
Semua pun naik ke taksi dan memasukkan koper ke bagasi. Lalu, melanjutkan perjalanan ke Rumah Pak Abraham.
Suasana di dalam taksi pun hening, Tidak ada yang berbicara, yang biasanya berisik dengan nyanyian Safira dan Vano yang pulang. Tapi kali ini berbeda. Hanya saja Vano dan Safira yang selalu saling menatap di jok belakang.
"Em... Kak Rachel, bagaimana jika kita pulang ke rumah kakak saja terlebih dahulu. Pasti orang tua kakak merindukan kakak juga." Kata Safira yang memulai pembicaraan
"Tidak kita akan langsung ke rumah paman dan bibi, sudah lama aku tidak menemui mereka juga." Jawab Rachel
"Tapi orang tua kakak pasti lama juga sudah tidak bertemu." Pungkas Safira mencoba membujuk Rachel
"Kalian tidak tahu kami sering sekali menelepon dan melakukan video call, Jadi aku sudah melihat mereka secara tidak langsung, Tapi dengan paman dan bibi sudah tidak menjalin komunikasi lagi semenjak aku ke dubai."
"Kak Rachel sulit untuk dibujuk. Inilah kesamaan Kak Edgar dan Kak Rachel. Mereka keras kepala." Bisik Safira pada Vano di sampingnya
"Iya...benar." Kata Vano yang sudah pasrah saja sejak dari tadi
Sudah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya mereka sampai di rumah keluarga Pak Abraham. Mereka pun turun dari taksi.
"Terima kasih, Non." Kata supir taksi
"Sama-sama, Pak. Uang kembalinya untuk bapak saja." Baik hati Rachel
"Owh baik non, Sekali lagi terima kasih. biarkan saya yang turunkan kopernya." Kata supir taksi yang ramah dan senang itu
"Silakan..."
Pak supir pun mengeluarkan semua kopernya.
"Semua koper sudah saya turunkan, Non."
"Terima Kasih ya, Pak." Ramah Rachel dengan tersenyum
"Jika begitu saya permisi." Supir taksi pun pergi melajukan taksinya meninggalkan kediaman Pak Abraham.
Rachel membuka kaca mata hitamnya dan mengibaskan rambut panjangnya, lalu menatap rumah Pak Abraham. Dengan rindu yang sudah terkumpul dan tidak sabar bertemu Edgar.
"Tak lama lagi bencana besar akan datang, Kak." Bisik Safira
Vano hanya diam saja, sambil melihat Rachel yang terlihat begitu senang. Tapi entah apa yang akan terjadi dalam hitungan 1 menit ini apa dia akan tetap senang melihat keluarga Pak Abraham sudah ada yang berubah.
...***...
"Ibu, Aku akan pergi ke supermarket untuk membeli barang yang aku perlukan sebentar." Kata Edgar meminta izin pada Bu Clarissa sambil berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
"Iya hati-hati, Nak." Jawab Bu Clarissa
Edgar pun tidak tahu akan ada kedatangan seseorang yang sudah menunggu di depan pintu. Orang di luar hanya menatap dan masih enggan untuk membunyikan bel.
Safira, Vano dan Rachel yang ingin mengetuk pintu dari luar, sedangkan Edgar yang masih berjalan ke arah pintu sebentar lagi akan membuka pintu tersebut.
Pintu sudah dibuka lebih dulu oleh Edgar. Sehingga Rachel yang ingin mengetuk pintu terhenti karena pintu sudah terbuka. Dan mendapati pria yang sudah lama di rindukan.
Edgar yang melihat kedatangan seseorang ketika membuka pintu, terkejut melihat orang yang sedang berhadapan dengannya saat ini.
Edgar mematung, sedangkan Rachel memasangkan wajah tersenyum pada Edgar.
"Kejutann..." Kata Rachel mengejutkan Edgar yang masih tidak percaya
Edgar masih berpikir keras dan terus melihat sekeliling yang di samping Rachel pun terdapat kedua adiknya.
Ternyata mereka datang ke Indonesia!
Tak selang lama Rachel pun langsung memeluk Edgar dengan sangat erat, melampiaskan kerinduannya pada Edgar.
Edgar pun masih tak menyangka, saat ini ia tidak tahu harus senang karena Rachel cinta pertamanya datang ataukah harus sedih.
Dan Edgar sama sekali tidak membalas pelukan Rachel padanya.
Rachel pun melepaskan pelukannya.
Edgar pun masih tidak menjawab dan hanya melihat kedua adiknya menelisik. Tapi adiknya malah memasang wajah sedih, seolah-olah sudah mengetahui apa yang terjadi di rumah ini dan khawatir.
