Dibalik Sandiwara Ada Cinta

Dibalik Sandiwara Ada Cinta
dicampakan


__ADS_3

“Apa mas syaratnya?” tanyaku


“Syaratnya adalah, Dia harus mengenal siapa kamu yang sebenarnya dan mau terima kondisi kamu yang sebenarnya. Dan dia juga harus menunjukkan bahwa dia jauh lebih baik dan juga pantas untuk kamu dibandingkan aku.” Jelasku


“Bagaimana?” tanya mas Rifan


“Apa tidak ada cara lain selain bersandiwara untuk menjadi istri mas. Itu karena aku berfikir tidak etis untukku. Aku seperti menjual diriku.” Ucapku


“Ya udah. Kamu pikirkan dulu bagaimana cara kamu untuk membayarnya ke aku. Tapi untuk saat ini aku akan tetap membayarkan semua hutang-hutangmu ini dulu.” Ucap mas Rifan


Akupun terdiam mendengar ucapan mas Rifan


“Hai kalian, bagaimana? Mau bayar atau tidak?” tanya ibu itu


“Iya. Kami akan membayarnya. Tapi kami ga bisa Cash. Kami bisanya transfer.” Ucap mas Rifan


“Ya udah ga apa.” Sahut ibu itu


“Ya udah bu. Ini nomer hp saya. Nanti ibu kirim aja nomer rekening ibu dan juga jumlah nominal yang menjadi hutangnya.” Ucap mas Rifan


“Total semua hutangnya plus bunganya?!” tanya ibu itu memastikan


“Iya, semuanya. Dan juga plus bunganya.” Sahut mas Rifan


“Oh baiklah klo begitu.” Ucap ibu itu dan kemudian pergi meninggalkan kami


Setelah ibu itu pergi, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi mas Rifan.


“Kamu kenapa Cilla?” tanya Cilla

__ADS_1


“Aku ga apa-apa mas.” Sahutku sambil menunduk


“Kamu masih kepikiran dengan omonganku tadi?” tanya mas Rifan


“Iya mas. Aku hanya ga habis fikir kenapa mas semudah itu membantuku membayarkan semua hutangku. Padahal kita baru saja kenal. Apa mas tidak takut klo aku kabur dan ga bayar?” ucapku


“Ga. Aku ga takut. Karena aku yakin klo kamu bukanlah orang yang seperti itu.” Sahutnya


“Kenapa mas begitu yakin?!” tanyaku


“Karena hatiku yang bisa merasakannya.” Sahutnya lagi


“Oh begitu. Tapi klo suara hati mas salah bagaimana?” tanyaku lagi


“Ya udah ga apa-apa. Aku ga keberatan kok. Karena aku ikhlas.” Sahutnya ringan


“Mas...” ucapku


“Kasih aku waktu untuk memikirkannya ya.” Ucapku


“Memikirkan masalah apa?” tanyanya


“Masalah bagaimana cara membayarnya.” Ucapku


“Oh.. Masalah itu. Ya udah. Santai aja. Ga usah buru-buru.” Sahutnya ringan


***********************************


Tiga hari setelah kejadian itu, aku bertemu dengan pacarku di perjalanan. Dia sedang bersama dengan perempuan lain. Tapi aku tidak mau berfikiran buruk dulu tentang dia.

__ADS_1


“Don, kamu kemana aja. Aku telponin kok ga diangkat. Kamu tau ga klo ibuku sudah meninggal?” tanyaku


“Aku ga kemana-mana. Aku sudah tahu kok klo ibumu sudah ga ada dan aku juga memang malas ngangkat telpon dari kamu.” Sahutnya


“Kok kamu begitu sih? Trus perempuan ini siapa?” tanyaku


“Oh iya, aku lupa kenalin. Ini Nita, pacarku.” Ucapnya


“Apa? Ini pacar kamu? Trus aku?” ucapku


“Oh.. Kamu itu masa lalu. Aku ga mau sama cewe’ miskin dan banyak hutang kaya kamu. Masih mending dia. Dia kaya dan juga ga punya hutang.” Sahutnya


“Apa kamu bilang? Kamu tega ya?!” ucapku


“Ayo sayang, kita pergi. Ga usah hiraukan perempuan miskin ini.” Ucap Doni yang pergi meninggalkanku yang sedang termenung


“Tega kamu Don.” Gumamku sambil berjalan menuju kantor


Setelah kejadian itu, rasanya aku sudah tidak ada semangat kuliah lagi. Aku akhirnya memutuskan pulang saja dqn memikirkan bagaimana caranya membayar hutang kepada mas Rifan.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan comen nya ya...🙏


__ADS_2