
Sudah lama Nara dan Edgar berciuman.
Dengan sekuat tenaga Nara mendorong Edgar yang akhirnya bisa terlepas. Saat ini Nara sedang menatap Edgar dengan sorot mata tajam memerah karena amarah.
"Kenapa kau melakukan ini? Kau sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan." Teriak Nara membentak Edgar
"Ini adalah tanda supaya kau percaya jika aku serius. Ini adalah ciuman pertama ku dan dijanji itu siapapun yang mendapatkan ciuman pertama seorang Edgar, adalah bukti jika Edgar sangat mencintai wanita itu, dan Nara kau adalah orang yang aku cintai saat ini." Bentak Edgar juga mengungkapnya
Nara tak mampu untuk berkutik lagi.
"Eh suara apa itu, seperti suara orang bertengkar, aku akan melihatnya." Tanya Bu Clarissa dari dalam yang mendengar teriakan dari luar
Rachel yang menyadari bahwa itu adalah Edgar dan Nara, ia berusaha mencegah Bu Clarissa untuk tidak keluar. Dan membiarkan Edgar dan Nara menyelesaikan permasalahan mereka karena ia tahu jika Bu Clarissa datang masalah mereka tidak akan selesai.
Dan sebenarnya dari awal memang benar Rachel sudah mengetahui pernikahan Edgar dan Nara, dan kenapa dia tiba-tiba pulang dan ini alasan dia kembali ke Indonesia karena dia memiliki sebuah rencana untuk ia jalankan. Tapi Rachel ini pintar berakting dia menyembunyikan kebenaran bahwa ia mengetahui pernikahan ini lebih dulu dari Vano dan Safira di dubai, ia hanya bersikap tidak tahu apa-apa sampai sekarang.
Jangkauan informasi saat ini sudah berkembang luas. Rachel adalah orang yang mudah bergaul, ia juga orang yang aktif di sosial media, dengan hal itu ia bisa mendapatkan informasi yang ada.
"Tu-tunggu bibi, Aku lihat tadi sehabis dari toilet yang bertengkar itu tetangga di depan sana, Etahlah apa yang mereka bertengkar kan. Dan bibi tahu, mereka membawa senjata tajam, Jadi bibi tidak boleh keluar. Bagaimana jika bibi menjadi korbannya." Kata Rachel yang menyembunyikan kebenaran dan mencegah Bu Clarissa keluar
"Oiyah,,, Itu bahaya sekali. Tapi bibi heran kenapa Edgar belum kembali. Jika sampai kembali dan melihat tetangga yang bertengkar..." Pikir buruknya
"Owh... Untuk Edgar tadi aku melihat dan mendengar dia sedang menyuruh pelayan tadi untuk membersihkan kamarnya. Baru saja tadi datang sebelum bibi sampai di sini." Bohong Rachel
"Oh... Yasudah, Jika begitu bibi kira dia pergi kemana."
"Memangnya apa yang Bibi pikirkan?" Tanya Rachel yang membuat Bu Clarissa tertegun, dan tentu saja Rachel sedang mengetes kejujuran Bu Clarissa.
"Ehmm.. Tidak.. Ma-maksudnya adalah Bi-bibi pikir dia kenapa-napa, Jadi Bibi khawatir saja jika Edgar kenapa-kenapa." Gugup Bu Clarissa
"Semakin kau berkata tidak jujur dan terbata-bata semakin membuat aku yakin jika kalian ini..." Tanpa menyelesaikan kalimat terakhir Rachel dalam hatinya, Bu Clarissa sudah bertanya lagi.
"Ada apa Rachel?" Tanya Bu Clarissa yang membuyarkan lamunannya
"Oh... Tidak ada apa-apa, Bi."
Di sisi lain,
__ADS_1
Nara pun pergi ke kamarnya yang terletak di belakang khusus untuk para pelayan.
"Nara! Dengarkan sekali saja." Teriak panggil Edgar
Nara tidak peduli. Ia pun terus berjalan dan tanpa menghiraukan Edgar.
Edgar pun berhenti mengejar Nara.
"Bibi, ini sudah hampir malam. Aku pulang dulu, orang tuaku pasti sudah menunggu kedatangan ku." Kata Rachel pada Bu Clarissa
"Cepat sekali nak, Baru saja kau datang dan kedatangan mu langsung membawa kebahagiaan kau tidak ingin bertemu pamanmu dulu."
