Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
13. Melelahkan


__ADS_3

"Nara!!" Pekik Pak Herman terkejut.


Untung saja semua para tamu sudah tidak ada, hanya ada keluarga Nara dan Edgar.


Ketika Pak Herman berteriak memanggil nama Nara. Mereka yang sibuk sedang berbincang teralihkan dan melihat ke arah belakang, di mana Nara yang sudah tergeletak pingsan di bawah.


"Sandiwara apa lagi ini, Ya Tuhan." Kesal Edgar frustasi


"Edgar, cepat kau bawa Nara pulang." Kata Pak Abraham memerintah


Edgar tidak tergerak sekalipun untuk menolong wanita yang sudah menjadi istrinya.


"Kenapa harus aku ayah??" Tanya Edgar demikian


"Kau adalah suaminya ... Memangnya kau tidak kasihan melihat istrimu tak sadarkan diri tergeletak seperti itu." Ucap Pak Abraham dengan emosi


"Apa urusannya denganku? Aku tidak peduli. Memangnya siapa wanita ini, andai ayah tahu pernikahan ini aku anggap hanya pernikahan di atas kertas. Aku tidak akan pernah mencintai atau peduli padanya. Karena dia hanya menantu mu, tapi bukan istriku." Ucap Edgar dengan nada sedikit tinggi


"Edgar memang sama persis denganku. Ayah bangga padamu Edgar. Kau memiliki titisan sifat seperti ayah. Ayah pun tidak peduli pada wanita ini, Tapi aku harus masih bersandiwara baik di depan keluarga Herman." Gumam Pak Abraham dengan senyum smirk nya


"EDGAR!! Sekarang kau berani melawan Ayahmu!!" Teriak Pak Abraham


Melihat ayahnya sudah marah, Edgar pun terpaksa menggendong Nara dengan kesal dan membawanya masuk ke mobil lalu pulang.


"Sebaiknya kita juga pulang sekarang." Ajak Pak Abraham


"Iya ini sudah malam. Edgar juga sudah membawa Nara pulang." Jawab Bu Clarissa


"Em...em... Maaf Pak Abraham. Rumah kami kan sangat jauh dari gedung ini, sedangkan rumah anda lumayan dekat dari sini. Lagipula ini sudah malam sekali, apa saya dan keluarga saya bisa menginap semalam Pak di rumah anda." Ucap tidak malu dengan gugup Bu Ella meminta permintaan


"Ya... Tentu saja kalian bisa menginap di rumah kami. Ikutlah bersama kami karena rumah kami cukup besar jadi masih bisa menampung kalian." Ucap sombong Pak Abraham dengan langsung mengiyakan


"Dasar orang miskin. Katakan saja dia ingin tidur di rumah ku." Lanjut Pak Abraham dalam hatinya


"Wah... Bagus sekali. Terima Kasih Pak." Jawab Bu Ella kegirangan


Pak Abraham pun langsung pergi.


"Ibu... Apa yang ibu lakukan?" Tanya Shintia tak habis pikir pada ibunya


"Sudah kau ikut saja. Memangnya apa kau tidak ingin melihat dan menikmati rumah mewah Pak Abraham."


"Iya juga yah... Wah, ibu pintar sekali. Yasudah ayo ibu." Jawab Shintia antusias


"Otak ibu memang sangat brilian." Ucap Pak Herman mengacungkan cap jempol


Mereka pun pulang menuju rumah Pak Abraham.


Selama 20 menit menempuh perjalanan pulang, Nara masih belum sadarkan diri. Dan tak lama kemudian Edgar sudah sampai di rumah. Dengan terpaksa Edgar harus mengangkat dan menggendong tubuh Nara masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarnya dengan menaiki tangga. Setelah sampai di kamarnya, Edgar langsung membaringkan ditempat tidurnya. Setelah itu Edgar pergi begitu saja ke kamar mandi untuk mandi membersihkan diri dimalam-malam karena tubuhnya sangat lengket.

__ADS_1


Setelah 5 menit Edgar sampai, Tak lama mobil pribadi yang ditumpangi Pak Abraham dan mobil Pak Herman sudah sampai.


Ketika sampai keluarga Pak Herman terkejut melihat rumah mewah milik Pak Abraham yang klasik modern besar bak istana.


"Waw,,, Ibu rumahnya besar dan mewah sekali, ini baru luarnya, bagaimana nanti di dalam dan isinya." Ucap Shintia pelan


"Iya Shintia rasanya ibu ingin merebut Pak Abraham dari istrinya itu...hahaha." Jawab Bu Ella dengan pelan sehingga Herman tidak mendengar ucapan istrinya.


"Ibu ini... Jangan jadi pelakor. Atau aku juga akan mengikuti jejak ibu untuk merebut Edgar ... Hhhh." Ucap Shintia


"Mari silakan masuk." Ucap Bu clarissa


Semuanya pun masuk ke dalam.


Ketika di dalam Shintia dan Bu Ella terkagum-kagum melihat semua isi nya yang sangat mewah.


"Sebaiknya kita melihat Nara apa sudah sadar. Mungkin dia sedang berada di kamar Edgar." Ucap Pak Abraham


Di kamar, Nara masih tak sadarkan diri. Dan Edgar keluar setelah mandi dengan telanjang dada, ia tidak peduli ada wanita di kamarnya karena ia tengah tertidur. Ia ingin mengambil pakaian di lemarinya. Tanpa mengetuk pintu semua orang masuk ingin melihat keadaan Nara di kamar Edgar.


