
Alhasil... Mas Rifan tidak memberiku tugas satupun dan pak Rianpun masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi
“Fan, kamu bisa jelasin ini semua ga ke aku?” tanya pak Rian
“Jelasin apa?” ucap mas Rifan
“Jelasin yang tadi Cilla bilang klo kamu suami dia.” Ucap pak Rian
“Oh itu, dia emang istriku.” Sahut mas Rifan datar
“Mas...!!” ucapku disela-sela obrolan antara mas Rifan dan juga pak Rian
“Apa?” tanyanya dengan suara lembut
“Aku mau balik lagi deh ke posisiku yang sebelumnya. Di sini aku bosan. Semua kerjaanku langsung mas yang kerjakan.” Ucapku
“Klo kamu balik ke luar, apa kamu ga takut di posesifin sama Reno lagi?!” ucap mas Rifan
“Iya sih mas, tapi sumpah deh. Aku di sini tuh bosan banget. Klo gitu aku besok berhenti kerja aja deh.” Ucapku kesal
Mas Rifan dan pak Rianpun hanya saling pandang satu sama lain. Tidak paham dengan jalan pikiranku. Tapi mau gimana lagi. Aku ga suka duduk manis ada di sini.
“Cill, kamu serius mau ga kerja lagi?” tanya mas Rifan
“Ya.. Ga juga sih mas. Tapi.. Tapi aku bosan mas ada disini klo ga ngerjain apa-apa.” Ucapku ragu
“Ya udah, begini aja. Kamu tetap disini kalau begitu dan tetap kerjakan pekerjaanmu yang aku berikan. Gimana?” ucap mas Rifan
“Ok. Tapi.. Mana pekerjaannya sekarang?” tanyaku
“Klo sekarang sih masih belum ada. Tapi mungkin besok udah ada.” Ucap pak Rifan
__ADS_1
“Kok bisa begitu?! Apa bedanya sekarang dengan besok.” Tanyaku bingung
“Ya bedalah. Ya udah sana. Kamu duduk manis aja disana. Aku selesaikan pekerjaanku dulu. Setelah itu kita pulang.” Ucapa mas Rifan
“Hei..hei enak banget sih jadi bos. Datang dan pergi seenaknya sendiri. Woi..!!” protes pak Rian
Aku dan mas Rifanpun tidak memperdulikan ucapan pak Rian. Kami langsung pada dunia kami masing-masing.
Mas Rifan langsung mengerjakan pekerjaannya, sementara aku hanya duduk manis membaca majalah yang ada di atas meja.
Merasa dirinya tidak dihiraukan, akhirnya pak Rian pun pergi. Namun belum juga dia keluar, mas Rifan sudah memanggilnya lagi.
“Pak Rian, mau kemana?” tanya mas Rifan yang membuat langkah pak Rian terhenti
“Balik ke ruanganku. Emang kenapa?” tanya pak Rian
“Jangan balik dulu. Aku mau minta tolong sesuatu nih.” Ucap mas Rifan
“Tolong kamu lihat ini sebentar.” Ucap mas Rifan
Pak Rianpun akhirnya berbalik badan dan melangkahkan kaki mendekati mas Rifan
“Mana?” tanya pak Rian
“Ini. Coba di lihat dulu.” Ucap mas Rifan menunjukkan sesuatu di layar komputernya
“Gimana menurutmu?” tanya mas Rifan setelah beberapa saat pak Rian melihatnya
“Hmm.. Gimana ya? Aku sih terserah kamu ajalah. Kan kamu Direkturnya.” Ucap pak Rian
“Ya sudah klo begitu seperti ini saja. Kita umumkan besok. Ok?!” ucap mas Rifan
__ADS_1
“Terserah apa kata Direktur aja deh.” Ucap Pak Rian yang kemudian pergi dari ruangan mas Rifan
Aku yang melihat dari tadipun jadi penasaran dengan apa yang dilihat pak Rian di komputernya mas Rifan. Lalu akupun memutuskan untuk beranjak dari tempat dudukku dan pergi mendekati mas Rifan yang sedang asik mengetik
Saat aku sedang melangkahkan kaki hendak mendekati mas Rifan, tiba-tiba pintu ruangan mas Rifan diketuk dan akhirnya akupun membukakan pintu
“Reno?!” ucapku terkejut
“Siapa, Cill?” tanya mas Rifan dari dalam
“Oh ini pak, Reno sepertinya sedang mencari bapak.” Sahutku
“Bukan begitu, Ren?!” tanyaku yang memastikan apakah tebakanku benar atau tidak
“Iya. Aku ingin bertemu dengan Direktur. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.” Ucap Reno
“Cilla, biarkan Reno masuk.” Ucap mas Rifan yang ternyata mendengar ucapan Reno
Setelah mendapat persetujuan dari mas, Rifan, akhirnya akupun membolehkan Reno masuk
“Ada apa, Ren?” tanya mas Rifan ketika Reno sudah mendekat
“Begini boss, ini masalah Cilla.” Sahut Reno
“Cilla?! Memang ada apa dengan Cilla?” tanya Mas Rifan sambil melihat kearahku
“Tolong balikin Cilla ke posisinya yang awal.” Ucap Reno
“Hmm.. Masalah itu...”
Lanjut..👇
__ADS_1