"Lain kali saja Bi, karena keluargaku pasti sama merindukan ku."
"Tapi ini sudah malam, dan dijam segini bahaya untukmu seorang perempuan keluar di malam hari sendirian."
"Tidak apa-apa, Bi. Di depan pasti ada taksi yang akan lewat, Bibi jangan khawatir."
"Tapi nak,,, Itu bahaya sekali." Kata Bu Clarissa
"Nah untung saja ada Edgar. Edgar, kemana saja kau nak. Ibu mencari-cari mu." Tanya Bu Clarissa
Ketika melihat Edgar, Rachel pun mengingat kembali ia yang berciuman tadi.
"A-aku selesai dari supermarket, Bu." Bohong Edgar
"Di Supermarket? Bukankah kata Rachel kau sudah pulang tadi dan menyuruh pelayan membersihkan kamar mu." Lontar Bu Clarissa
"I-iya. Aku sudah pulang tadi. Dan kembali pergi, karena melupakan barang lain."
"Lalu, di mana barang belanjaannya?" Tanya Bu Clarissa menginterogasi
Edgar lupa akan satu hal. Dia tidak memegang barang apapun yang membuatnya jadi membeku. Ia tidak lihai dalam berbohong.
"Emm... Bibi i-ini sudah malam, aku permisi dulu, Bi." Rachel pun menyela pertanyaan Bu Clarissa. Karena hanya ia yang taju apa yang terjadi. Jadi ia berpikir Edgar tidak bisa mencari dan menjawab alasan lagi sehingga ia membela Edgar dengan menyela pertanyaan ibunya.
"Oh iya, Edgar. Rachel ingin pulang. Dan ini sudah malam tidak baik juga untuk perempuan keluar malam sendirian di luar sana. Bagaimana jika kau mengantar Rachel pulang kerumahnya." Kata Bu Clarissa
__ADS_1
"Ti-tidak perlu, Bu. Lagipula Edgar pasti sangat sibuk dan lelah." Mengelak Rachel
"Tidak aku tidak sibuk. Aku akan mengantarmu pulang." Jawab Edgar dan langsung mengambil kunci mobil lalu terlebih dahulu pergi menuju mobil.
"Tuh kan, Edgar saja tidak apa-apa, sudah tidak apa-apa kau diantar Edgar saja." Kata Bu Clarissa
"Jika begitu aku pamit pulang ya, Bi." Pamitnya
"Iya hati-hati ya nak, dan jangan lupa besok mampir lagi."
"Iya semoga saja, Aku tidak janji."
"Yasudah sana, Edgar pasti sudah menunggu."
Rachel mengangguk sambil tersenyum, lalu berjalan keluar.
Ketika di luar, Rachel melihat Edgar memang sudah menunggunya di dalam mobil, tapi ia terlihat melamun.
"Aku tahu apa yang Edgar pikirkan sekarang..." Kata Rachel menduga dalam hati
Rachel pun melanjutkan langkahnya dan menghampiri Edgar.
"Jika kau masih banyak pekerjaan, atau pikiran tidak perlu mengantarkan ku, istirahatlah aku akan pulang sendiri." Kata Rachel yang membuyarkan lamunan Edgar
"Em... Tidak, Aku tidak apa-apa. Aku sudah mengatakan akan mengantarkanmu. Masuklah!"
Rachel pun tersenyum lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan, dan tidak lupa memakai sabuk pengamannya.
Edgar pun melajukan mobilnya mengantarkan Rachel pulang ke rumah orang tuanya.
Suasana dalam mobil pun hening.
Rachel pun menatap wajah Edgar yang sedang menyetir, Edgar pun tidak menyadarinya, sehingga Rachel terus menatap Edgar dengan mengingat masa-masa indahnya dulu ketika bersama Edgar dan tanpa ada orang pengganggu. Di kenangan terakhir Rachel diingatkan oleh Edgar yang mencium bibir Nara tadi.
Rachel pun langsung memalingkan wajahnya dan tanpa ia sadari ia mengeluarkan darah dari hidungnya.
Rachel terus memegang hidungnya untuk menyembunyikan sesuatu dibalik hidungnya. Sedangkan Edgar masih fokus menyetir dan tak lama kemudian Edgar menyadari Rachel mengeluarkan darah di hidungnya dan saat ini Rachel sedang berusaha sendiri menghentikan mimisannya.
__ADS_1