Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
39. Siapa Yang Jahat Di sini?


__ADS_3

Seorang pria berhasil menghadang dan menatap Nara dengan penuh amarah.


Perlahan Nara berjalan mundur, ketika pria itu mulai berwajah masam.


Saat Nara akan berbalik dan lari mencari arah jalan keluar lain, pria itu dengan cepat menghalangi jalannya juga.


"Tunggu. Kau tidak bisa pergi seperti ini." Ucap Farel dengan getir.


Nara bergetar hebat, dengan memberanikan diri ia menatap pria yang berada dihadapannya.


"Nara, Apa yang kau lakukan dengan memihaknya? Kau juga ingin, Aku menghancurkan hidup mu!!" Bicara Farel nada lemah lembut, Seolah bernegosiasi dengan Nara yang masih tertegun cukup lama untuk menjawab. Nara menelan salivanya kuat-kuat beberapa kali.


"Hidupku sudah hancur. Dan dihancurkan oleh mu. Hanya mereka yang belum merasakan bagaimana hancurnya hidup dibohongi oleh orang lain. Kau sudah menghancurkan segalanya dengan merenggut kesucian ku, dan kau juga tidak mengakui anak yang dikandung ku saat ini. Apalagi yang belum hancur dalam hidup ku. Dan sekarang jangan hancurkan hidup orang lain." Bicara Nara bibirnya bergetar dan menangis.


"Kau mencoba menghalangi ku untuk membunuh pria ini?! Kau lebih memihaknya dibandingkan aku? Padahal dia sudah membuat mu lebih dari sakit hati."


"Aku tidak membutuhkan balas dendam. Bahkan sumber rasa sakit ini berasal darimu. Aku hanya ingin kau membebaskan Edgar dan seseorang yang masih ada di dalam. Jika bisa, Aku ingin menyerahkan nyawaku di atas tangan mu untuk menggantikan mereka."


Farel hanya terdiam, Matanya sedikit berkaca. Ia sungguh tidak percaya wanita yang hidupnya dihancurkan olehnya rela bertaruh nyawa hanya demi orang lain. Farel mengerti mengenai perasaannya, Bahwa ia memang sepenuhnya salah atas hal ini, Tapi melibatkan Nara dalam masalah pribadinya pun sudah salah.


Tak lama, Terdengar sebuah gebrakan pintu yang dibuka paksa sangat keras.


BRAAKK!


DUAR!!


DOR! DOR! DOR!


Suara keras terdengar dari luar. Dan tembakan yang menghunus langit-langit plafon atas.


"Farel!! Kau pikir kami tidak akan bisa menemukanmu jika kau menyembunyikan keberadaan Edgar?!" Gertaknya dengan penuh amarah.


Dengan langkah kasar, Beberapa pria bersetelan jas dan berbadan kekar menerobos masuk ke dalam ruangan.


Suara tembakan mereka yang mengenai sesuatu membuat jantung Nara dan Farel berdegup kencang.

__ADS_1


"Untuk apa kalian kemari?!" Berani Farel menghadang Tuan Abraham yang datang bersama para anak buahnya.


"Diam kau bajingan!! Kau pikir kau hebat ingin mencelakai putraku??" Bentak Tuan Abraham rahangnya mengeras.


BRAAK!!


Tuan Abraham menghantam keras sebuah kursi yang ada di sampingnya untuk memukul Farel.


AAGH!!


Farel dengan mudah menjatuhkan Tuan Abraham sebelum kursi yang dilayangkan mengenainya.


"Keparaat!! Kau memang keterlaluan!! Kenapa kalian diam saja?! Hajar dia!!" Marah Tuan Abraham mengerahkan para anak buahnya untuk menyerang Farel.


Tak lama mereka bertarung dengan anak buah Farel yang mulai berdatangan membantu.


"Nara, Cepat bawa Edgar pergi dari sini!!" Titah Tuan Abraham.


Nara yang masih syok, Memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya seperti sudah tidak bertulang lagi. Saat Farel sedang dihajar habis-habisan oleh para berbadan besar. Nara pergi melarikan diri dengan membawa Edgar keluar secepat mungkin.


Melihat Nara membawa pergi Edgar, Tentu saja hal ini membuat Farel geram. Matanya tidak lepas melihat Nara yang membawa Edgar sudah menjauh dan hampir mendekati pintu luar.


Kursi yang dilempar ke arahnya berguling setelah menghantam lantai, tapi tidak ada waktu baginya untuk diam.


"Nara...! Hentikan!" Teriak Farel di sela masih menghajar anak buah Tuan Abraham satu persatu.


