak banget.” Ucap mas Rifan
“Enak sih enak, tapi kenapa juga makannya dari kue yang ditanganku sih?! Kan bisa ambil langsung disana.” Protesku
“Ga ah. Aku maunya yang itu.” Ucap mas Rifan manja
“Huh..” ucapku sewot
“Sudah.. Sudah.. Jangan bertengkar lagi. Ya udah sana. Kalian ganti pakaian lalu makan. Nenek udah lapar nih.” Ucap nenek
“Iya iya nek. Kita ganti baju dulu ya.” Ucap mas Rifan sambil merangkul pundakku
“Mas, jangan begini. Berat tahu.” Protesku dan nenekpun tertawa
__ADS_1
Lanjut👇