Dibalik Sandiwara Ada Cinta

Dibalik Sandiwara Ada Cinta
Dari awal lagi


__ADS_3

“Bapak.. Bapak mau apa?” tanyaku


“Bapak? Kamu panggil aku bapak?” tanyanya sambil semakin mendekatkan badannya


“Iya. Aku panggil mas itu bapak. Kan kita lagi ada di kantor.” Sahutku


“Hmm.. Begitu ya?! Tapi sayangnya aku ga mau tuh dipanggil bapak. Aku maunya dipanggil seperti biasa aja. Dimanapun kita sedang berada.” Ucapnya yang benar-benar membuat aku kesulitan bernafas karena terlalu dekatnya mas Rifan denganku


“Trus sekarang mas mau hukum aku apa?” tanyaku yang dengan susah payah bernafas


“Aku mau hukum kamu...” ucap mas Rifan terpotong lalu...


“Cup..” bibirku lagi-lagi diciumnya dengan lembut dan akupun berusaha mendorongnya


“Mas, jangan begini. Ini di kantor.” Ucapku ketika berhasil melepaskan ciumannya


“Jadi klo bukan di kantor, boleh?” godanya lalu kembali menciumi bibirku dengan lembut dan aku masih saja berusaha untuk melepaskan ciumannya lagi


“Mas, bukan begitu. Di perjanjian, kita kan ga boleh ada kontak fisik seperti ini. Lalu kenapa mas mencium aku.” Ucapku mencoba mengingatkannya


“Oh perjanjian itu ya?! Persetan dengan perjanjian itu. Sudah aku putuskan bahwa mulai saat ini dan detik ini, aku akan memulai mengejar kamu dari awal lagi.” Ucapnya serius dengan menatap mataku


“Ap.. Apa mas bilang?” tanyaku


“Aku bilang, semua perjanjian itu batal karena aku sudah jatuh cinta padamu. Dan aku mulai saat ini akan berusaha mengejar kamu dari awal lagi.” Ucapnya serius


“Hah...??” ucapku singkat


“Kok hah sih?” protes mas Rifan


“Aku... Aku... Aku terkejut mas.” Ucapku yang tiba-tiba seperti ga ada tenaga

__ADS_1


“Gila ni cowo satu. To the point banget. Kan bisa bilang kaya gininya nanti aja di rumah. Jangan di sini.” Gerutuku dalam hati


“Hai... Hello... Cilla... Kamu ga apa-apa kan?!” ucap mas Rifan


“Eh iya.. iya.. Aku ga apa-apa.” Sahutku yang tiba-tiba tersadar


“Trus gimana?” tanyanya


“Apanya yang trus gimana?” tanyaku


“Pernyataanku barusan. Gimana?” ucap mas Rifan


“Terserah mas ajalah.” Sahutku


“Udah nih?! Klo udah ga ada hal lain, aku mau lanjutin kerjaan. Kerjaanku numpuk.” Ucapku


“Iya. Ya udah. Sana balik kerja. O iya, ntar ke kampus, bareng ya.” Ucap mas Rifan


Sesampainya di luar ruangan mas Rifan, Reno menghampiriku


“Gimans Cill? Bos marah-marah ga sama kamu?” tanya Reno


“Ya begitulah.” Sahutku singkat


“Ya begitulah gimana?” tanya Reno bingung


“Pokoknya ya begitu.” Sahutku singkat lagi sambil melanjutkan kembali kerjaanku yang sempat tertunda


Sementara di dalam ruangan direktur, mas Rifanpun membuka-buka setumpuk dokumen yang ada di atas mejanya.


“Haizz... Klo bukan demi kamu, Cill, aku males banget deh pegang posisi kerjaan ini.” Gerutunya sambil mengangkat telpon untuk memanggil wakilnya, pak Rian.

__ADS_1


“An, kamu bisa ke sini sebentar ga?” tanya mas Rifan


“Kenapa Fan?” tanya pak Rian


“Biasa, aku ga paham nih ma berkas-berkas yang ada di atas meja. Bisa kamu ke sini sebentar ga buat jelasin semuanya?” pinta mas Rifan


“Ok. Sebentar lagi aku ke sana.” Sahut pak Rian


Setelah menunggu beberapa saat, pak Rian pun datang


“Ada apa Fan?” tanya pak Rian


“Gila... Ini tuh kerjaan apa kerjaan sih? Buanyak banget. Mana aku ga ngerti lagi nih.” Keluh maa Rifan


“Hadeuh si bos yang satu ini. Ya ini kerjaan lah. Masa’ mainan. Maka dari itu, klo di suruh pegang nih kerjaan dari awal tuh mau. Sekarang repot sendiri kan?!” ucap Pak Rian


“Ya elah an. Segitunya sih kamu. Gimana? Mau jelasin ga nih?” ucap mas Rifan


“Iya.. Iya.. Sini aku jelasin.” Ucap pak Rian


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment nya ya...🙏


__ADS_2