Dibalik Sandiwara Ada Cinta

Dibalik Sandiwara Ada Cinta
mengerjai


__ADS_3

Keesokan harinya, mas Rifan pergi ke kantor tapi tanpa aku. Karena aku sudah putuskan untuk tidak bekerja lagi di sana. Namun sebelum pergi, mas Rifan mendekatiku


“Sayang, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini?” tanya mas Rifan


“Aku yakin mas. Tapi tenang saja, nanti siang, aku akan datang ke sana membawakanmu makanan.” Ucapku sambil tersenyum


“Baiklah klo begitu, aku tunggu ya nanti siang.” Ucap mas Rifan dan akupun mengangguk sambil tersenyum


Setelah mendengar kepastian dariku, mas Rifanpun berangkat ke kantor sementara aku menemani nenek di rumah.


***


Tak terasa haripun sudah siang dan sesuai dengan perkataanku, aku datang dengan membawa makan siang untuk mas Rifan


Sesampainya di kantor, aku melihat ada sedikit keanehan di kantor. Entah apa yang sudah terjadi sebenarnya


Dengan tetap melangkah santai, akupun memasuki ruangan mas Rifan


“Mas, serius sekali. Sedang mengerjakan apa?” tanyaku


“Oh, kamu udah datang, sayang. Sini duduk di sampingku.” Ucap mas Rifan


“Ga mau ah.” Sahutku sambil duduk di sofa


“Kenapa ga mau, sayang?” tanya mas Rifan


“Ga apa-apa. Sudah sini makan dulu. Setelah itu aku pulang. Kasihan nenek, aku tinggal sendiri di rumah.” Ucapku

__ADS_1


“Kok gitu sih?! Aku kan mau kamu tunggin aku sampai nanti pulang kerja nanti.” Ucap mas Rifan manja


“Lha itu mah sama saja aku seperti kemarin. Di sini tapi tidak mangerjakan apa-apa.” Ucapku


“Ya udah.. Ya udah.. Klo begitu sebentar lagi aku makan tapi setelah aku menyelesaikan pekerjaanku ini dulu ya.” Ucap mas Rifan


Beberapa saat kemudian, pak Rian datang dan melihatku ada di ruangan mas Rifan


“Hadeuh.. Ternyata kamu ada di sini, Cill. Pantas saja di depan ramai sekali membicarakanmu.” Ucap pak Rian


“Membicarakan aku? Membicarakan masalah apa pak?” tanyaku


“Kamu cobalah dengar sendiri. Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya.” Ucap pak Rian


Tanpa menunggu lama, akupun mencuri dengar apa yang mereka katakan tentangku.


Setelah mendengar apa yang mereka katakan, aku semakin ingin sekali mengerjai mereka.


“Mas.” Ucapku


“Mas.” Ucapku lagi


“Apa?” sahut mas Rifan sambil terus mengerjakan pekerjaannya


“Aku boleh minta ijin ga buat ngerjain mereka semua yang di luar?” ucapku


“Maksudnya?” tanya mas Rifan dan pak Rian bebarengan

__ADS_1


“Begini, hmm... Sebelumnya aku mau tanya dulu tentang masalah tadi sebelum aku ke sini. Sebenarnya apa yang sudah mas katakan tentang masalah aku ga kerja lagi disini.” Ucapku


“Oh itu, tadi aku bilang ke mereka klo aku sudah tidak membutuhkan asisten lagi. Oleh sebab itu, kamu tidak bekerja lagi disini.” Sahut mas Rifan


“Lalu apa mereka tidak bertanya tentang kenapa aku ga kembali ke posisiku semula?” ucapku


“Mereka tanya sih masalah itu.” Ucap mas Rifan


“Siapa mas?” tanyaku


“Reno.” Sahut mas Rifan singkat


“Lalu jawaban mas apa?” tanyaku


“Ya aku jawab aja klo kamu di larang lagi kerja di sini sama aku.” Sahut mas Rifan santai


“Oh begitu. Ya udah klo begitu aku boleh minta tolong ga?” tanyaku


“Minta tolong apa?” tanya mas Rifan


“Tolong untuk hari ini saja. Bilang sama mereka semua, kalo mereka harus menyerahkan laporan paling lambat jam 2 siang dan kemudian tolak semua laporan mereka lalu suruh mereka revisi sampai benar. Jika tidak, maka tidak boleh pulang atau mereka harus minta maaf pada istrimu satu persatu. Tapi ingat, jangan memberitahu mereka klo aku istrimu.” Ucapku yang sebenarnya sedang menahan emosi karena ucapan mereka


“Cill, kamu mau balas dendam ya?” tanya pak Rian


“Terserah mau dibilang apa. Tapi ini juga sebagai palejaran untuk mereka agar tidak bergosip saat sedang bekerja.” Ucapku dengan nada tegas


Mas Rifan yang sepertinya tahu klo aku sedang menahan emosipun akhirnya membuat pengumuman. Ya tentu saja pak Rian yang harus mengatakannya.

__ADS_1


“Hadeuh... Nasib ya nasib.” Gerutu pak Rian sambil keluar dari ruangan


Bersambung..😙


__ADS_2