Farel berhasil menghindari kerumunan orang yang menghajarnya akibat bantuan dari anak buahnya yang sama-sama bekerja keras dalam hal ini.


Tangan mungil itu sudah dicekal oleh tangan kekar yang berurat dengan kasarnya. Edgar yang masih tidak sadarkan diri, hanya mampu menutup mata lelah dan tubuh lemahnya di rangkulan Nara.


"Oh ini sangat menyenangkan. Ayo bermain kejar-kejaran!" Menyeringai Farel menakutkan hingga menusuk jantung Nara.


"Beri aku satu alasan masuk akal! Kenapa kau ingin membuat Edgar meninggal dari dunia ini?"


Kurasa kau sendiri yang harus jelaskan. Sudah tidak ada waktu lagi bagiku untuk menjelaskannya padamu, Karena kau sendiri sudah mengetahui apa alasan ku. Berikan Edgar sekarang juga padaku, sebelum aku akan bertindak sesuatu padamu juga!!" Kecam Farel memperingatkan Nara.

__ADS_1


"Kau serius?? Kau juga ingin menyakiti ku? Kau juga ingin membunuh ku??" Tanya Nara dengan mata sembap yang sudah dipenuhi air mata.


Entah perasaan datang dari mana. Farel benar-benar terhimpit, ia tidak mengerti perasaan apa ini yang membuatnya tiba-tiba merasa iba melihat Nara.


"Farel! Aku memohon padamu, Hentikan semua ini! Aku tahu kau sangat sakit hati karena Ayah kandung mu tidak mempedulikan mu dan ibumu. Tapi sekarang dia ada di sini. Kau bisa membicarakan rasa sakit mu padanya dengan cara baik-baik." Ucap Nara memohon dengan terisaknya. Ia mencoba memberi pengertian, siapa tahu Farel berubah pikiran dan sadar akan tindakannya.


"Menurut mu Aku melakukan ini hanya untuk bersenang-senang??"


Dari belakang, Farel terbanting ke lantai. Meskipun Tuan Abraham tak lagi muda, Ia mampu menarik Farel dan menginjak wajahnya yang mengerang kesakitan. Tuan Abraham hanya tertawa penuh kepuasan bertarung dengan anak muda yang belum ia ketahui bahwa Farel adalah anak kandung yang ia tinggalkan dan sudah dewasa itu!


Farel sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kini hanya giliran anak buah Tuan Abraham yang mengambil alih Edgar dari rangkulan Nara. Dan pria malang itu berhasil dibawanya keluar.


Nara sangat lega akhirnya Edgar dan dirinya pun bisa terbebas. Bibirnya tidak henti berucap syukur karena mengira masalah sudah selesai teratasi dengan Farel yang sudah babak belur di bawah kungkungan Tuan Abraham. Ia melangkahkan kaki yang tidak berat lagi mengikuti kedua anak buah itu keluar menghirup udara segar.


Namun baru saja melangkahkan satu kaki, Terdengar satu suara tembakan yang memekikkan telinga.


DOR!!


Farel berhasil ditembak oleh Tuan Abraham di bagian dadanya. Bajunya dan lantai sudah berlumpur dengan darah bercampur debu lantai.


Nara tercengang, Matanya tidak henti membulat dan sama sekali tidak berkedip. Saat dirinya melihat banyak aliran darah dan Farel terlihat tidak membuka matanya lagi, Tubuhnya menjadi kaku dan lemah. Setega dan sekejam itukah Tuan Abraham?!


Tuan Abraham hanya menyeringai. Dan sekarang beralih mendekati Nara yang masih mematung.


"Nara, Kurasa ini bukan saatnya hanya melihat dengan kagum. Apa kau menikmati pemandangannya? Atau kau hanya terlalu mempercayai ku sebagai ayah mertua mu yang baik?" Pungkas Tuan Abraham ambigu. Nara tidak mengerti apa maksud Ayah mertuanya.


Dalam sekejap, Wajah Tuan Abraham terlihat lebih garang, Matanya memerah. Dan yang mencengangkan Nara, Pistol yang sedang digenggam pria itu sedang dinaikkan ke atas perlahan dan sekarang tepat mengarah padanya.


"Semua berakhir di tangan mu!" Lirih Tuan Abraham terdengar menakutkan. Nara tidak tahu apa yang akan dilakukan ayah mertua padanya.


DOOR!!


Tembakan itu mengeluarkan sebuah peluru yang melesat mengenai targetnya. Ia merasakan dorongan akibat peluru itu.


Sebelum Nara bisa berkedip, Sudah banyak hal terjadi di depannya.

__ADS_1


Brugh!!


"Kalian pantas mati! Kau adalah penyebab utama terjadinya kejadian hari ini!!"


__ADS_2