"Edgar, Ada apa sepertinya kau tidak senang aku datang. Aku tahu aku sudah meninggalkan mu ke dubai, dan kau sangat marah padaku hari itu. Tapi aku sekarang menemui mu kan. Aku harap kau masih menerimaku dan tidak ada wanita yang menggantikan ku dihati mu selama aku pergi." Pungkas Rachel
"Em... I-iya aku senang kau, maksudku kalian datang setelah sekian lama, A-aku sangat terkejut." Akhirnya Edgar baru menjawab
"Itulah rencana kami yang ingin mengejutkan semua orang. Iya tidak Vano, Safira." Tanya Rachel
"I-iya Kak, Ini semua rencana kami bertiga." Jawab Vano
Bu Clarissa yang sedari tadi di dalam mendengar seseorang yang sedang berbincang di depan memutuskan untuk pergi melihat. Ketika sampai alangkah terkejutnya ia melihat Rachel dan kedua anaknya yang pulang dari Dubai.
"Kalian bertigaaa!" Kejut Bu Clarissa sambil menunjuk
"Bibi... Apa kabar?" Kata Rachel yang langsung menyambut Bu Clarissa sambil memeluknya
"Kabarku baik." Jawab Bu Clarissa yang membalas pelukan dari Rachel
Vano dan Safira pun menghampiri ibunya dengan perasaan senang dan bermanja-manja melepas rindu.
__ADS_1
Nara pun datang di saat keadaan yang sedang genting dengan keadaan lusuh, kurus, perut buncit karena hamil dan terlihat kelelahan. Datang dari arah luar setelah menyiram tanaman di halaman depan.
Rachel yang melihat kedatangan wanita yang baru ia lihat itu bertanya-tanya, sekaligus Edgar yang terus melihat reaksi Rachel ketika Nara datang. Semakin membuatnya khawatir mengenai identitas Nara bersama Edgar.
"I-ini kan!" Tegun Safira dalam hatinya ketika Nara datang.
Dan semua orang melihat ke arah Nara. Kini ia menjadi pusat perhatian.
Nara yang menyadari semuanya merasa heran kenapa semua orang melihat ke arahnya dan bertanya- tanya siapa yang datang.
"Dia siapa??" Tanya Rachel yang mengejutkan semua orang
"Habislah Kak..." Bisik Safira pada Vano yang hanya menjadi saksi
"Dia istri Kak Edgar, bukan? Kenapa pakaiannya begitu, seperti pelayan saja. Sudah hamil lagi, ternyata Kak Edgar hebat juga yah." Bercanda Vano
"Ish..." Safira pun menginjak kaki Vano
"Bisa jadi dia bukan sedang mengandung anak Kak Edgar." Lanjut Safira
"Dia... a-adalah..." Edgar yang ingin menjawab pertanyaan Rachel terpotong oleh jawaban Bu Clarissa.
"Dia adalah pelayan baru kami. Dia baru satu tahun bekerja di rumah kami." Jawaban menohok dari Bu Clarissa yang menggetirkan hati Nara.
"Sebenci itukah ibu sekarang padaku, sehingga dia tidak mengakui ku lagi. Sekarang benar-benar aku sendiri." Kata Nara sedih dalam hati.
Edgar pun mendengarnya dengan terkejut.
"Owh... Aku kira dia siapa. Krena aku baru melihatnya di sini. Perkenalkan namaku Rachel." Ramah Rachel pada Nara yang mengulurkan tangan untuk berkenalan
"Sa-saya Nara..." Tidak menjabat tangan Rachel dan terus menunduk. Nara tahu pelayan seperti dirinya tidak pantas menerima jabatan tangan dari Rachel wanita yang berkelas.
"Owh... Jika begitu salam kenal." Kata Rachel yang menarik kembali tangannya yang ditolak untuk berjabat tangan dengan perasaan sedikit sedih. Ia pikir Nara tidak ingin menyentuh tangannya dan terlintas sekilas jika dia sombong.
"Sombong sekali dia, tidak ingin menerima jabat tangannya Kak Rachel. Dia dengan kak Rachel tidak sebanding. Seperti bumi dan langit saja." Ujar Safira
"Iya kau benar." Kata Vano yang mengiyakan ejekan Safira
"Dan asalkan kau tahu pelayan, Rachel ini sudah baik-baik ingin mengajakmu bersalaman dan kau malah menolaknya. Jarang sekali majikan ingin menjabat tangan bawahannya. Rachel ini adalah kekasih Edgar, sekaligus cinta pertama Edgar yang pastinya dia berpendidikan dan sekarang berkuliah di dubai, lalu beradab, dan pintar. Bisa dikatakan dia menantu idaman dan sempurna." Kata Bu Clarissa yang seolah meledek Nara
"Bibi, Kau ini... tidak seperti itu." Kata Rachel yang tersipu malu
"Itu benar Rachel, Kau wanita yang patut dicontoh oleh perempuan di luaran sana, karena sifat dan sikapmu yang baik."
Nara yang mendengarnya pun merasa sesak dan menerima semua perkataan Bu Clarissa. Dia tahu bahwa Bu Clarissa sedang menyindir dirinya. Dan hal itu dilakukan karena saat ini Bu Clarissa sangat membenci Nara.
__ADS_1