
Setelah aku sampai di depan kantor mas Rifan, akupun mengetuk pintu ruangan kantornya
“Ya masuk..!!” perintah mas Rifan
Setelah mendapat jawaban dari yang punya ruangan, akupun masuk.
“Permisi pak, bapak tadi menyuruh saya datang keruangan bapak, ada apa ya pak?” tanyaku
“Coba kamu tutup dulu pintunya.” Perintah mas Rifan yang membelakangiku
“Sudah pak.” Sahutku
“Kamu tau kenapa kamu dipanggil kesini?” tanya mas Rifan masih menyembunyikan wajahnya
“Ga tahu pak? Emang ada apa ya pak?” tanyaku santai
“Coba kamu jelasin kenapa kamu tadi bicara seperti itu?!” ucap mas Rifan
“Bicara seperti itu? Maksud bapak ini omongan saya yang mana ya?!” ucapku belagak oneng
“Yang tadi, yang kamu bilang klo saya ini narsis. Itu maksud kamu apa ya?” ucap mas Rifan
“Oh omongan saya yang itu? Bapak marah ya? Klo bapak marah, berarti bapak memang narsis donk?!” ucapku
“Kamu...!! Ga, saya ga marah. Tapi saya Cuma pingin tahu aja alasan kamu itu nyeletuk kaya begitu.” Selidik mas Rifan yang masih saja menyembunyikan wajahnya dariku
__ADS_1
“O.. Alasan ya?! Gini. Jujur, sikap bapak tadi tuh ngingetin saya sama dosen saya yang narsis habis. Mentang-mentang cakep dan banyak yang suka, sehingga menilai semua perempuan itu pasti suka padanya.” Jelasku
“Oh begitu. Kamu emang ga suka sama dosen kamu itu?” tanya mas Rifan
“Aku bukan ga suka sama orangnya tapi aku ga suka sama karakternya dan kebiasaan narsisnya itu.” Jelasku
“Oh begitu. Trus emang kamu lebih suka klo dosen kamu itu seperti apa?” selidik mas Rifan
“Aku suka dengan dia pada saat awal bertemu. Dia dewasa, perhatian, berwibawa. Tapi ternyata itu semua palsu.” Jelasku lirih
“Klo Dosen kamu itu berubah kembali seperti awal kalian bertemu, apakah kamu akan menyukainya?” tanya mas Rifan penasaran
“Ga. Aku ga suka dia. Masalahnya hatinya itu terpecah. Ga cukup satu perempuan aja. Dia lebih senang mengumbar kemesraan bersama perempuan lain.” Jelasku
“Ga. Aku ga cemburu. Karena aku bukan siapa-siapa bagi dia. Aku ga ada hak cemburu.” Jelasku lagi
“Sudahlah pak. Kenapa jadi bahas ini sih? Sebenarnya bapak itu menyuruh saya untuk datang ke ruangan bapak, hanya untuk introgasi masalah ini?” tanyaku
“Ya ga juga sih. Saya menyuruh kamu untuk datang ke sini itu untuk memberikan hukuman buat kamu karena udah asal bicara.” Ucap mas Rifan yang masih betah menyembunyikan wajahnya
“Hukuman ya hukuman. Kenapa bertele-tele seperti ini sih. Ya udah, hukumannya apa? Di skors, di pecat, atau di kasih setumpuk kerjaan?” ucapku yanga menantang mas Rifan
“Duh ni perempuan satu. Ternyata ini sifat asli kamu?!” Gumam Mas Rifan dalam hati
“Baiklah klo kamu emang ingin tahu apa hukuman kamu. Kamu, mulai hari ini, harus selalu siap kapanpun aku suruh dan....” Ucap mas Rifan terpotong sambil membalikkan badan
__ADS_1
“Apa? Mas Rifan?” ucapku terkejut
“Waduh... Berarti yang tadi aku bilang itu, ternyata dia tahu semuanya. Hadeuh... Malu banget nih. Ini mah sama aja ngungkapin isi hati tanpa sengaja.” Gumamku dalam hati dengan wajah yang mungkin memerah
“Kenapa? Kamu terkejut?” ucap mas Rifan
“Ga. Aku sama sekali ga terkejut.” Dalihku
“Jadi tadi dan apa??” tanyaku menantang
“Hohoho... Jadi kamu mau tau lanjutan hukuman kamu ya?” ucap mas Rifan lirih sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuhku sehingga aku menempel pada dinding.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan Comment nya...🙏
__ADS_1