Dibalik Sandiwara Ada Cinta

Dibalik Sandiwara Ada Cinta
Galau


__ADS_3

“Hai denger ya dosen narsis. Pertama, aku ga sudi ngurusi urusan pribadimu. Aku ga tertarik. Dan ke dua, aku ga ngerti cowo’ yang mas maksud itu siapa.” Celetukku dengan suara ga kalah tingginya


“Oh jadi kamu ga mau ngurusin urusan pribadiku dan kamu lebih seneng ya jalan sama cowok lain. Gitu?!” ucap mas Rifan yang masih emosi


“Tunggu.. Tunggu... Kita klarifikasi. Pertama, dari tadi mas tuh nyebut cowo, cowo, cowok yang mana sih? Trus yang kedua, bukannya mas sendiri yang ga suka klo aku ngurusin urusanmu?” ucapku


“Itu... Ok, aku jawab. Pertama, cowok yang aku maksud itu cowok yang udah nungguin kamu didepan kantor waktu itu.” Jawab mas Rifan


“Oh yang waktu itu. Itu mah namanya Reno. Dia satu divisi sama aku. Dia memang selalu baik dan dekat sama aku. Klo dia sih udah aku anggap seperti sahabat sendiri.” Jelasku


“Benarkah?! Tapi kok yang terlihat itu ga seperti itu ya?! Dia itu seperti ada rasa sama kamu.” Ucap mas Rifan


“Oh tunggu.. tunggu... Sekarang aku mengerti tanpa mas jawab pertanyaan yang kedua. Mas cemburu ya?” ucapku


“Ga. Siapa yang cemburu?” ucap mas Rifan berdalih


“Halah mas, ga usah gengsi deh. Mas cemburu ya?!” godaku dan mas Rifan ga menjawabnya


“Ya sudahlah mas. Ayo kita pulang. Nenek sudah nunggu kita.” Ucapku tapi mas Rifan masih saja diam


“Mas?!” ucapku mencoba menyadarkannya


Setelah beberapa saat kemudian, mas Rifan pun tersadar dan akhirnya menjalankan mobilnya kembali.


Di perjalanan, kami hanya diam saja. Tanpa ada satu orangpun yang memulai pembicaraan.


Ketika kami sudah sampai di rumah nenek, mas Rifan pun masuk duluan dan ninggalin aku sendirian di luar.

__ADS_1


“Kenapa lagi ni dosen satu?! Setelah nikah kok malah jadi uring-uringan kaya gini?!” gumamku dalam hati


“Cill, si Rifan kenapa itu?” tanya nenek saat aku sudah masuk ke dalam rumah


“Aku sendiri ga tahu nek. Bingung.” Sahutku yang memang heran dengan tingkah mas Rifan


“Ya sudah sana. Mandi dan ganti baju. Biar cape’nya hilang. Setelah itu kita makan bareng. Ok.” Ucap nenek


“Iya nek. Klo begitu aku ke kamar dulu ya.” ucapku


Sementara di dalam kamar, mas Rifan langsung menghadap ke cermin


“Fan, kamu itu kenapa sih? Kenapa kamu kaya begini? Jangan-jangan kamu beneran cemburu sama Cilla. Klo kamu memang cemburu, kenapa kamu jujur aja sih. Tapi, klo jujur, cilla mau terima aku ga ya?! Takutnya dia jadi terpaksa nerima keadaan ini. Itu kan kasihan di dianya.” Gumam mas Rifan pada dirinya sendiri di depan cermin.


“Haizz... Pusiing.” Gumamnya lagi sambil mengacak-ngacak rambut


“Mas, mas ngapain?” tanyaku terkejut melihat dia seperti itu


“Ga.. Ga kenapa-kenapa.” Ucap mas Rifan


“Mas, cerita donk, ada apa? Kenapa mas sampai kusut kaya’ begini?” tanyaku


“Ga ada apa-apa Cill.” Sahutnya singkat


“Ya sudahlah klo ga mau jujur. Aku ga maksa.” Ucapku


Setelah mengatakan itu, aku langsung mandi dan mengganti pakaianku

__ADS_1


“Mas, mas ga mandi?” tanyaku setelah aku selesai mandi


“Iya, sebentar lagi.” Sahutnya


“Oh ya udah. Klo gitu aku keluar dulu ya.” Ucapku


“Hmm...” sahutnya


Setelah aku keluar, lagi lagi mas Rifan bergumam..


“Klo seperti ini caranya, ga bisa dibiarkan. Aku harus cari cara agar semuanya jelas.” Gumam mas Rifan yang kemudian langsung pergi mandi dan menyusulku keluar.


Saat di luar, mas Rifan sedang melihatku dan nenek yang sedang bersendagurau.


“Sungguh indah pemandangan ini.” Ucap mas Rifan lirih


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment nya ya...🙏


__ADS_2