
Setelah pertengkaran yang memilukan di ruangan Nara, suasana di rumah sakit menjadi semakin tegang. Nara, Farel, dan Sonia merasa terpukul oleh kata-kata yang tajam dari Pak Abraham. Mereka merasa terluka dan kehilangan harapan untuk memperbaiki hubungan dengan anggota keluarga yang lain.
Sementara itu, Bu Clarissa, yang tidak mengetahui tentang pertengkaran yang terjadi, merasa khawatir karena Pak Abraham tiba-tiba menghilang setelah berbicara dengannya. Ia mulai mencari tahu keberadaan Pak Abraham dan terkejut mendengar bahwa suaminya telah pergi ke ruangan Nara dan terlibat dalam pertengkaran.
Bu Clarissa segera mencari Pak Abraham dan menemukannya di luar ruangan, sedang duduk sendiri di bangku dekat taman rumah sakit. Wajah Pak Abraham terlihat murung dan penuh dengan emosi yang berkecamuk.
Selama bertahun-tahun ini, Bu Clarissa hidup bersama Pak Abraham menjadi amatir. Ia mengetahui perselingkuhannya dengan Bu Sonia di masa lalu, tapi ia tegar dan berhasil mempertahankan pernikahannya. Ia juga bahkan rela melihat anak dari hubungan gelap suaminya itu bersahabat dengan putranya karena Edgar sendiri tidak tahu Farel adalah kakaknya.
"Pak, apa yang terjadi? Kenapa kau marah-marah seperti itu?" tanya Bu Clarissa dengan cemas.
Pak Abraham menoleh pada Bu Clarissa, wajahnya masih penuh kemarahan. "Bu, apa kau tahu bahwa Farel, dan Nara, menantumu, bersatu melawan kita? Mereka mencoba memanfaatkan Edgar untuk mengambil alih bisnis keluarga kita!" terang Pak Abraham tidak menjelaskan pertengkarannya karena kehadiran Bu Sonia. Ia malah mengarang cerita.
Bu Clarissa terkejut mendengar tuduhan itu. "Apa yang kau bicarakan, Abraham? Maksudmu, mereka bersatu untuk mengambil alih bisnis keluarga?"
Pak Abraham mengangguk marah. "Ya, mereka berdua ingin menguasai semuanya. Mereka sudah berkomplot untuk menghancurkan keluarga kita! Aku datang ke ruangan mereka hanya untuk mencari alasan dibalik konflik ini. Mereka menggunakan senjata dengan janin hasil perbuatan kejinya itu. Khusunya Farel, kau sudah tahu siapa dia dan apa hubungannya dengan ku. Sebagai putraku, dia jelas iri pada Edgar dan pasti hal semacam perebutan harta dilakukan olehnya. Ini pasti atas saran Sonia!"
__ADS_1
Mendengar nama Farel dan Bu Sonia, Bu Clarissa tertegun. Karena ia tahu siapa mereka dan sudah lama tidak mendengar nama itu.
Bu Clarissa mencoba menghadapi situasi dengan kepala dingin. "Kita harus bicara dengan mereka, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mari kita cari solusi bersama."
Pak Abraham masih sulit menerima ide itu. "Tapi bagaimana jika mereka benar-benar ingin mengambil alih semuanya? Bagaimana jika mereka ingin menjatuhkan kita?"
Bu Clarissa menenangkan suaminya, "Kita tidak boleh berprasangka buruk terlebih dahulu. Biarkan kita bicara dengan mereka, dengarlah alasan mereka, dan cari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini."
Sementara itu, Nara, Farel, dan Sonia juga berbicara di ruangan Nara. Mereka merasa terluka dan bingung dengan situasi yang terjadi.
Nara mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini. "Kita harus berbicara dengannya, menjelaskan alasan kita, dan mencoba membuatnya mengerti. Kita tidak bisa membiarkan konflik ini berlarut-larut. Keluarga kita perlu bersatu."
Bu Sonia menambahkan, "Kita mungkin telah membuat kesalahan di masa lalu, tapi kita berdua juga berusaha untuk memperbaiki semuanya. Kita harus memberikan kesempatan pada diri kita sendiri untuk belajar dan tumbuh bersama."
"Ibu, Nara, Kenapa kalian bersikeras ingin memperbaiki hubungan dengannya? Aku tidak mengerti jalan pikir kalian." ketus Farel heran.
__ADS_1
Sonia mengangguk, air matanya berlinang. "Aku takut aku akan kehilanganmu, Farel. Aku takut dia benar-benar mengusirku dari kehidupan mu."
"Nyonya, mari kita bersama-sama mencari solusi terbaik. Kita tidak ingin ada yang merasa terusir atau kehilangan," ucap Nara dengan lembut.
Setelah berbicara dengan hati yang jujur, Nara, Farel, dan Sonia memutuskan untuk menghadapi Pak Abraham dengan kejujuran dan mengungkapkan maksud baik mereka. Mereka percaya bahwa hanya dengan berbicara terbuka dan tulus, mereka mungkin bisa menemukan cara untuk meredakan ketegangan dan memperbaiki hubungan keluarga.
Pada akhirnya, ketika Bu Clarissa mengetahui situasi yang sebenarnya, ia berusaha untuk menjadi penghubung antara Pak Abraham, Nara, Farel, dan Sonia. Dia mengatur pertemuan keluarga yang penuh kejujuran dan ketulusan.
Dalam pertemuan itu, semua anggota keluarga akhirnya saling mendengarkan satu sama lain. Nara, Farel, dan Sonia dengan tulus mengungkapkan penyesalan dan niat mereka untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga. Mereka juga membantah tuduhan yang tidak benar dan menjelaskan bahwa mereka ingin bersatu dan menjaga keutuhan keluarga dengan melupakan masa lalu.
Pak Abraham merasa tergugah oleh ketulusan mereka. Meskipun emosinya masih sulit untuk dikendalikan, ia mulai membuka hati untuk mendengarkan alasan mereka. Dia juga menyadari bahwa sebagai kepala keluarga, tanggung jawabnya adalah untuk mencari jalan menuju perdamaian dan kebahagiaan bagi semua anggota keluarga.
Lama kelamaan, suasana menjadi lebih damai dan penuh pengertian. Masing-masing anggota keluarga menyadari bahwa kesalahan di masa lalu harus ditinggalkan, dan mereka harus fokus pada masa depan yang lebih baik.
Dengan dukungan dari Bu Clarissa dan Bu Sonia, Pak Abraham akhirnya memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Nara, Farel, dan Sonia. Meskipun belum sepenuhnya sembuh, langkah pertama menuju rekonsiliasi telah diambil.
__ADS_1
Keluarga ini masih harus melalui perjalanan yang penuh dengan tantangan untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan sejati. Namun, mereka semua belajar bahwa cinta, kesabaran, dan komitmen adalah kunci untuk memperbaiki hubungan yang pernah retak. Bersama-sama, mereka bertekad untuk melewati setiap rintangan dan mencari jalan menuju harmoni dalam keluarga mereka.