Dibalik Sandiwara Ada Cinta

Dibalik Sandiwara Ada Cinta
diperjelas & pesta (END)


__ADS_3

“Kenapa? Kalian kaget mendengarnya?” ucapku


“Bagaimana bisa, Cill?” tanya Putri yang tidak percaya


“Tentu saja bisa. Karena sejak awal saya di sini, Cilla sudah menjadi istri saya. Pernikahan kamipun sudah di ketahui oleh seluruh kolega kami.” Jelas mas Rifan


“Hanya saja, kami masih belum sempat memberitahukan masalah ini pada kalian. Karena Cilla yang melarang. Cilla tahu, ada beberapa dari kalian yang menyukaiku. Jadi dia putuskan untuk tidak bermusuhan dengan kalian karena statusnya.” Jelas mas Rifan lagi


“Jadi, bapak menginginkan Cilla menjadi asisten bapak itu karena alasan hubungan pribadi kalian?” tanya Reno mulai memprovokasi


“Iya. Tapi kalian tahu tidak alasannya apa?” tanya mas Rifan dan merekapun menggeleng tidak tahu


“Baiklah. Saya akan menjelaskannya. Begini, sebenarnya pada awalnya saya tidak ada niatan untuk mencari asisten. Hanya saja, saya melihat kalau Cilla merasa kurang nyaman dengan seseorang, jadi saya putuskan untuk membiarkannya bekerja satu ruangan dengan saya.” Jelas mas Rifan


“Merasa kurang nyaman? Memang Cila kurang nyaman dengan siapa?” tanya Putri


“Hmm... Sudahlah tidak usah di bahas. Bukankah sekarang aku juga sudah tidak bekerja sebagai asisten lagi?! Terlebih lagi sekarang aku juga sudah tidak bekerja di sini lagi. Ini kan yang kalian inginkan?! Bukan begitu, Reno?! Selamat.. Kamu sudah berhasil membuat aku keluar.” Ucapku ketus


“Reno??” sontak mereka terkejut


“Tu.. Tu.. Tunggu sebentar. Maksudnya dengan Reno itu apa ya?” tanya Putri lagi


“Benar. Reno lah yang selama ini tidak pernah menyukaiku dekat dengan cowo manapun. Reno jugalah yang menyebabkanku tidak nyaman di ruangan kerja dan karena Seno lah, kalian sepertinya salah paham denganku yang beranggapan bahwa aku ada hubungan dengan dia, padahal tidak sama sekali.” Jelasku


“Oh jadi begitu rupanya.” Sahut salah satu karyawan


“Kalau begitu, kami semua minta maaf karena sudah beranggapan yang tidak-tidak sama kamu.” Ucap karyawan yang lainnya


“Baiklah. Tidak apa-apa. Tapi yang penting kalian sudah tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi.” Ucapku


“Sen, lebih baik kamu ikhlaskan Cilla. Biarkan dia bahagia.” Ucap Putri


“Ga. Aku selamanya tidak pernah ikhlas. Kenapa juga Cilla harus menerima pak Rifan. Padahal, dibanding pak Rifan, akulah yang dari awal terlebih dahulu menyukai dia.” Ucap Seno tidak terima


“Apa karena pak Rifan jauh lebih kaya jadi Cilla lebih memilhnya dibandingkan aku.” Ucap Reno lagi


‘Plak..’ seketika tanganku mendarat di pipinya Seno


“Reno, ternyata seperti itu isi pikiranmu tentang aku selama ini? Aku benar-benar tidak habis fikir denganmu, Reno.” Ucapku emosi


“Cill, bukan begitu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Bukan begitu maksudku.” Ucap Reno mencoba menjelaskan


“Lalu maksud kamu apa?” tanyaku kesal


“Cill, aku tuh cemburu. Aku.. Aku.. Aku bingung dan aku kesal karena tidak bisa mendapatkanmu.” Ucap Reno yang berusaha untuk membuat aku mengerti


“Sudahlah, Ren. Asal kamu tahu dan kalian semua tahu. Walaupun aku tidak bertemu dan tidak menjadi istri pak Rifan, aku tetap tidak akan pernah menerima kamu, Reno. Karena biar bagaimanapun, aku hanya menganggap kamu itu seperti saudaraku sendiri. Apa kamu jelas itu?!” jelasku dengan tegas


“Jadi, ini ga ada hubungannya dengan aku lebih memilih siapa dan karena apa.” Tambahku

__ADS_1


Seno yang mendengarkan ucapanku pun hanya bisa diam dan menunduk


“Sudahlah. Sekarang, sesuai keinginan kamu kan untuk aku tidak bekerja di sini lagi. Jadi, ini terakhir yang bisa aku lakukan untuk keingananmu itu.” Ucapku


“Ya sudah.. Ya sudah... Tidak usah serius seperti ini lagi. Kalian sekarang sudah boleh pulang dan masalah memperbaiki laporannya, bisa di lanjutkan esok hari.” Ucap mas Rifan


