
Ke esokan harinya, mas Rifan menawariku untuk diantarkan ke kantor
“Apa tidak merepotkan mas?” tanyaku
“Ga apa-apa. Bukankah ini tugas seorang suami kepada istrinya?! Benarkan nek?” ucap mas Rifan
“Iya sayang. Mas mu itu benar. Ga ada istilahnya merepotkan jika itu demi istri sendiri.” Ucap nenek membenarkan ucapan mas Rifan
“Ya baiklah klo begitu. Aku akan bersedia diantar oleh mas Rifan.” Sahutku
“Nah begitu donk.” Ucap nenek sambil tersenyum
“O ya fan, Nenek sudah atur semua posisi yang kamu minta. Kamu udah bisa bekerja sekarang di kantor. Tanpa mengganggu jam ngajarmu di kampus.” Ucap nenek
“Makasih nenek.” Sahut mas Rifan
“O.. Emang mas Rifan mau kerja juga di kantor?” tanyaku
“Iya nih. Untuk menyambung hidup.” Sahut mas Rifan
“Menyambung hidup?! Bukannya itu omonganku waktu itu?!” tanyaku
“Iya. Memang benar ini omongan mu waktu pertama kali ketemu. Tapi tujuannya berbeda.” Ucap mas Rifan
“Maksudnya berbeda?” tanyaku bingung
“Nanti kamu juga akan tahu sendiri.” Ucapnya
“Trus klo mas antar aku ke kantor, lha mas ga telat apa ke nanti ke kantornya mas sendiri?!” Ucapku
__ADS_1
Mas Rifan tidak menjawab namun hanya tersenyum. Begitu juga nenek. Sementara aku jadi tambah bingung dengan sikap mereka
“Sudah.. Sudah.. Jangan ngobrol lagi. Cepat sarapan. Terus kalian berangkat.” Ucapn nenek dan kamipun langsung meneruskan makan kami
Setelah selesai makan, kamipun berangkat ke kantor. Seperti biasa, ternyata di depan kantor, Reno sudah menunggumu.
“Tuh, pacarmu sudah setia nungguin kamu.” Celetuk mas Rifan
“Mas, dia itu bukan pacarku. Dia itu sahabatku.” Sahutku
“Itu kan kamunya. Lha dianya kan belum tentu. Percaya deh. Lihat aja. Dalam waktu dekat mungkin dia bakalan bilang tentang perasaannya ke kamu. Kamu harus udah tahu jawabannya.” Tebak mas Rifan yang tau banget secara dia kan playboy
“Ah mas ini bisa aja.” Ucapku
“Ye dibilangin kok ga percaya. Ya udahlah.” Ucap mas Rifan
“Ah mas ini ada-ada aja. Ya udah aku turun dulu ya. Takut telat.” Ucapku
“Iya mas.” Sahutku singkat sambil turun dari mobil.
Setelah turun dari mobil, akupun langsung melangkah ke pintu masuk kantor dimana si Reno sudah menungguku
“Itu siapa Cill yang mengantarmu?” tanya Reno
“Temanku yang waktu itu. Dia lagi-lagi kebetulan lewat dan searah, jadi dia menawariku tumpangan.” Ucapku
“Oh... Seperti itu. Cowo apa cewe?” tanyanya kepo
“Kenapa emang klo cewe atau cowo?” ucapku
__ADS_1
“Ya ga apa-apa sih. Cuma pingin tahu aja.” Sahutnya
“Ya udah yuk kita masuk. Nanti telat lho.” Ajak ku
“Ya udah ayo.” Sahutnya yang kemudian kamipun akhirnya berjalan masuk
Sesampainya di dalam kantor, ternyata sudah ada gosip yang membuat seisi kantor menjadi seperti pasar (berisik).
“Eh denger-denger Direktur di Divisi kita ini akhirnya datang juga lho. Setelah sekian lama dia ga pernah datang.” Ucap salah satu karyawan
“Iya benar juga ya. Dan gosipnya dia juga tampan lho.” Sahut karyawan yang lainnya
“Benarkah? Dia udah punya istri apa belum?” tanya karyawan yang satunya lagi
“Entahlah. Untuk masalah itu sih gosipnya ga ada. Nanti kita tanyain lagi aja ya klo lagi kenalan.” Sahut karyawan yang lainnya
Sementara aku yang mendengar masalah ini, kok merasa klo ini tuh bukan suatu kebetulan.
“Haizz.. Aku lagi mikirin apa sih? Kaya’ ngarep banget. Ga mungkin kali klo Direktur yang baru itu mas Rifan?! Dasar oneng.” Gumamku dalam hati sambil memukul-mukul kepalaku sendiri
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan coment nya ya...🙏