Dibalik Sandiwara Ada Cinta

Dibalik Sandiwara Ada Cinta
bukan sandiwara lagi


__ADS_3

“Cill, kamu jelas tidak dengan apa yang aku katakan ini?” tanya mas Rifan dan akupun masih diam membatu


“Cill, kamu kenapa diam saja?” tanya mas Rifan


“Mas, ini terlalu cepat untukku. Bisakah mas kasih aku waktu untuk menata hatiku. Karena jujur, satu bulan yang lalu, saat ibuku tiada, pacarku mengkhianatiku. Aku masih takut mas untuk memulai hubungan yang baru. Apa mas bisa mengerti dengan keadaanku?” ucapku


“Cill, cintaku tulus. Aku tidak memaksamu untuk cepat-cepat mencintaiku. Tapi kita sudah menjadi suami istri yang sebenarnya. Dan bukan sandiwara lagi. Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun. Aku terlalu mencintaimu. Aku akan berusaha agar kamu merasakan ketulusan cintaku ini. Ok?!” jelas mas Rifan


“Tapi mas..” ucapanku terpotong


“Ststtst.. Jangan khawatir. Aku tetap milikmu kapanpun kamu mau. Aku tidak akan berpaling pada perempuan demi cintaku dan juga demi ikatan pernikahan kita.” Ucapnya


“Lebih baik kita segera turun. Jika tidak, kita akan telat.” Ucap mas Rifan


Namun ketika aku hendak membuka pintu...


“Cilla.. Tunggu dulu.” Ucap mas Rifan


“Ada apa mas?” tanyaku


Dan tiba-tiba...


“Cup..” keningku dikecupnya


“Ya udah sana turun. Sampai ketemu lagi ya, di kelas.” Ucap mas Rifan dan akupun mengangguk

__ADS_1


“Rasanya seperti mimpi. Awalnya tidak sengaja bertemu. Ternyata sekarang malah jadi suami sendiri. Kehidupan memang tidak ada yang tahu.” Pikirku sambil buru-buru masuk ke kelas


Tapi ketika aku masuk ke dalam kelas, aku mendengar sebuah gosip yang meyatakan bahwa ada yang hendak menyatakan cintanya ke mas Rifan


“Wow... Ternyata suamiku bakalan ditembak cewe lain. Ok?! Kita sekarang lihat, bagaimana dia akan menjawabnya.” Ucapku pada diriku sendiri


Tak berapa lama kemudian, mas Rifan pun masuk.


“Malam semuanya...” sapanya karena memang saat ini dia sedang mengajar kelas karyawan seperti aku


“Malam juga pak.” Sahut semua yang ada dalam ruangan itu


“Baiklah, sekarang kita mulai pelajarannya.” Ucapnya


“Pak tunggu dulu.” Ucap salah satu mahasiswa


“Pak, katanya sekarang si Sari mau mengatakan sesuatu ke bapak.” Ucap mahasiswa itu


“Iya, mau menyampaikan apa ya?!” tanya mas Rifan


“Hmm.. Anu... Begini pak. Bapak saya suka sama bapak. Bapak mau tidak jadi pacar saya?!” ungkapnya


“Cuit.. Cuit..” seketika kelas menjadi gaduh


“Tenang... Tolong semuanya harap tenang.” Ucap mas Rifan sementara aku terus menatapnya tajam dan dia pun melihatnya

__ADS_1


“Begini Sari. Sebelumnya, saya berterimakasih atas kejujuran kamu. Tapi saya juga minta maaf karena saya sudah punya orang yang saya cintai. Jadi, maaf sekali lagi karena saya ga bisa terima perasaan kamu ini.” Ucap mas Rifan dan aku masih menatap mas Rifan tajam


“Oh begitu ya?! Jadi saya udah keduluan rupanya?!” ucap Sari


“Maaf. Kamu ga apa-apa kan?!” tanya mas Rifan


“Klo boleh saya tahu, siapa perempuan beruntung itu?” tanya Sari


“Belum saatnya untuk semua tahu siapa perempuan itu. Tapi yang pasti, saya sangat mencintai dia.” Ucap mas Rifan


“Hadeuh... Kaya’nya klo mereka tau siapa yang mas Rifan maksud, mungkin mereka akan membenciku.” Gumamku dalam hati sambil tepok jidat. Dan ini terlihat oleh mas Rifan


“Apakah masih ada yang mau ditanyakan lagi?!” ucap mas Rifan dan semuanya diam


“Baiklah.. Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, maka kelas kita mulai.” Ucap mas Rifan dan dia pun meneruskan mengajarnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan comentnya ya...🙏


__ADS_2