“Asyik.. Terimakasih, pak.” Ucap mereka bersamaan


“Tapi sebelum kalian pulang, ada satu hal yang ingin saya beritahukan pada kalian.” Ucap mas Rifan


“Apa itu, pak?” tanya salah satu karyawan


“Akhir pekan ini, saya berencana akan mengadakan pesta kecil-kecilan di kantor ini. Saya harap kalian semua tidak keberatan untuk datang.” Ucap mas Rifan


“Tidak kok pak. Tidak keberatan. Kami pasti datang.” Ucap salah satu karyawan


“Hmm.. Baiklah kalau begitu. Terimakasih.” Ucap mas Rifan dan semuanya pun tersenyum


“Ya sudah. Kalian sudah boleh pulang.” Ucap mas Rifan


***


Beberapa hari setelah kejadian itu, aku semakin lama semakin bisa merasakan ketulusan cinta mas Rifan dan entah mengapa juga, aku selalu bahagia jika sedang ada di sisinya


Kini tibalah hari dimana pesta akan di laksanakan. Tapi entah mengapa, aku seperti tidak enak badan.


“Kenapa, Cill?” tanya mas Rifan


“Rasanya badaku tidak enak. Mual.” Ucapku dan ternyata ini di dengar oleh nenek.


“Cill, kamu mual?” tanya nenek


“Iya, nek.” Sahutku


“Hmm... Begini aja. Klo kamu merasa tidak enak badan, lebih baik kamu periksa dulu ke Dokter. Setelah itu kamu hadiri pasta di kantornya Rifan sebentar saja. Bagaimana?” ucap Nenek


“Baiklah, nek.” Sahutku


Setelah mendapatkan saran dari nenek, akhirnya aku dan Mas Rifan pun pergi ke Dokter untuk periksa


“Selamat ya untuk kalian.” Ucap Dokter itu kepada kami


“Selamat untuk apa ya, Dok?” tanya mas Rifan


“Selamat karena kalian berdua akan segera menjadi seorang ayah dan juga ibu.” Ucap Dokter itu


“Jadi, maksud Dokter, saya hamil?” tanyaku tidak percaya dan Dokterpun mengangguk sambil tersenyum


“Mas, aku hamil mas.” Ucapku senang ke mas Rifan

__ADS_1


“Iya sayang. Aku tahu.” Sahut mas Rifan


“Usia kandungannya berapa, Dok?” tanya mas Rifan


“Usia kandungannya masih menginjak 3 minggu. Masih sangat rawan jadi saya sarankan kepada kalian agar bisa menjaganya.” Pesan Dokter


“Iya, Dok. Terimakasih.” Sahut mas Rifan


“Dan ini obat yang harus di minum.” Ucap Dokter itu


“Iya, Dok.” Ucap mas Rifan sementara aku jangan di tanya. Aku hanya senyum-senyum sambil mengelus-elus perutku sendiri


Setelah selesai periksa, kami pun langsung datang ke acara pesta


“Maaf terlambat. Kalian sudah lama datangnya?” tanya mas Rifan


“Tidak kok, pak.” Sahut Putri


“Begini, tujuan saya mengadakan pesta hari ini itu karena saya ingin memberitahukan 2 hal pada kalian. Pertama, saya ingin memberitahukan kalau saya sudah menikahi Cilla dan yang kedua, kami sebentar lagi akan memiliki anak.” Ucap mas Rifan


“Wow.. Selamat ya, pak.” Ucap semua yang ada disana


“Terimakasih. Nah untuk itu, aku juga ingin semua yang ada di sini ikut merasakan kebahagiaan kami. Oleh karena itu, untuk gaji bulan ini dan seterusnya, akan saya naikkan sebesar 10%. Bagaimana?” ucap mas Rifan


“Wow pak, terimakasih banyak.” Ucap semua karyawan


“Ya sudah. Kalian teruskan pestanya. Saya harus segera pulang karena Cilla sedang mabok.” Ucap mas Rifan yang mana pada saat itu aku hanya diam saja.


“Oh pantas saja dari tadi diam. Ya sudah pak. Tidak apa-apa. Bapak dan Cilla pulang saja duluan. Biar nanti kami yang akan bereskan semuanya. Ya kan teman-teman?!” ucap Putri dan di ikuti anggukan semua karyawan yang hadir


“Terimakasih. Kalau begitu, kami pamit dulu.” Ucap mas Rifan sambil menggandeng tanganku dan kemudian pergi


***


Di perjalanan..


“Mas, terimakasih.” Ucapku sambil duduk bersandar dipundaknya


“Iya, sayang.” Sahut mas Rifan sambil merangkulku


*********************** END *******************


Author:


Maaf sebelumnya jika jalan cerita di Novel ini kurang menarik. Author akan selalu menerima kritik dan sarannya. Dan Author akan berusaha memperbaikinya lagi.


Author juga ucapkan terimakasih banyak karena para Reader sudah sudi untuk membaca novel author ini


Sekali lagi author minta maaf dan Terimakasih..😊

__ADS_1


__ADS_2