Dihamili Kakak Senior

Dihamili Kakak Senior
41. Ibu Yang Ingin Menebus Kesalahan


__ADS_3

Cerita berlanjut dengan adegan di rumah sakit, di mana Farel dan Nara kritis dan harus menjalani operasi. Tuan Abraham dan Tuan Bambang akhirnya bertemu kembali dan berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka dan mendukung anak-anak mereka.


Ketegangan masih melingkupi ruangan ICU di rumah sakit. Di satu sisi, perjuangan para dokter dan perawat untuk menyelamatkan nyawa kedua pasien yang terkena tembakan masih terus berlanjut. Di sisi lain, keluarga mereka duduk dengan cemas di ruang tunggu, menunggu kabar tentang kondisi pasien.


Beberapa jam berlalu, seorang dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah serius. Keluarga yang menunggu dengan tegang segera melihatnya dan berharap mendapatkan kabar baik.


Dokter menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan operasi. "Kondisi mereka masih kritis, tetapi operasi untuk mengeluarkan peluru dan memperbaiki luka telah berhasil dilakukan. Sekarang mereka dalam tahap pemulihan yang intensif di ICU. Kita akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa mereka."


Wajah para perawat dan Dokter Spesialis tampak lega mendengar bahwa operasi telah berhasil dilakukan. Mereka menyadari bahwa perjuangan belum berakhir, tetapi ada harapan untuk kesembuhan.


"Sangat diharapkan mereka akan segera sadar dan pulih. Kami akan memantau perkembangan mereka dengan cermat," tambah dokter tersebut.


Pada akhirnya, operasi selesai dan kedua pasien berhasil selamat. Namun, sayangnya janin yang dikandung Nara tidak selamat. Dokter harus mengeluarkan calon bayinya karena telah meninggal di dalam kandungan akibat tekanan hebat yang dialami. Nara harus jatuh bangun saat beberapa kali ia terjatuh, bahkan penyebab terbesar kehilangan bayinya adalah sebuah tembakan yang mengenainya.


Kabar selamat Farel dan Nara telah sampai ke telinga Keluarga Pak Abraham karena berada di rumah sakit yang sama, mereka sangat menyayangkan keduanya masih hidup. Padahal yang diharapkannya adalah mereka tidak dapat diselamatkan sama seperti bayi yang dikandung Nara, berakhir tragis meninggal belum sempat menatap dunia yang akan dijelajahinya. Tapi syukurlah ia memilih tidak lahir ke dunia ini, karena dunia pasti tidak akan berlaku adil padanya.

__ADS_1


Berbeda dengan Edgar dan Rachel yang sakit ditemani keluarganya, mereka bersatu dan saling mendukung untuk melewati masa pemulihan. Farel dan Nara tidak hentinya menangis meratapi nasib mereka, tidak ada satupun keluarga yang menemani mereka. Ibu Farel masih tidak menunjukkan kedatangannya karena mungkin ia masih enggan menginjakkan kaki di tanah kelahiran yang sudah membuat banyak luka, apalagi harus menghadapi Pak Abraham. Sedangkan Keluarga Nara, Pak Herman, seolah tidak peduli pada putrinya karena tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.


Setelah siuman dan mendapati kehilangan bayinya, Nara sontak tak percaya. Ia sangat sedih mendengar kabar buruk yang menimpanya. Sebagai seorang ibu, hati mana yang tak tega anak yang dinantikan ternyata memilih untuk pergi. Meskipun janin itu hadir dari hasil perbuatan yang salah, ia tetap merasa sebagai seorang ibu yang kehilangan sosok yang dinantikannya.


Farel pun merasakan kehampaan yang mendalam, sebagai ayah dari janin itu, ia merasa sangat berdosa. Pertama sudah tidak mengakui dan menyakiti ibu janin itu, sekarang ia hanya menerima hasil menangisi perbuatannya.


Dalam kondisi masih lemah, Farel mencabut selang infusnya hanya untuk menemui Nara di ruangan rawatnya yang kebetulan bersebelahan. Ia berjalan tergopoh-gopoh dan tidak sengaja bertemu wanita yang sedang menatapnya dari kejauhan dengan tatapan getir.


Farel mengenali wanita itu, dia adalah ibunya, bernama Sonia. Ibunya benar datang?