Pak Abraham melihat anaknya yang selesai mandi dengan telanjang dada handuk di bawahnya.


"Edgar cepat pakai bajumu itu!!" Tegas Pak Abraham


"Iya sabar ayah aku sedang mencari pakaian ku." Menjawab dengan santai dan tidak mempedulikan jika semua orang ada di sana dan melihat ia tidak memakai baju.


"Apa kau tidak memiliki rasa malu, di sini ada keluarga Pak Herman." Geram Pak Abraham


"Bu, tampan sekali. Badannya juga indah, kurus tapi berisi, dan roti sobeknya itu lho." Ucap Shintia dengan terus membayangkan tubuh Edgar hingga terpaku tidak bisa menghilangkan pikirannya itu.


"Hussh... Kau ini tidak bisa menjaga perkataanmu apa. Di sini ada Pak Abraham." Jawab Bu Ella mengingatkan


Mendengar perkataan Shintia.


"Siapa dia??" Tanya Pak Abraham menunjuk pada Shintia dan memang ia belum sempat melihat Shintia


"Em... Ini anak kami namanya Shintia Pak, Adik tiri Nara." Jawab Bu Ella gugup


"Oh, Maafkan Edgar yang terkadang dengan sifat cuek nya itu tidak membuat dirinya getir untuk selalu bersikap santai sampai dia sengaja seperti tadi padahal di sini sedang banyak orang." Kata Pak Abraham


"Oh tidak perlu dipikirkan Pak,,, Hehe."


"Kau sih..." Sambungnya lagi Bu Ella berbicara pelan sambil menyikut Shintia


"Memangnya apa salahku, Bu. Toh pemandangan gratis."


"Sudah diam." Bentak pelan Bu Ella pada Shintia


"Apa sebaiknya kita panggilkan dokter saja? Dari tadi Nara tidak sadarkan diri." Tanya Bu Clarissa

__ADS_1


"Iya kau benar. Sebaiknya meminta dokter keluarga untuk datang kesini memeriksa keadaan Nara." Jawab Pak Abraham setuju


"Aduh... Gawat! Jangan sampai dokter datang kesini. Jika dokter tahu saat memeriksa Nara dan dia sedang hamil, semuanya bisa gawat." Gumam Bu Ella


"Eh...em... Ti-tidak perlu Pak Abraham. Nara memang seperti ini dari kecil, jika dia kelelahan sering sekali pingsan. Dan pagi baru sadar, Jadi tidak perlu dipanggilkan dokter Pak, Bu." Ucap Bu Ella dengan sigap


"Owh,,, Seperti itu yah. Benar Nara pasti sangat kelelahan sekali, dari pagi hingga malam tidak berhenti menyalami tamu." Jawab Bu Clarissa


"I-iya bu jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan Nara. Saya yakin pagi dia akan sadar."


"Baiklah... Jika begitu lebih baik kita biarkan istirahat dan kita juga harus istirahat." Ucap Pak Abraham


"Ia benar... Ayo semuanya." Ajak Bu Clarissa keluar dari kamar itu


"Edgar... Berapa lama lagi kau akan diam di kamar mandi? Keluarlah..." Teriak Pak Abraham


Edgar pun langsung keluar.


"Jaga istrimu baik-baik dia sedang tidak sadarkan diri, Jadi kau harus di sini bersamanya." Ucap Pak Abraham bersandiwara baik


Tanpa basa-basi Edgar mengangguk langsung menyetujuinya.


"Baik Ayah..." Dengan terpaksa


Semua orang pun kembali ke kamarnya masing-masing untuk tidur karena sudah larut malam. Keluarga Pak Herman pun menginap tidur di kamar tamu.


Di kamar hanya ada Edgar dan Nara. Dan saat Edgar ingin tidur di sofa, tak lama kemudian pelayan datang.


"Maaf permisi Tuan muda." Sopan berbicara dengan Edgar dengan menunduk


"Ada apa?" Tanya Edgar


"Saya diperintahkan nyonya besar untuk mengganti pakaian Nona Nara, Tuan muda."


"Yasudah lakukan saja." Pergi memalingkan wajah ke arah jendela dengan melihat bintang


"Baik Tuan Muda..."


Pelayan itu pun menghampiri Nara dan segera menggantikan baju Nara yang sedang tidak sadarkan diri.


10 menit kemudian pakaian pengantin Nara sudah diganti dengan baju piyama oleh pelayan itu dan selesai.


"Saya sudah mengganti pakaiannya Tuan, Saya permisi." Pamit pergi pelayan


"Hmm..." Ucap Edgar


Edgar langsung berbalik dan melihat ke arah Nara.


Nara yang tertidur di tempat tidur Edgar, membuat Edgar sangat kesal. Ia sempat ingin tidur di sofa dan pelayan malah datang kembali mengganggunya padahal sudah sangat mengantuk.

__ADS_1


"Gara-gara wanita kampungan ini, Ingin tidur saja susah."


Dalam kekesalan, Edgar membanting selimut dan bantal yang sudah dipegangnya ke arah sofa. Ia memutuskan untuk berbaring dan kemudian ia memejamkan matanya dan tertidur.


__ADS_2