Dengan ragu, Farel menghampiri ibunya yang masih berdiri di sana. Matanya berkaca-kaca saat bertatap muka dengan wanita yang seharusnya memberikan cinta dan kasih sayang sejak lahir. Tanpa berkata sepatah kata pun, Sonia dengan lembut membuka pelukannya dan Farel pun akhirnya terjatuh di dalam pelukan ibunya. Mereka berdua saling merasakan getaran emosi yang sama, meskipun begitu banyak rasa yang belum terselesaikan di antara mereka.


"Demi Tuhan, Farel, Ibu menyesal. Ibu menyesal telah meninggalkanmu," bisik Sonia dengan suara gemetar.


Farel terdiam sejenak, mencoba menenangkan perasaannya yang berkecamuk. "Mengapa kau datang, Bu? Setelah begitu lama... Setelah aku melalui begitu banyak penderitaan karena kepergianmu," ucap Farel, suaranya terdengar penuh dengan luka.

__ADS_1


Sonia menangis, meratapi kesalahannya. "Ibu tahu aku telah membuatmu menderita, Farel. Ibu menyesal selama bertahun-tahun. Depresi akibat cinta telah meruntuhkan hidupku, dan ibu tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Aku merasa tidak pantas menjadi seorang ibu bagimu dan meninggalkanmu adalah keputusan yang paling menyakitkan dalam hidup. Ibu tidak bisa menghapus kesalahan itu, tapi ibu datang untuk berusaha memperbaikinya. Ibu ingin mencoba menjadi ibu yang kau butuhkan, walaupun ibu tahu itu tidak akan pernah bisa menggantikan waktu yang telah hilang. Ibu mendengar kabar tentang mu dan ragu untuk datang. Beberapa hari ibu dilema, tapi ibu sadar semua ini terjadi karena kesalahan ibu yang sudah menghadirkan mu dalam kondisi tidak diakui oleh ayah kandung mu sendiri, sampai monster itu tumbuh hanya untuk membalas dendam. Tapi ibu datang, untuk menebus semua kesalahan."


Farel mendengarkan kata-kata ibunya dengan hati-hati. Hati kecilnya masih enggan memberi sepenuhnya kepercayaan, tapi seiring waktu, perlahan ia merasa bahwa Sonia benar-benar menyesal atas perbuatannya.


"Demi anak yang telah pergi, beri ibu kesempatan, Farel. Ibu ingin merangkulmu, menjadi pendengar setiamu, dan berusaha mengerti. Aku tahu aku telah kehilangan begitu banyak momen berharga bersamamu, tapi tolong, beri aku kesempatan untuk mencoba memperbaikinya," pinta Sonia, tetes air mata masih mengalir di pipinya.


Farel merenung sejenak. Dia merasa ibunya terlihat rapuh, lebih rapuh dari saat mereka terakhir bertemu. Keinginan untuk memiliki seorang ibu yang ada di sampingnya selama ini tidak pernah hilang, dan meskipun dia tahu bahwa kehadiran Sonia tidak akan menggantikan apa yang telah terjadi, Farel merasa ada benarnya memberikan kesempatan kedua untuk ibunya.


"Aku akan mencoba memberikanmu kesempatan, Bu. Tapi bukan hanya untukku, juga untukmu. Aku ingin kau merasa tenang dan bahagia dengan pilihanmu," jawab Farel dengan hati-hati.


Sonia tersenyum lemah, terima kasih karena mendapatkan kesempatan kedua. Meskipun proses memperbaiki hubungan mereka akan berat dan membutuhkan waktu, setidaknya sekarang mereka memiliki kesempatan untuk memulainya.


Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, Nara masih merasakan duka yang mendalam atas kehilangan bayinya. Farel yang telah mengetahui kabar tersebut, memutuskan untuk mendukung Nara sekuat tenaga meskipun keadaannya sendiri masih lemah. Ia berusaha menjadi seseorang yang dapat menyandarkan Nara dalam masa sulit ini.


Ketika Farel mengunjungi Nara di kamar rawatnya, Nara merasa campur aduk. Hatinya masih hancur, tapi kehadiran Farel memberinya sedikit kekuatan untuk bertahan. Mereka saling merangkul dan berbagi kesedihan mereka bersama.

__ADS_1


__ADS_2